Freeport dan Newmont Butuh Satu Smelter Lagi

Rabu, 10 September 2014 – 05:35 WIB

JAKARTA - Pemerintah terus mendorong investasi smelter di Indonesia. Hal ini seiring bertumbuhnya proyeksi kinerja sektor mineral dan batu bara (minerba).
Dari PT Freeport Indonesia (PTFI) dan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), Indonesia butuh tambahan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) dengan kapasitas 1,2 juta ton konsentrat per tahun.

Dirjen Minerba Kementerian ESDM Sukhyar menyatakan, investor seharusnya mempersiapkan proyek fasilitas pemurnian tembaga mulai sekarang. Sebab, proyek smelter dari Freeport berkapasitas 1,6 juta ton per tahun tak bisa menampung semua produksi dua perusahaan itu.

BACA JUGA: Sarankan Pemerintah Cermat Berhitung sebelum Naikkan Cukai Rokok

"Freeport kan sedang mengembangkan area pertambangan bawah tanah. Sedangkan Newmont punya rencana pengembangan Blok Elang," ungkapnya di Jakarta kemarin (9/9).

Karena itu, dia mengimbau investor segera mempersiapkan proyek smelter dari sekarang. Menurut dia, potensi produksi yang bakal tak tertampung mencapai 1,2 juta ton konsentrat tembaga.

BACA JUGA: Rizal Ramli Usulkan Subsidi Silang untuk BBM

Kelebihan produksi itu diperkirakan terjadi pada 2021. Untuk mengakomodasi kelebihan tersebut, idealnya proyek sudah mulai dipersiapkan tahun ini.

"Belum lagi ada tambahan dari Gorontalo Mining. Proyeksinya bakal berproduksi pada 2021. Bisa menambah produksi nasional 200 ribu ton per tahun. Nah, harus dimulai dari sekarang (proyeknya) supaya bisa langsung beroperasi saat itu," tambahnya.

BACA JUGA: Pengganti Karen Harus Tahan Banting

Terkait rencana ekspor tahun ini, dia mengaku terus berkomunikasi dengan PTFI dan PT NNT. Kata dia, perwakilan dua perusahaan sudah dipertemukan di kantornya Senin malam (8/9) lalu. Dari sana, pihaknya membahas pembagian jatah ekspor konsentrat tembaga yang dilakukan tahun ini.

Seperti diketahui, ekspor konsentrat mereka dibatasi sesuai kapasitas proyek smelter Freeport yakni 1,6 juta ton. Dari kapasitas tersebut, kuota yang tersisa hanya 900 ribu ton.

"Mereka sudah duduk bersama dan membicarakan tentang itu. Prinsipnya tahun ini tidak boleh lebih dari 1,6 juta ton. Mereka sudah sepakat soal angka," jelasnya. Sayang, Sukhyar tak mau bicara berapa tepatnya pembagian kuota ekspor tersebut. (bil/oki)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Alasan Karen Ngajar di Harvard Dinilai Akal-akalan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler