Gajah Panamtu Marah Sekali akibat Spermanya Disedot Dua Kali

Kamis, 12 Mei 2016 – 14:21 WIB
Dua gajah koleksi taman wisata Waduk Gajah Mungkur, Panamtu dan Sari. Foto: Radar Solo/JPG

jpnn.com - WONOGIRI - Gajah koleksi objek wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM) bernama Panamtu yang mengamuk dan menewaskan dokter hewan bernama Esthi Octavia Wara Hapsari (25), Rabu (11/5) ternyata bukan sekali ini saja berulah. Sebab, gajah jantan itu juga pernah mengamuk hingga menewaskan pawangnya.

Seorang pawang gajah atau mahout bernama Hasan Umar (39), warga Rajabasalama Subing Putra 2, Labuhan Barat, Lampung Timur, Lampung mengungkapkan, Panamtu pada 2013 pernah mengamuk. Penyebabnya ketika hewan berbobot 5 ton itu diambil spermanya.

BACA JUGA: Tak Punya Dokter Hewan, Bonbin Bandung Lambat Selamatkan Gajah Yani

"Sekitar tahun 2013, pawang sebelum saya mati diamuk gajah (Panamtu). Saat itu gajah diambil air maninya dengan cara disuntik, tetapi kurang. Lalu diambil lagi, akhirnya gajahnya mengamuk,” ujarnya saat ditemui di kandang gajah WGM.

Hasan menduga Panamtu kembali mengamuk dan menyerang Esthi karena tergangu lampu kilat kamera. Selain itu, jarak Esthi dengan Panamtu juga terlalu dekat sehingga terjangkau oleh belalai hewan bergading itu.

BACA JUGA: Innalillah, Bu Dokter Esthi Jadi Korban Amarah Gajah

Menurutnya, jarak aman memotret gajah adalah minimal 5 meter dari objek. "Bu dokter terlalu dekat memotretnya dan pakai blitz akhirnya gajahnya marah," ujarnya.

Kabar lain juga menyebut Panamtu pernah menewaskan seorang pawang di objek wisata air panas, Guci di Tegal, Jawa Tengah. Namun, Kepala Seksi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam Titi Sudaryanti menepis informasi itu.

BACA JUGA: Sedih Banget..Sakit Kritis, Gajah Sumatra Mati di Kebon Binatang Bandung

Titi mengakui bahwa Panamtu memang pernah mengamuk di Guci. ”Ya dulu di Guci pernah mengamuk dan melukai pawangnya. Tetapi saya belum tau secara pasti riwayatnya," ungkapnya.

Titi pun wanti-wanti dan mengingatkan warga bahwa gajah di tempat wisata tetaplah binatang liar. Karenanya pawang atau pun dokter hewan juga harus sangat berhati-hati. 

"Saya juga turut berduka atas peristiwa ini. Sungguh kejadian yang tidak diharapkan," ucap Titi.

Apakah dengan kejadian tersebut izin WGM sebagai lembaga konservasi akan dicabut? Titi menyatakan, pihak BKSDA akan melakukan evaluasi. “Sekarang baru baru mengumpulkan informasi-informasi,” terang dia. (kwl/wa/jpg/ara/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mengejutkan! Bupati Rejang Lebong Komentarnya Begini


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler