Festival Keraton Kesultanan Buton 2019 Tampilkan Beragam Acara Adat

Rabu, 16 Oktober 2019 – 12:33 WIB
Salah satu acara yang ditampilkan dalam Festival Keraton Kesultanan Buton 2019 di Baubau, Sulawesi Tenggara Foto: Kemenpar

jpnn.com, BAUBAU - Festival Keraton Kesultanan Buton 2019 yang berlangsung pada 12-17 Oktober 2019 di Baubau, Sulawesi Tenggara menyuguhkan kekayaan budaya. Beragam acara adat khas masyarakat Buton ditampilkan dalam event itu, antara lain Bubusiana Lipu, Tuturangiana Andala, hingga Poagona Lipu.

Event itu jadi rangkaian HUT ke-478 Baubau, sekaligus ultahnya yang ke-18 sebagai daerah otonom.  Acara Bubusiana Lipu digelar Selasa (15/10) di Kelurahan Kaesabu Baru, Baubau.

BACA JUGA: Peserta Famtrip TA/TO dari Oman Terpukau Pesona Danau Toba

Tradisi itu didasarkan 5 Limbo Wolio Tanah Buton. Wolio masuk dalam wilayah Baubau dan membentuk sistem pemerintahan tradisional.

Mereka menetapkan 4 limbo (wilayah kecil), yaitu Gundu-Gundu, Barangkatopa, Peropa, dan Baluwu. Atas dasar kesepakatan adat, maka dibentuklah Parabela Kaesabu. Berikutnya, ikut memprakarsai prosesi Bubusiana.

BACA JUGA: Jaga Kain Warisan Budaya, Kemenpar Gandeng Samuel Wattimena

Pelaksanaan Bubusiana Lipu biasanya ditandai dengan pemukulan kendang. Yang unik, penentuan waktu ritual didasarkan arah kepala ayam yang disembelih tokoh adat. 

“Masyarakat Buton memiliki banyak ritual adat. Semuanya jadi bentuk harmoni. Pembelajaran untuk terus menjaga keseimbangan dengan alam,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Baubau Ali Arham, Selasa (15/10).

Adapun Poagona Lipu digelar di Kelurahan Sukanaeo, Baubau, pada Senin (14/10). Digelar di Pulau Makassar, Poagona Lipu menjadi ritual selamatan atau ruwat bumi. Sebab, tanah telah memberikan banyak kehidupan bagi masyarakat.

Selain doa-doa, Poagona Lipu menampilkan beragam sesaji berupa hasil pertanian. Ada padi, jagung, singkong, ubi jalan, juga kelapa.

“Beragam ritual adat tentu menjadi kekuatan dan daya tarik festival ini. Ritual tersebut mengajarkan banyak pengetahuan, khususnya bagaimana mengelola alam. Kalau keseimbangan tercapai, maka hidup akan tenang. Berkah mengalir dari Tuhan melalui kekayaan alam, baik di darat maupun di laut. Baubau kaya potensi baharinya,” kata Ketua Tim Pelaksana Calendar of Events Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuty.

Festival Keraton Kesultanan Buton 2019 juga menggelar Tuturangiana Andala. Tradisi untuk menjaga harmoni di laut di itu digelar pada Senin (14/10).

Tuturangiana Andala jadi ajang pelarungan sesaji di laut. Selain keselamatan, masyarakat berharap laut tetap menjadi pintu rizki bagi mereka.

“Daratan dan lautan menjadi pintu rejeki bagi banyak masyarakat di nusantara. Mereka juga memiliki ritual dengan jenis seperti Tuturangiana Andala. Piranti sesajinya juga khas, termasuk Tuturangiana Andala ini,” jelas Esthy lagi.

Pelaksanaan Tuturangiana Andala sangat khas. Sesaji diletakkan ke dalam 4 wadah dan di atasnya diberi beragam kue kering khas Buton.

Berikutnya, seekor kambing disembelih. Darahnya diletakan ke dalam batang bambu.

Batang berisi darah kambing lalu diletakkan bersama sesaji kue kering tersebut dan buah kelapa muda. Sesaji lalu diangkut memakai perahu dan diletakkan pada 4 penjuru angin.

“Acara-acara adat makin memperkaya festival. Bagaimanapun, festival tersebut menjadi ungkapan doa dan rasa syukur atas kekayaan Baubau yang melimpah. Ritual itu juga menjadi refleksi penyadaran untuk terus menjaga kelestarian alam. Kalau alam lestari, maka semakin bermanfaat bagi semua,” tegas Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani.

Rangkaian acara adat ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Ritual Tuturangiana Andala dan Poagona Lipu diikuti seluruh masyarakat Pulau Makassar yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. 

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya memaparkan, beragam ritual adat akan tetap lestari dan dilakukan turun-temurun. Sebab, masyarakat memiliki kesadaran luar biasa.

“Masyarakat Buton memiliki budaya yang beragam. Mereka memiliki ritualnya untuk memuliakan alam beserta seluruh kekayaannya. Harmoni manusia dan alam akan terus terjadi, apalagi masyarakat di sana memiliki kesadaran. Mereka layak diapresiasi karena melestarian beragam potensi alam dan budaya,” ujar Menpar Terbaik ASEAN itu.(adv)


Redaktur & Reporter : Antoni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler