Forum Ilmiah Dokter Umum: MSG Tidak Bikin Orang Bodoh

Sabtu, 25 Agustus 2018 – 13:43 WIB
Dokter Johannes Chandrawinata, MND, SpGK selaku dokter gizi saat memaparkan review terbaru tentang MSG dalam Forum Ilmiah Dokter Umum di Surabaya. Foto: Istimewa

jpnn.com, SURABAYA - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bekerja sama dengan Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) menyelenggarakan forum ilmiah bertajuk Clinical Management & Implications in Primary Care Update. Forum ilmiah yang digelar berbarengan dengan event “Surabaya 2018 Physician Forum” itu akan selenggarakan selama 2 hari, 25-26 Agustus 2018 di Dyandra Convention Center. 

Sebanyak 550 dokter umum di Surabaya baik itu dokter rumah sakit, Puskesmas, klinik, maupun dokter swasta turut menghadiri event tersebut.  Dipastikan, para peserta forum akan dapat meningkatkan sinergi, saling dukungan dan sinergi kerjasama beberapa pilar utama dari aspek pelayanan primer yakni dokter umum sebagai stakeholder utama, aspek kefarmasian serta industri kesehatan dan layanan pendukung kesehatan serta regulasi penanganan layanan primer.

BACA JUGA: Informasi Kandungan dalam Makanan Memengaruhi Cita Rasa

Dokter Johannes Chandrawinata, MND, SpGK selaku dokter gizi klinik di RS Melinda Bandung, mengisi sesi di hari pertama setelah makan siang. Dia membawakan topik “Fakta-fakta ilmiah keamanan MSG terkait dengan isu-isu kesehatan”. Dengan membawa review terbaru tentang MSG dari jurnal Elsevier Pathophysiology tahun 2017 berjudul “Update on food safety of monosodium L-glutamate (MSG)” review dari peneliti Helen Nonye Henry-Unaeze. 

BACA JUGA: Profesor IPB Paparkan Fakta Tentang MSG

Dokter Johannes memaparkan secara rinci fakta-fakta ilmiah MSG dengan isu-isu kesehatan yang beredar di masyarakat. 

“Banyak mitos tentang bahaya MSG berasal dari penelitian pada hewan yang tidak relevan untuk diterapkan pada manusia,” ungkap dr. Johannes.

BACA JUGA: Mecin Tidak Berbahaya Dikonsumsi, Ini Penjelasannya

“Faktanya, badan kesehatan dunia dan Indonesia menyatakan MSG sebagai bahan tambahan pangan (BTP) yang aman digunakan dengan ADI (acceptable daily intake) tidak ditentukan alias boleh dipakai secukupnya,” tambah dr. Johannes menegaskan.

Menurut dr. Johannes, glutamat baik yang berasal dari MSG ataupun sumber alami diserap dan dimetabolisme sama didalam tubuh. “Karena 95 persen glutamat dalam makanan digunakan sebagai sumber energi dalam usus halus,” kata dr. Johannes. 

Dia juga memaparkan asupan MSG di berbagai negara, seperti di Amerika dan Eropa sebesar 0.3-1.0 gram per hari, Taiwan sebesar 1.5-3.0 gram per hari, Jepang sebesar 1.1-1.6 gram per hari, dan Korea Selatan sebesar 1.6-2.3 gram per hari.

“Untuk Indonesia sendiri, berdasarkan penelitian dari SEAFAST CENTER di kota Bogor dan Jakarta, asupan MSG berkisar antara 0.74-1.10 gram per hari. Jumlah ini masih lebih sedikit dibanding asupan di negara-negara maju seperti Taiwan, Jepang dan Korea Selatan,” jelas dr. Johannes mematahkan isu MSG dengan kebodohan atau yang sekarang dikenal dengan generasi micin.

Sosialisasi mengenai fakta-fakta ilmiah MSG secara ekstensif dilakukan oleh Ajinomoto, dengan tujuan agar para dokter yang merupakan key opinion leader (KOL) yang berpengaruh di masyarakat Indonesia. Sosialisasi kepada dokter ini sudah dilaksanakan di Jakarta dan selanjutnya akan dilakukan di Semarang pada September 2018.

Eksistensi Ajinomoto di dunia yang sudah mencapai 110 tahun dan 49 tahun di Indonesia, diperlukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat sebagai salah satu shared value dari Ajinomoto. 

Ajinomoto Shared Value (ASV) bisa berkontribusi bagi masyarakat terutama di bidang gizi dan makanan. Sejalan dengan pesan perusahaan Ajinomoto “Eat Well, Live Well”, Ajinomoto akan terus menyebarkan pesan “makan yang baik untuk menunjang kehidupan yang lebih baik”. 

“Kegiatan ini merupakan aktivitas nyata dari Ajinomoto shared value (ASV), di mana fokus kami tidak hanya pada aspek penjualan saja, tapi juga ingin memberikan kontribusi positif untuk masyarakat Indonesia. Peningkatan sisi bisnis juga meningkatkan aspek sosial dari masyarakat Indonesia. Selain itu, para guru dapat memahami fakta-fakta ilmiah keamanan pangan, khususnya MSG dan kemudian mensosialisasikannya kepada para siswanya. Sehingga isu-isu MSG yang tidak benar bisa diluruskan dan yang paling penting, perlunya pemahaman untuk pengambilan informasi harus berdasarkan fakta-fakta ilmiah," tandas Muhammad Fachrurozy selaku PR Departemen Manager Ajinomoto. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Benarkah MSG Berbahaya Bagi Kesehatan Otak?


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler