Festival BMW Biak 2017 Pecahkan Tiga Rekor

Minggu, 02 Juli 2017 – 11:59 WIB
Korinus Arwam saat berjalan di atas batu barapen yang panas di Hanggar Lanud Manuhua Biak pada pembukaan Festival Biak Munara Wampasi I tahun 2012. Foto: Dok. Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor

jpnn.com, BIAK - Pembukaan Festival Biak Munara Wampasi (BMW) ke-5, Sabtu (1/7) berlangsung meriah. Perhelatan yang digelar hingga 4 Juli 2017 di Nirmala Beach Hotel, Biak, Papua itu dibuka langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise.

Acara yang juga didukung Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata (Kemenpar) itu juga sukses mendapatkan pengakuan dunia. Festival yang masuk ke dalam Calender of Events Kemenpar itu mendapatkan penghargaan dari dalam dan luar negeri.

BACA JUGA: Festival Obiang Zumba di Batam Sukses Menggoyang Wisman Enam Negara

Penghargaan-penghargaan itu antara lain Official World Record Certificate sebagai Largest Traditional Boat dengan ukuran  terbesar 30 Meter dan 1000 drum tifa dalam acara pembukaan. Penghargaan tersebut dikeluarkan oleh www.recordholdersrepublic.co.uk

Sementara penghargaan kedua adalah dari Museum Rekor Indonesia (Muri). Yakni penghargaan untuk Bupati Biak Thomas Alfa Edison sebagai Penggagas Perahu Tradisional Terbesar dan 1000 Drum Tifa. Sedangkan penghargaan yang terakhir adalah untuk penyelenggara Perahu Tradisional Terbesar dan 1000 Drum Tifa Dewan Kesenian Biak di perhelatan BMW 2017 tersebut.

BACA JUGA: Genjot Pariwisata Biak, Kemenpar Dukung Lokakarya Pengembangan Pariwisata

"Terima kasih kepada Kementerian Pariwisata yang telah konsisten dan terus menerus mendukung acara festival kami ini, terutama kepada bapak Menteri Pariwisata yang diwakilkan kepada Ibu Deputi (Esthy Reko Astuti, red). Berkat dukungan Kemenpar, kami percaya bahwa pariwisata akan menjadi sektor unggulan di Biak,"ujar Thomas dalam sambutannya. 

Thomas menambahkan, penghargaan-penghargaan tersebut diharapkan agar Biak selain semakin dikenal di domestik dan juga menjadi dikenal di mata dunia. “Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak terkait agar Biak semakin banyak didatangi oleh maspakai-maskapai dalam dan luar negeri, karena bandara sudah internasional, tinggal kami menyiapkan destinasi semakin baik dan sumber daya yang segera siap,"kata Thomas.

BACA JUGA: Kalahkan Thailand, Indonesia Lebih Dilirik Wisman Prancis

Dalam acara pembukaan, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti mendapatkan kehormatan membuka festival. Perempuan berhijab itu dalam sambutannya mengatakan bahwa Biak harus konsisten mengadakan even seperti BMW 2017.

Event itu harus digelar setiap tahun dan dipublikasikan di semua elemen media terutama di dunia digital. Dan yang terpenting adalah persiapannya harus matang.

"Apalagi acara ini punya atraksi budaya yang cukup populer seperti Apen Beyeren yang berjalan di atas api. Ini harus dikemas dengan kelas dunia, agar wisatawan nusantara datang bahkan wisatawan mancanegara juga tertarik," ujarnya.

Esthy juga mengharapkan Biak memikirkan skala prioritas untuk mendukung pariwisata Indonesia. Yakni dengan memikirkan air connectivity, go digital dan homestay yang memadai untuk promosi dan menyambut wisatawan.

Festival BMW juga harus memiliki hakikat di mana kebutuhan aksebilitas, amenitas dan atraksi harus terus dikebut oleh pihak-pihak terkait. "Kesuksesan sebuah event selalu disinergikan dengan pentahelix: ABCGM, yaitu akademisi, bisnis, community, government dan media. Ini juga harus terus ditingkatkan," kata Esthy.

Sekadar informasi, ciri khas Festival BMW yang tidak ditemukan di tempat lain adalah snapmor (menangkap ikan dengan cara menombak), Atraksi 1000 Tifa (alat musik tradisional budaya Biak), parade Wor dan Pancar (tari tradisional budaya Biak) dan upacara religi Apen Beyeren (berjalan di atas bara batu api) yang menjadi ikon Kabupaten Biak.

Dalam perhelatan itu ada  kegiatan menangkap ikan tradisional di air laut yang surut (snapmor). Atraksi budaya berjalan di atas batu panas (Apen Beyeren). Dan bagi penyuka bahari ada lomba perahu tradisional waimansusu dan wisata ke objek di Kepulauan Padaido/Aimando serta lomba foto bawah laut.

Selain itu ada juga pameran anggrek, photography tour, diving, Parade Wor Yospan, lomba lari 10 K, Tour Padaido, Workshop Photography, snapmor, dan sebagainya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut gembira dengan semua penghargaan-penghargaan maupun rekor yang diraih di BMW 2017. Karena dengan penghargaan, imbuh Arief, event tersebut akan terangkat dan dikenal wisatawan.

Pria asli Banyuwangi itu juga menambahkan,  60 persen wisman ke Indonesia karena kultur atau ingin merasakan atmosfer budaya lokal. Sisanya, 35 persen faktor alam atau nature, dan lima persen man made atau wisata buatan seperti sport event, MICE, show music dan lainnya.

"Festival BMW 2017 harus terus punya  kombinasi yang sempurna, antara culture, nature, dan man made. Karena itu value-nya akan berimbas pada destinasi-destinasi di Biak,” ujar Arief.(adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Main Lumpur, Gerobak Sapi dan Sayur Lompong, Andalan Omah Kecebong


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler