Ganteng Ganteng Serigala

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Jumat, 29 April 2022 – 15:30 WIB
Ketua DPP PDIP Puan Maharani menyindir politisi ganteng tetapi tak bisa bekerja. Ilustrasi. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Ganteng-Ganteng Serigala (GGS) adalah salah satu serial sinetron paling populer di Indonesia. Diputar pada 2014, sinetron itu bertahan sampai lebih dari 500 episode. 

Kisahnya menceritakan sekumpulan anak-anak SMA yang berwajah ganteng tetapi ternyata berasal dari keluarga srigala yang punya maksud jahat terhadap manusia.

BACA JUGA: Fadli Zon Sindir Puan, Ruhut Sebut Nama Prabowo, Lantas Terbahak

Sinetron GGS menjiplak film box office sekuel ‘’Twilight Saga’’ yang dibintangi Robert Pattison dan Kristen Stewart. Film ini menceritakan tokoh Edward Cullen yang ganteng tapi keturunan vampire yang jatuh cinta kepada Bella Swan yang manusia murni.

Sinetron Indonesia tidak pernah malu menjiplak karya orang lain. Kali ini GGS bukan hanya menjiplak Twilight Saga mentah-mentah, tetapi menjiplak matang-matang, tanpa diolah langsung ditelan. Menjiplak mentah-mentah masih perlu proses mengolah, tetapi menjiplak matang-matang tidak perlu mengolah dan langsung ditelan.

BACA JUGA: Komitmen Merawat Basis PDIP, Puan: Jawa Tengah Rumah Saya

Twilight menghasilkan aktor yang mengandalkan tampang ganteng tanpa tuntutan kepiawaian akting. 

GGS juga menampilkan deretan pesinetron yang bermodal wajah ganteng dengan kemampuan akting seadanya. Dua-duanya sukses melambungkan nama bintang-bintangnya. Bedanya bintang Twilight berkembang menjadi aktor yang bagus, tetapi bintang GGS tetap begitu-begitu saja. 

BACA JUGA: Elektabilitas Puan Meningkat Karena Kinerja, Bukan Polesan Pencitraan

Robert Pattinson bermain bagus dalam ‘’The Batman’’, tetapi bintang-bintang GGS tidak terdengar prestasi aktingnya.

Fenomena jual tampang ala GGS muncul juga di dunia politik. Ada sederetan politisi ganteng yang populer dan gampang menarik perhatian publik, tetapi mereka dicurigai sebagai jual tampang saja tanpa benar-benar punya komitmen untuk bekerja demi rakyat.

Kecurigaan kepada politisi GGS itu dilontarkan oleh Ketua PDIP Puan Maharani ketika berkunjung ke Wonogiri, Jawa Tengah. 

Puan menyoroti fenomena politisi GGS yang sekarang bermunculan. Menurut Puan sekarang banyak politisi ganteng yang disukai banyak orang tetapi sebenarnya tidak bisa bekerja.

Politisi GGS itu sering muncul di media sosial dan rutin tampil di televisi. Tampilannya menarik dan menyenangkan, publik mudah terpukau dan terhipnotis. Akan tetapi, mereka tidak bisa bekerja dan tidak menunjukkan kontribusi yang kongkret kepada masyarakat. 

Publik akhirnya memilih politisi GGS karena ganteng dan menyenangkan ketimbang karena punya kualitas kerja yang mumpuni.

Puan tidak menyebut nama, tetapi sangat mudah ditebak kemana bidikan dia arahkan. Yang paling utama tentu bidikan ini mengarah kepada gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Selama ini Ganjar dianggap sebagai politisi yang paling mengancam posisi Puan untuk menjadi calon presiden atau wakil presiden pada 2024.

Ganjar ganteng, populer, dan sangat aktif di media sosial. Karena itu, gampang diduga bahwa Ganjar-lah yang dibidik Puan. 

Persaingan Puan-Ganjar sangat keras meskipun tersimpan rapi di bawah karpet. Ganjar tidak pernah merespons serangan Puan, tetapi terus bergerilya merayap melalui unggahan-unggahan di media sosial.

Bukan hanya Puan yang menyerang Ganjar. Elite PDIP seperti Bambang Pacul sudah seringkali menyerang Ganjar secara terbuka. 

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri juga gerah oleh manuver Ganjar dan mengingatkan akan ada sanksi keras kalau ada kader yang membelot.

Ancaman dan gertakan itu tidak mempan. Di arus bawah gerakan sukarelawan Ganjar makin deras. Hampir tidak ada hari tanpa deklarasi dukungan terhadap Ganjar. Para pembelot ini disebut sebagai ‘’celeng’’ oleh Bambang Pacul, tetapi mereka tidak peduli. Persaingan banteng vs celeng akan menjadi perang terbuka menjelang detik-detik krusial 2024.

Dengan berbagai manuver di media sosial itu Ganjar menjadi salah satu kandidat yang paling populer di mata publik. Ganjar tetap konsisten sebagai front runner, pelari terdepan, dalam berbagai survei mengenai calon presiden 2024. Ganjar selalu masuk dalam tiga besar berkejar-kejaran dengan Anies Baswedan dan Prabowo Subianto.

Elektabilitas Ganjar konsisten di angka dua digit dan hampir selalu di atas 20 persen. Sementara Puan belum bisa beranjak dari 1 persen atau bahkan masih berkutat di nol koma. 

Dengan perolehan semacam ini, Puan hampir selalu berada di posisi juru kunci. Perbandingan elektabilitas Ganjar dengan Puan ibarat langit dengan sumur.

Berbagai upaya untuk mendongkrak popularitas Puan sudah dilakukan, tetapi hasilnya masih nihil. Ibarat mendorong mobil mogok, posisi Puan bergeming tidak bergerak. 

Program baliho massal sudah diinstruksikan kepada seluruh kader PDIP, dan baliho bergambar Puan bertebaran di berbagai sudut kota-kota besar.

Alih-alih meningkatkan popularitas, baliho Puan malah memantik reaksi negatif. Tema-tema baliho yang jargonis dan tidak kreatif malah memunculkan cibiran dari publik. 

Tema ‘’kepak sayap kebhinekaan’’ yang menjadi tagline baliho Puan tidak mendapatkan respons positif, tetapi malah dijadikan bahan ledekan. Poster pedagang makanan dengan tema ‘’kepak sayap empon-empon’’ yang menyindir Puan malah lebih viral di media sosial ketimbang versi asli baliho Puan.

Upaya untuk mendekatkan Puan yang dianggap elitis kepada rakyat malah menjadi bumerang. Baliho Puan menanam padi di sawah di tengah hujan maunya dimaksudkan untuk menggambarkan kedekatan Puan dengan petani. Yang terjadi malah kritik luas karena baliho dianggap aneh karena menampilkan Puan menanam padi di musim hujan.

Puan tentu juga mencoba peruntungannya di media sosial, tetapi sia-sia. Mengejar popularitas Ganjar yang sudah punya follower hampir 5 juta tentu bukan perkerjaan mudah. Unggahan-unggahan Ganjar setiap saat mendapatkan jempol dan komentar positif, sementara Puan selalu susah payah untuk mendapatkan perhatian netizen.

Pundit politik menyebut Puan tidak hanya menyerang Ganjar sebagai pilitisi GGS. Beberapa politisi lain yang jadi sasaaran Puan adalah Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Sandiaga Uno. Kebetulan para politisi ini berwajah ganteng dan menarik. Mereka juga fasih bermain di media sosial.

Serangan Puan ini mendapatkan serangan balik dari netizen. Ada yang mempertanyakan kerja apa yang sudah dilakukan Puan selama ini. 

Dibanding kerja Puan kerja Anies dan Ganjar selama ini lebih konkret. ‘’ Puan tidak bisa kerja kongkret dan tidak punya pengikut di medsos," komentar seorang netizen.

Fenomena politisi ganteng sudah lama muncul di dunia politik. Bung Karno, kakek Puan, dikenal sebagai politisi yang ganteng sekaligus cerdas. Daya pikatnya terhadap publik dan perempuan tidak diragukan lagi. Susilo Bambang Yudhoyono dikenal sebagai politisi yang berpenampilan gagah dan berwibawa, banyak disukai publik terutama ibu-ibu.

Di luar negeri, kemunculan politisi ganteng menjadi fenomena yang umum. Ronald Reagan menjadi presiden ke-40 Amerika Serikat pada 1981 mengalahkan Jimmy Carter, antara lain, karena wajah Reagan yang ganteng. Sebelum menjadi politisi Reagan menjadi bintang film Hollywood.

Bill Clinton menjadi presiden ke-42 Amerika Serikat mengalahkan George H. Bush pada 1993 juga karena kontribusi wajah Clinton yang tampan. Clinton juga tercemar oleh hubungannya dengan banyak wanita karena dia memang seorang ‘’womaniser’’. Skandal Clinton dengan Monica Lewinsky nyaris membuatnya kena impeachment.

Politik di era digital akan makin banyak dipengaruhi oleh opini dan impresi para netizen. Para politisi dunia memakai akun medsos untuk mengomunikasikan gagasan-gagasannya. 

Donald Trump dikenal sebagai presiden yang paling aktif menggunakan Twitter. Posting-annya yang sering dianggap provokatif membuat akunnya di-suspend oleh Twitter.

Pertarungan kampanye komputasional dan perang digital pada pemilu presiden Indonesia 2024 tidak akan terhindarkan. Siapa pun calonnya, kalau dia tidak fasih dalam bermedsos, akan sangat sulit bersaing dengan calon yang kuat dalam jaringan medsos.

Para politisi ‘’Ganteng-Ganteng Serigala’’ itu punya peluang yang lebih terbuka ketimbang Puan, yang tidak populer di dunia nyata dan tidak dikenal di dunia maya. (*)


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler