Guru Honorer Mengeluh, Semoga Pak Anies & Bu Nahdiana Punya Hati soal PPDB Bina RW

Sabtu, 04 Juli 2020 – 12:37 WIB
Petugas mengenakan masker dan pelindung wajah di Posko Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP N 60, Jakarta, Selasa (16/6). Foto : Ricardo/JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) DKI Jakarta jalur bina RW kisruh. Pasalnya, banyak anak yang tidak bisa memenuhi syarat gara-gara tidak ada seolah negeri di RW tempat mereka tinggal.

Ironisnya, banyak anak guru honorer dan tenaga kependidikan yang tidak lulus sehingga bisa dipastikan mereka harus mencari sekolah swasta. Guru honorer di Cipinang Melayu bernama Nur adalah salah satu yang merasa dirugikan oleh kebijakan itu.

BACA JUGA: Gubernur Anies, Berikanlah Jatah 5 Persen PPDB Untuk Anak Guru Honorer

"PPDB tahun ini kacau. Anak-anak guru honorer dan tenaga kependidikan banyak yang jadi korban. Anak saya enggak bisa tembus di semua jalur karena usia serta di RW enggak ada sekolah,” kata Nur kepada jpnn.com, Sabtu (4/7).

Dia mengaku sudah mendaftarkan anaknya ke SMP negeri yang dekat dengan rumahnya. Namun, anaknya tersingkir lantaran sekolahnya tidak satu RW dengan domisili Nur.

BACA JUGA: Ribut-ribut PPDB 2020 dan Reshuffle Kabinet, Ternyata Mas Menteri sedang di Luar Negeri

"Bayangkan saja, sekolahnya dekat banget tetapi enggak bisa masuk karena beda RW. Apakah bisa jadi zonasi kelurahan, rasanya mustahil karena hari ini terakhir pendaftarannya. Menangis saya karena anak saya harus masuk negeri yang biayanya mahal," tuturnya.

Nur pun menuding Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Kepala Dinas Pendidikan DKI Nahdiana sebagai orang-orang yang tidak punya hati. Alasannya, kuota 5 persen jalur guru dibiarkan kosong karena syaratnya hanya untuk guru SMP dan SMA.

BACA JUGA: Ganjar: Terima Kasih untuk Orang Tua dan Murid yang Jujur saat PPDB

Menurut Nur, seharusnya jalur itu diberikan kepada guru honorer dan tenaga kependidikan di seluruh sekolah DKI. Dengan demikian kebijakan itu akan meringankan para guru honorer dan tenaga kependidikan yang pendapatannya tidak seberapa.

"Kami sudah jadi abdi negara tetapi tidak diberikan kesempatan untuk menyekolahkan anak kami di sekolah negeri. Berapa sih gaji kami, apalagi saya hanya sendiri yang harus membiayai sekolah anak," ucapnya dengan nada lirih.

"Kalau Pak Anies dan Ibu Nahdiana masih punya rasa welas asih, tolong lihatlah kami guru-guru honorer dan tenaga kependidikan. Berikan kami kesempatan untuk menyekolahkan anak-anak kami di sekolah negeri. Kami tidak mampu bayar sekolah swasta," sambung Nur.(esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler