Harapan untuk Tujuh Dokter yang Bakal Duduk di Senayan

Selasa, 20 Mei 2014 – 08:59 WIB

HASIL pemilu legislatif 2014 sudah diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), kita juga bisa mengetahui siapa-siapa dari 560 anggota legislatif baru untuk periode 2014-2019 termasuk perolehan suara yang didapat yang mengantarkan mereka ke Senayan.  
-----------
Dr. Ari Fahrial Syam- Dosen, Praktisi Kesehatan, Wakil Ketua PB PAPDI
----------
Berbagai analisa dibuat dari wajah-wajah anggota legislatif baru  yang akan duduk di Senayan untuk periode keanggotaan DPR pusat 2014-2019. Berbagai analisa dibuat antara lain  seputar legislator perempuan, ada yang membahas legislator dari kalangan artis.

Tetapi sejauh yang saya baca tidak ada yang membahas legislator dari kalangan profesi dokter. Jika kita melihat hasil pemilu tampak bahwa jumlah legislator 2014-2019 dari kalangan dokter tidak lebih dari 10 orang.  Sejauh yang saya lihat ternyata hanya ada 7 orang dari 560 anggota DPR (1,25 %) yang berprofesi dokter dan tidak ada yang bergelar profesor.

BACA JUGA: Jokowi-JK Deklarasi Sederhana Sesuai Kepribadian

Ini berbeda dengan periode sebelumnya ada 2 profesor yang kebetulan dari partai Demokrat dan tidak lolos ke Senayan di pileg 2014 yaitu Prof Dinajani dan Prof Mahyudin.

Sebagian besar dokter yang tidak lolos ke Senayan berasal dari partai Demokrat, sehingga jelasnya keberadaan dokter di DPR berhubungan dengan kegagalan Demokrat pada pemilu legislatif 2014 ini. Sebaliknya kemenangan PDIP tidak membuat banyak dokter yang diangkat menjadi anggota DPR.

BACA JUGA: Apa Untungnya Prabowo-Hatta Disokong Golkar?

Dari 7 dokter tersebut  4 dokter merupakan anggota DPR yang terpilih kembali ke DPR yaitu Dr.Ribka Tjiptaning (PDIP-Jawa Barat), Dr.Karolina Margaret Natasa (PDIP-Kalimantan Barat), Dr.Verna Gladies Merry Inkiriwan (Partai Demokrat-Sulawesi Tengah) dan Dr.Charles J.Mesang (Golkar-Nusa Tenggara Timur).

Jika melihat perolehan suara yang dicapai ternyata  Dr.Karolina  merupakan anggota DPR daerah pemilihan Kalimantan Barat dengan perolehan suara terbanyak dari 560 anggota DPR terpilih yaitu meraih 397.481 suara.

BACA JUGA: Internal Hanura Panas, HT Terancam Sanksi

Dari 7 orang anggota DPR terpilih ini, hanya seorang yang berprofesi spesialis yaitu Dr.Hj Neni Moerniaeni,SpOG dari daerah pemilihan Kalimantan Timur dari partai Golkar. Satu orang dokter yang lolos ke Senayan ternyata mantan kepala daerah (Walikota Padang Panjang) yaitu Dr.Syuir Syam dari daerah pemilihan Sumbar dari partai Gerindra.

Beliau mundur dari jabatan walikota Padang Panjang untuk berjuang menuju DPR. Selama beliau menjadi kepala daerah banyak penghargaan baik tingkat nasional maupun internasional atas prestasi beliau saat memimpin Padang Panjang.

Salah satu keberhasilan beliau adalah menjadikan kota Padang Panjang sebagai kota sehat nasional, kota tertib rokok dan kota bebas penyakit menular dan keberhasilan ini menjadikan Padang Panjang menjadi  rujukan bukan saja di tingkat nasional tetapi juga di tingkat internasional.

Wajah baru dari kalangan dokter lainnya adalah Dr.Sofyan Tan dari daerah pemilihan Sumut. Beliau dikenal sebagai tokoh pendidikan  dan  beliau pendiri Yayasan Sultan Iskandar Muda yang bertema pluralisme.

Anggota DPR terpilih yang juga pendatang baru di Senayan adalah Dr. Neni Moerniaeni. Beliau 2 kali menjadi anggota DPRD Bontang dan terakhir menjadi ketua DPRD Bontang, sebelum itu beliau menjadi ketua Tim Penggerak PKK saat  beliau mendampingi  suami dr HA Sofyan Hasdam SpS menjadi walikota Bontang.

Dengan melihat tambahan 3 orang dokter ini  dengan latar belakang dan prestasi yang hebat saya berharap ketiga dokter ini bisa membawa angin segar untuk DPR yang akan datang.

Menurut saya hal yang harus diperjuangkan oleh para dokter ini di DPR adalah masyarakat Indonesia tidak terkecuali di daerah perbatasan dan terpencil harus  mendapatkan pelayanan kesehatan  yang layak baik untuk kuratif maupun pencegahan.

Dua tantangan besar kesehatan yang harus menjadi prioritas adalah dibidang preventif yaitu menghidupkan  budaya hidup sehat masyarakat yang mengurangi konsumsi gula,mengurangi konsumsi rokok dan tetap berolah raga. Katiga hal ini harus diusahakan secara sistemik meliputi berbagai bidang dan berawal dari pimpinan negara. Untuk bidang pelayanan kesehatan, tenaga dan fasilitas  kesehatan harus merata, pendistribusian tenaga spesialis khususnya 4 besar (Dokter spesialis Anak, Dokter spesialis Kebidanan, Dokter spesialis Bedah, Dokter Spesialis penyakit Dalam)  keseluruh kabupaten dan kotamadya.

Hal ini bisa terwujud jika insentif yang besar baik dari pemerintah daerah dan pusat agar ada spesialis yang bekerja di kabupaten dan kotamadya khususnya di Indonesia timur. Pemerataan pelayanan bukan saja untuk tenaga kesehatan tetapi juga untuk peralatan kesehatan dimulai dari tingkat propinsi sampai daerah tingkat 2.

Peralatan canggih dan tenaga yang trampil harus diadakan pada daerah-daerah perbatasan untuk mencegah larinya devisa karena masyarakat perbatasan berobat ke luar negeri. Semua ini akan menjadi modal dasar mengejar ketertinggalan Indonesia untuk mencapai target-target MDGs.

Akhirnya yang terpenting dan terutama DPR harus mengawasi dan tidak ikut-ikut korupsi untuk proyek-proyek pengadaan sarana-sarana kesehatan dan proyek pembangunan pelayanan kesehatan yang jumlahnya memang cukup menggiurkan. Salam sehat untuk Indonesia yang lebih sehat. (sam/jpnn)

 

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jokowi Dinilai Kurang Percaya Diri


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler