Ferrari Ferrari

Kamis, 23 Februari 2012 – 14:43 WIB

jpnn.com - HOTMAN Paris Hutapea memang lihai menggiring jawaban dengan pertanyaan jebakan untuk menemukan kata kunci. Itulah seni dan kepintaran seorang pengacara. Tetapi Menpora Andi Mallarangeng yang berpengalaman menjadi juru bicara Presiden SBY itu juga tidak kalah cerdik. Karena itu tanya-jawab di persidangan kasus dugaan korupsi Wisma Atlet Sea Games Palembang, dengan terdakwa Nazaruddin kemarin mirip sirkuit F-1.

Saling menyalip, saling menelikung, saling berbelok. Menarik, mengamati komunikasi persidangan yang sarat dengan bahasa-bahasa hukum. Andi terlihat sangat berhati-hati berbicara. Dia berusaha melarikan diri, dari pertanyaan bernuansa hukum ke bidang olahraga. Termasuk saat pertemuan dengan Angie, yang diperkenalkan dengan veteran olahraga, mantan atlet PON I di Solo yang masih hidup.

Dia tahu, sedang menjadi fokus perbincangan dan pengamatan publik. “Saudara Saksi (baca: Andi Mallarangeng, red), apakah tahu bahwa Choel Mallarangeng membeli Ferrari California warna merah di show room Pondok Indah? Adik saudara saat itu membawa uang cash Rp 6 M. Padahal, seharusnya mobil itu untuk saya? Tapi karena adik saudara membawa cash, maka saya kalah.

Saya baru mendapatkannya dua bulan kemudian. Apakah saudara pernah melihat mobil itu?” tanya Hotman Paris. Seluruh isi ruang sidang pun bengong sejenak. Seperti terhenti jantungnya, sedetik. Kaget, bercampur heran dan bingung.

:TERKAIT Apa maksudnya? Apa hubungannya? Ini sidang sedang menghadirkan Andi Mallarangeng, tidak ada kaitannya dengan Choel Mallarangeng? Apalagi soal Ferrari? Show room di Pondok Indah? Ini sidang kasus dugaan korupsi yang serius, dan menyita perhatian jutaan orang yang menonton live di TV? Lelucon macam apa lagi itu? Pertanyaan orang menjadi: Ini Hotman apa sedang ber-acting menyombongkan diri sebagai pengacara kaya raya, dan duit Rp 6 M itu tidak terlalu memberat isi kantongnya.

Atau dia sedang pamer, habis membeli Ferrari California? Atau ingin mengumumkan kepada dunia, bahwa dia adalah seorang yang berselera tinggi, sporty, modern, hobi ngebut, sebagaimana orang menggambarkan karakter mobil berlogo kuda jingkrak itu. Andi tidak terpancing. Pria berkumis itu menjawab normatif dan dingin-dingin serius.

“Saya tidak pernah mengurusi mobil-mobil apa yang dia punya,” ucap kakak Choel Mallarangeng yang lahir di Makassar Sulsel, 14 Maret 1963, ini. Seperti biasa, intonasi Andi pun sedikit meledak-ledak, mirip ketika dipojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis wartawan di Istana Negara waktu membentengi komunikasi politik SBY waktu itu.Bukan Hotman Paris kalau putus asa.Doktor Hukum Kepailitan ini pun mencari lubang paling dekat dengan pertanyaan pertama di atas. “Apakah Saudara Saksi pernah ke rumah Choel?” tanya lawyer berambut panjang itu.

Tentu, atas pertanyaan itu, muncul beragam spekulasi, mau digiring ke mana jawaban yang dikehendaki Si Hotman? Lagi pula, sebagai kakak, datang ke rumah adiknya, itu kan hal sangat lumrah? Apa korelasinya dengan sidang kasus dugaan korupsi itu? Andi yang juga Doctor of Philosophy di bidang ilmu politik dari Northern Illinois University (NIU) Dekalb, Illinois, AS itu pun juga menjawab ringan: "Ya saya pernah ke rumah adik saya.

" Sebuah jawaban datar dan sulit diketahui benang merahnya dengan Wisma Atlet Palembang. Maka, atas jawaban itu, Hotman Paris Hutapea menebak dengan statemen: “Saat itu, Anda melihat mobil Ferrari tipe California itu di garasi? Hotman lagi-lagi merusak konsentrasi Andi dengan mobil yang digambarkan dalam film animasi Cars berwarna merah dan bernama McQueen itu. Tentu, pertanyaan yang terus mendorong ke Ferrari itu dijawab dengan tuntas oleh Andi, bahwa dirinya sama sekali tidak tahu menahu, dan tidak ada urusannya dengan mobil milik Choel.

Kali ini bukan Andi Mallarangeng yang sewot dengan pertanyaan Hotman Paris soal otomotif itu. Majelis hakim menyemprit pengacara Nazaruddin itu, dan mengingatkan agar pertanyaanya mengarah ke Wisma Atlet. Bukan soal mobil Ferrari yang pernah berjaya di arena F-1 bersama Michael Schumacher itu. Hotman mirip jurnalis, memancing pertanyaan yang jaraknya cukup jauh dan tidak terdeteksi, dari ekspektasi jawaban yang diinginkan. Pertanyaan sarat jebakan, untuk mengungkap kebenaran faktual.

Pertanyaan sederhana, yang jawabannya bisa mengaitkan satu frame dengan frame lain dalam satu film. Untuk menyusun pertanyaan semacam itu, biasanya seorang jurnalis sudah memiliki referensi cukup akan peristiwa yang sedang diinvestigasi. Jika jawaban satu dengan jawaban lain dirangkai, akan menghasilkan kesimpulan lebih jelas. Kalau dalam seni lukis, pertanyaan itu untuk menyambung dan menyusun mozaik yang berhamburan, menjadi potret lukisan utuh.

Mozaik itu baru diketahui, ketika Hotman menjelaskan kepada Majelis Hakim, akan maksud dan tujuan pertanyaan soal mobil Ferrari itu. Yakni, untuk mencari klik antara kesaksian Mindo Rosalina Manulang alias Rosa, yang mengaku memberikan uang Rp 20 M kepada Choel Mallarangeng, terkait proyek Hambalang, pada sidang sebelumnya.

Hotman mengamati, jarak waktu antara pemberian uang itu, dengan pembelian Ferrari secara cash, Rp 6 M, di Pondok Indah. Dia menduga, sebagian dari dana Rp 20 M itu sudah menjadi mobil mewah bernama Ferrari. “Apakah ini tidak relevan?” serangan balik Hotman. Haha.. bisa aja wartawan, eh pengacara! (*)

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi-Direktur Indopos dan Wadir Jawa Pos.


BACA ARTIKEL LAINNYA... Sensasi Terbang

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler