Hari Ini Jenazah Diserahkan ke Keluarga

Tangis dan Duka Iringi Kepergian Korban Insiden Sukhoi

Rabu, 23 Mei 2012 – 08:07 WIB
Pipik Dian Irawati (kanan), Istri Ust. Jefri Al Buchori menenangkan Nanit, 12, yang kehilangan ibunya, Maisyarah, staf Sky Aviation. Foto: Dhimas Ginanjar/Jawa Pos

JAKARTA- Suasana rumah sakit Polri diselimuti duka. Kemarin (22/5), sejumlah keluarga korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ100) memadati rumah sakit yang berlokasi di kawasan Kramat Jati tersebut. Mereka diberi kesempatan melihat jenazah korban untuk terakhir kalinya, sebelum dimakamkan. Tangis histeris dan duka pun mewarnai ruang forensik RS Polri.

Polisi menyediakan sebuah tenda khusus untuk keluarga yang antri melihat jenazah. Rata-rata, mereka datang sambil membawa foto semasa hidup almarhum. Ada yang menggunakan pakaian kerja, pose modeling, hingga foto keluarga. Raut muka sedih tidak bisa disembunyikan dari pihak keluarga yang antri tersebut.

Sejatinya, pihak keluarga baru diijinkan melihat jenazah sekitar pukul 13.00 WIB. Namun, sejak pukul 10.00 WIB sejumlah keluarga korban sudah memenuhi bagian belakang RS Polri untuk mendaftar dan mendapat nomor absen. Menurut prosedur, pihak keluarga mendaftar di pos antemortem untuk diminta keterangan.

Setelah itu, keluarga korban bertemu dengan para psikolog untuk menguji kesiapan mental mereka dalam melihat jenazah. Maklum, kondisi jenazah yang tidak utuh membuat keluarga rawan shock, pingsan, hingga depresi. "Karena itu dibatasi 10-15 menit, meski sudah tergolong sangat lama," ujar psikolog Mira Rumemser.

Psikolog pendamping keluarga korban tersebut menambahkan kalau jenazah terlalu lama dilihat bisa menjadi akar depresi. Ujung-ujungnya, keluarga bisa berpikiran macam-macam termasuk membayangkan bagaimana peristiwa terjadi. Hal itu, menurut psikolog lulusan Univeritas Indonesia tersebut tidak sehat.

Kepala Rumah Sakit Polri, Brigjen Pol Agus Prayitno menegaskan kalau itu sudah jadi aturan sebelum melihat jenazah. Keluarga wajib diberi penjelasan singkat soal kondisi korban. Bahwa sudah lebih dari seminggu, maka sudah membusuk. Juga tidak ada jasad yang kondisinya di atas 50 persen. "Agar tidak menimbulkan efek psikologis yang tidak kita inginkan," kata Agus.

Sebenarnya, kemarin tim psikolog mewanti-wanti kepada keluarga agar tidak membawa anak kecil untuk melihat jenazah. Alasannya, pengaruh depresi tersebut bisa lebih cepat terjadi pada anak dibawah umur. Namun, itu semua terbantahkan. Banyak keluarga yang ngeyel membawa anak demi melihat kondisi terakhir ibu atau bapaknya.

Nanit, 12, misalnya. Dia kehilangan ibunya, Maisyarah, yang menjadi kru maskapai Sky Aviation. Kemarin, dia datang bersama pamannya. Tim psikolog termasuk Ustad Jefry Al Buchori yang mendoakan jenazah dari unsur rohaniwan juga sempat melarang. Namun, Nanit mengelak dan tetap ingin melihat ibunya untuk terakhir kali.

Ternyata benar, siswa kelas VI SD itu tidak kuasa melihat jenazah ibunya yang tak lagi utuh. Air mata pun terus keluar membasahi wajahnya. Ustad Jefry yang ternyata mengenal dekat Masiyarah langsung menguatkan Nanit dan pamannya. "Saya bilang ke pamannya, dia tidak boleh goyah. Nanit butuh tempat bersandar," katanya.

Sebab, kehilangan ibu membuat Nanit harus mengarungi dunia seorang diri sejak dini. Maklum, teman bermain anak Ustad Jefry tersebut sudah terlebih dahulu ditinggal bapaknya. Kesedihan serupa juga datang dari Efrina, ibunda pramugari Sky Aviation Anggraeni Fitria. Dia menangis usai keluar dari ruang forensik.

Kesedihan membuatnya tidak kuat menggerakkan sendi-sendi kakinya. Terpaksa, dia harus dipapah oleh petugas saat menuju ruang antemortem. Beda lagi dengan Sidup Usman, 47. Bapak Dewi Mutiara, yang juga pramugari Sky Aviation tersebut memilih untuk membayangkan jenazah anaknya utuh.

"Saya menganggap yang ada itu sebagai anak saya yang sempurna. Meski tidak utuh, bayangan saya tetap melihat Dewi Mutiara seutuhnya," katanya dengan nada suara bergetar. Apalagi, di dalam peti anaknya sudah dikafani dengan baik dan rapi. Oleh sebab itu, dia dan keluarga memilih untuk tetap berdoa.

Diantara kesedihan juga muncul ketegaran. Itu diperlihatkan oleh Sikun Hadisunarto, ayah reporter Trans TV Ismiyati Soenarto yang ikut menjadi korban peristiwa mengenaskan itu. Tidak hanya tegas, kedua orang tua Ismi juga mengaku lega bisa melihat jenazah putri mereka.

"Alhamdulillah saya, istri dan keluarga sudah dibolehkan melihat jasad anak saya. Tidak ada kesulitan, dari kepolisian memberikan kesempatan sepuasnya," ujar Sikun.

Dia menambahkan, usai serah terima jenazah di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, putrinya akan dimakamkan pemakaman Griya Serdang Indah, Desa Harjatani, Kecamatan Kramatwatu, Serang, Provinsi Banten.

Makin sore tangisan itu mereda. Sebab, keluarga korban sudah melihat seluruh korban kecelakaan maut itu. Sekitar pukul 15.15, Direktur Eksekutif Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri, Kombespol Anton Castilani"mengumumkan waktu yang disediakan sudah habis. Selanjutnya, peti jenazah akan ditutup.

Tim DVI memang telah bekerja keras dalam kecelakaan nahas Rabu (9/5). Bahkan, rekonstruksi 45 bagian tubuh korban baru selesai Selasa pukul 03.00 dini hari. Meski kondisinya sangat mengenaskan karena jenazah yang ditemukan tidak mencapai 50 persen, Anton menegaskan hasil identifikasi sudah akurat.

Bagaimana dengan warga asing? Anton mengatakan tidak ada masalah berarti. Sebab, delapan warga rusia, satu Amerika Serikat, dan satu warga Perancis juga sudah dicek oleh pihak kedutaan masing-masing. Bedanya, nanti mereka akan diserahkan ke kedutaan bukan ke keluarga. "Besok (hari ini) juga ikut dibawa ke Halim," terangnya.

Nah, untuk proses hari ini akan dilakukan sejak pukul 10.00 WIB di terminal kedatangan Halim Perdanakusuma. Agendanya, penyerahan peti jenazah kepada keluarga korban SSJ 100. Upacara singkat rencananya dipimpin langsung oleh Menhub E.E Mangindaan. Sebelum ke keluarga, jenazah dari DVI diserahkan ke Basarnas, dan Menhub dulu.

Terpisah, Konsultan Sukhoi, Indra Jani mengatakan kalau jenazah warga Rusia akan disemayamkan terlebih dahulu di Halim Perdanakusumah. Rencananya, dua hari kemudian sekitar Kamis (24/5) baru dijemput pihak kedutaan. "Sudah ada pemberitahuan dari konsulat Rusia yang datang tadi (kemarin)," katanya.

Konsultan Bisnis dan Pengembangan PT Trimarga Rekatama selaku agen pesawat Sukhoi, Sunaryo menambahkan kalau peti yang menyelimuti jenazah bukan peti biasa. Sebab, sesuai instruksi tim DVI peti tersebut harus dilapisi aluminium. "Awalnya kami kira butuh peti jenazah seperti biasa, ternyata tidak," katanya.

Itulah kenapa, kemarin terlihat beberapa petugas yang mencoba menyambungkan aluminium tersebut dipinggir peti. Belum jelas apa maksudnya, kemungkinan besar itu ada kaitannya kondisi jenazah yang sudah seminggu belum dikubur. Termasuk, untuk memperkuat peti agar tidak mudah dibuka setelah ini.

Lebih lanjut dia menjelaskan kalau perusahaannya sudah menyiapkan berbagai keperluan untuk pemakaman jenazah. Termasuk kain kafan, staf untuk menangani jenazah, hingga kendaraan untuk mengantar jenazah ke luar kota juga disediakan. "Sudah siap juga untuk mengantar jenazah di luar kota," jelasnya.

Saat disinggung tentang asuransi korban, Sunaryo mengatakan belum ada update berarti. Sebab, semuanya masih dipertimbangkan oleh pihak Sukhoi. Terutama, kewajiban untuk memenuhi asuransi sesuai dengan aturan Kementerian Perhubungan. Dia hanya memastikan asuransi pasti diterima oleh keluarga korban. (ken/dim)


BACA ARTIKEL LAINNYA... Tedjowulan dan Pakubuwono XIII Berdamai


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler