Gunung Kidul Kembangkan Bawang Merah Ramah Lingkungan

Senin, 01 Oktober 2018 – 09:11 WIB
Kelompok Wanita Tani (KWT) Sri Rejeki di Gunung Kidul, Yogyakarta, memperlihatkan hasil panen bawang merah ramah lingkungan. Foto: dok. humas Kementan

jpnn.com, JAKARTA - Kelompok Wanita Tani (KWT) Sri Rejeki di Dusun Bedil Kulon, Desa Rejosari Kecamatan Semin, Gunung Kidul, Yogyakarta merupakan wilayah pengembangan komoditas hortikultura, khususnya tanaman bawang merah ramah lingkungan. KWT Sri Rejeki telah berhasil melakukan budidaya tanaman bawang merah ramah lingkungan seluas 2 ha.

Pada 27 September 2018 lalu dilakukan panen perdana dengan hasil yang cukup membanggakan. Panen tersebut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gunungkidul Bambang Wisnu Broto, Kepala UPTD BPTPH Daerah Istimewa Yogyakarta dan perwakilan Ditjen Hortikultura Kementrian Pertanian (Kementan), Endik Mulyadi.

BACA JUGA: Solok Didorong Jadi Kawasan Bawang Merah Berbasis Korporasi

Endik Mulyadi mengatakan Kementan mendukung penuh budidaya bawang merah secara ramah lingkungan. KWT Sri Rejeki Gunung Kidul kini telah ikut andil dalam mensukseskan program Kementan dalam rangka peningkatan produksi Bawang Merah.

“Direktorat Hortikultura sangat menghargai ibu ibu KWT yang menerapkan budidaya Ramah Lingkungan dalam produksi bawang merah. Ini sebuah terobosan yang bagus untuk meningkatkan produksi dan kualitas bawang merah kita,” ujar Endik di Jakarta, Minggu (30/9).

BACA JUGA: Kementan Tinjau Persiapan Peringatan Hari Pangan di Kalsel

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti menambahkan Kementan terus mendorong masyarakat untuk menanam bawang merah, bahkan Gunung Kidul yang dahulu dikenal sebagai daerah yang gersang kini mampu memproduksi bawang merah dengan kualitas yang baik. Pengembangan bawang merah dilakukan di semua propinsi untuk menjaga ketersediaan merata sepanjang tahun, sehingga harga terjaga atau stabil.

“Kementan juga mendorong petani untuk menerapkan budidaya hortikultura ramah lingkungan, sehingga akan diperoleh produk yang aman konsumsi, sehat untuk petani dan konsumen, aman untuk lingkungan, serta biaya produksi yang lebih murah, ujung ujungnya tentu pendapatan petani yang meningkat,” beber Sri.

BACA JUGA: Sapiku Meteng, Atiku Ayem

Kepala Dinas Petanian Gunung Kidul, Bambang Wisnu Broto menuturkan, Dinas Pertanian sangat mengapresiasi Kementan yang terus memberikan dukungan dalam pengembangan bawang merah. Dalam penerapan budidaya bawang merah ramah lingkungan Dinas Pertanian telah melakukan pertemuan Rembuk Kelompok dengan melibatkan stakeholder lengkap yaitu aparat dari Kecamatan dan Desa serta semua petugas lapangan.

“Petani yang terlibat dalam pengembangan bawang merah tersebut sangat antusias sehingga memberikan semangat baru bagi petugas dalam melakukan pendampingan,” tuturnya.

“Harapan dari KWT Sri Rejeki yaitu adanya fasilitas sarana irigasi yang memadai sehingga proses budidaya tanaman juga dapat dilakukan pada musim kering, tidak hanya mengharapkan air hujan,” imbuh Bambang.

Ketua KWT Sri Rejeki Wiwik Widiyasih mengatakan, budidaya bawang merah mulai dari pengolahan tanah sampai panen ini semua murni dilakukan oleh Ibu-Ibu. Budidayanya dengan menggunakan pupuk organik, agensia hayati dan pestisida nabati.

“Kendala dalam budidaya jauhnya sumber air lebih kurang 300 meter dari lahan, kami mengambil air dari kali oya dan ditampung dalam bak yang kami buat dari terpal,” ujarnya.

Lebih lanjut Wiwik jelaskan, untuk gerakan pengendalian OPT (Gerdal) dengan agensia hayati, dilakukan seminggu sekali setiap hari kamis sore. Kini berhasil panen bawang merah secara ramah lingkungan. Saat panen dilakukan umur tanaman 61 hari, dan dari hasil ubinan yang telah dilakukan produkvitas mencapai 20,6 ton/ha. Harga saat ini di tingkat petani sekitar Rp. 10.000/Kg.

“Dari perhitungan biaya produksi sekitar Rp 46.280.000 per hektare, maka dapat dibayangkan keuntungan yang dinikmati oleh KWT ini,” terangnya.

Pembinaan dan pendampingan budidaya bawang merah ramah lingkungan dilakukan oleh LPHP Bantul. Kepala Laboratorium LPHP Bantul, Paryoto menyatakan akan terus melakukan pembinaan teknis secara intensif, memperkuat kelembagaan, serta melakukan pendampingan dalam penyusunan SOP bawang merah.

“Dengan dukungan semua stakeholder diharapkan di lokasi tersebut dapat menjadi daerah pengembangan bawang merah yang ramah lingkungan,” katanya.(jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pasokan Jagung 2018 Dipastikan Aman Hingga Akhir Tahun


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler