FSGI Ungkap Data Kekerasan Seksual pada Anak di Sekolah Sepanjang 2023, Korbannya, Ya Tuhan

Minggu, 19 Februari 2023 – 10:10 WIB
Ilustrasi korban kekerasan seksual. Foto: Dokumen JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat sepanjang 2023 ini sudah terjadi 10 kasus kekerasan seksual pada anak di satuan pendidikan, baik sekolah berasrama maupun yang tidak.

Dari 10 kasus yang berlangsung selama Januari - 18 Februari itu, sembilan di antaranya sudah dilaporkan ke polisi dan sedang diproses, sedangkan 1 kasus di Gunung Kidul diselesaikan dengan memindahkan kelas mengajar dan pengurangan jam mengajar oknum guru pelaku.

BACA JUGA: Menteri PPPA Soroti Kasus Kekerasan Seksual terhadap Anak oleh Ayah Tiri di Sidoarjo

Namun, Dewan pakar FSGI Retno Listyarti mempersoalkan bentuk sanksi terhadap pelaku, karena tidak mempertimbangkan kondisi psikologis korban yang masih bersekolah disitu dan kemungkinan besar setiap hari  bertemu oknum guru pelaku di sekolahnya.

"Sementara, guru pelaku tetap berpotensi melakukan hal yang sama tetapi pada anak yang lain. Keputusan hukuman semacam itu tidak akan menimbulkan efek jera pada pelaku dan tidak berperspektif melindungi anak di lingkungan sekolah," kata Retno melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (19/2).

BACA JUGA: ILO Luncurkan Panduan Mencegah Kekerasan Seksual di Tempat Kerja

FSGI menemukan bahwa sebanyak 50 persen kasus kekerasan seksual terjadi di jenjang SD/MI, 10 persen di jenjang SMP, dan 40 persen di Pondok Pesantren (Ponpes). Dari 10 kasus tersebut, 60 persen satuan pendidikan tersebut berada di bawah kewenangan Kementerian Agama dan 40 persen wewenangnya Kemendikbudristek.

Retno memaparkan bahwa pelaku kekerasan seksual di lingkungan satuan pendidikan itu ada 10 orang laki-laki. Adapun status pelaku, mayoritas pimpinan Ponpes dan guru dengan persentase masing-masing 40 persen, kepala sekolah dan penjaga sekolah masing-masing 10 persen.

BACA JUGA: Pilot Susi Air Disandera KKB, Dahlan Iskan: TNI Tahu Kapan Harus Memainkan Peran

"Korban total 86 anak, baik laki-laki maupun perempuan. Anak korban laki-laki sebanyak 37,20 persen dan anak perempuan mencapai 62,80 persen," ucap Retno yang mantan komisioner KPAI itu.

Dalam siaran yang sama, Sekjen FSGI Heru Purnomo menyebut kekerasan seksual pada anak yang berbasis daring pada tahun 2023 ada 1 kasus (10 persen) dan 90 persen kasus dilakukan secara luring oleh pelaku.

Kekerasan seksual berbasis daring yang terjadi di awal 2023 ini menyasar anak usia SD dengan jumlah korbannya  36 anak, dan  22 anak dari 36 tersebut merupakan teman satu sekolah yang sama,  laki-laki maupun perempuan.

"Korban rata-rata berusia 12 tahun, dikenal pelaku melalui akun facebook. Modus pelaku mengirimkan konten pornografi melalui grup WhatsApp korban dan video call pribadi dengan meminta anak korban melepas pakaiannya," beber Heru.

Dari data FSGI,  wilayah kejadian kekerasan seksual terhadap anak tersebut berada di lima provinsi  dan 10 kabupaten/kota dengan rincian:

Provinsi Lampung : kabupaten Mesuji, Lampung Tengah, Lampung Selatan, Lampung Utara dan Lampung Barat;

Provinsi Jawa Tengah : Kabupaten Batang dan Kota Semarang;

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta : Kabupaten Gunung Kidul;

Provinsi Jawa Timur : Kabupaten Jember;

Provinsi DKI Jakarta : Kota Jakarta Timur

Heru menyebut dari data tersebut diketahui 50 persen kasus kekerasan seksual pada anak di satuan pendidikan terjadi di provinsi Lampung. 20 persen di Jawa Tengah dan 10 persen masing-masing terjadi di DIY, Jawa Timur, dan DKI Jakarta.

"Ini tentunya memerlukan pendalaman lebih jauh terkait factor sebab akibatnya dan upaya menanggulanginya," ujar Heru.(fat/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler