Hari Kelima, Hafidz Gembira Bertemu Ayah

Transplantasi Hati Pertama Ayah-Anak

Minggu, 02 Maret 2014 – 06:16 WIB

jpnn.com - BOGOR - Operasi transplantasi hati Muhammad Sayid Hafidz, 8, memasuki hari kelima kemarin (1/3). Perkembangan secara medis maupun psikologis menunjukkan kemajuan positif. Lima hari pascaoperasi, Hafidz dipertemukan dengan sang ayah, Sugeng Kartika, 45.

Radar Bogor (JPNN Group) melaporkan, dengan mengenakan pakaian khusus pasien rawat inap, Sugeng duduk di kursi roda dan didorong petugas medis Rumah Sakit Pertamedika Sentul City (RSPSC) ke ruang ICU tempat Hafidz berada. Sugeng tidak sendiri. Sang istri, Maria Ulfa, dan si putri bungsu, Nabila Hafidz, 5, beserta keluarga lain juga mendampingi. Hingga akhirnya keluarga kecil tersebut berkumpul dalam suasana haru.

BACA JUGA: Busway Gandeng Berasap, Penumpang Pecahkan Kaca

Saat Sugeng memasuki ruang ICU, Hafidz masih tidur. Selain keluarga, pertemuan Sugeng dengan anak yang menerima donor darinya itu disaksikan beberapa tamu yang mengunjungi Hafidz. Mereka adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar serta Direktur Operasional RSPSC dr Kamelia Faisal MARS.

Maria Ulfa dengan lembut menyentuh tangan Hafidz yang masih mengenakan pakaian khusus pasien ruang ICU berwarna biru muda agar terbangun dari tidurnya. Merasakan sentuhan sang ibu, akhirnya bocah kecil itu terbangun. Melihat sang ayah di sampingnya, Hafidz langsung tersenyum dan dengan spontan mencium lengan Sugeng. Salah satu bukti bahwa Hafidz anak yang hormat kepada orang tuanya.

BACA JUGA: Ahok Bicara Politik, Bupati Banyuwangi Ungkap Penolakan Mini Market

Tanpa menunda waktu karena rasa rindu dan sayang kepada putra sulungnya, Sugeng langsung mencium pipi kanan dan kiri serta memeluk erat Hafidz. Tanpa terasa, akhirnya suasana itu mampu membuat air mata meng­alir ke pipi semua orang yang hadir di ruangan tersebut.

Hafidz tak mampu menutup-tutupi kegembiraannya. Selama ada ayahnya, Hafidz riang saat berbincang dan bercanda dengan orang-orang di sekitarnya. Saat akan difoto, misalnya, Hafidz sudah bisa mengacungkan jempol. Bukan hanya itu, saat Menteri Linda Gumelar menanyakan setelah sembuh apa yang akan dilakukan, dengan spontan dan cara anak-anak, Hafidz menjawab ingin bersepeda dengan sang adik, Nabila.

BACA JUGA: 71 RS Swasta di DKI Tak Terima Pasien BPJS

Hingga rombongan dan awak media meninggalkan ruang ICU, keluarga tersebut masih berkumpul untuk melepas kangen dan saling memberikan dukungan. Terutama agar Sugeng dan Hafidz tetap bersemangat dan terus berdoa. Menurut keponakan Sugeng, Kiki, Nabila tak ikut masuk agar tidak merepotkan. Sebab, Nabila anak yang pintar, keingintahuannya sangat tinggi, serta kakak-adik ini sangat dekat. "Banyak tanya, takut merepotkan petugas," ujar Kiki.

Saat ditanya kenapa tidak ikut menengok kakaknya, Nabila dengan spontan menjawab, “Nabil udah lihat Kak Hafidz di laptop Mas Kiki tadi. Kak Hafidz tidur ditemani Dio." Bahkan, ungkap Nabila, setelah sembuh, kakaknya akan bersepeda bersamanya di rumah.

Secara medis, Hafidz sudah menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Pada hari keempat dia sudah diperbolehkan makan dan minum serta telah mengeluarkan air seni yang normal. Menurut anggota tim dokter yang menangani Hafidz, dr Deny Handayanto SpB, memasuki hari kelima, Hafidz sudah buang air besar. “Cuma masih sedikit, belum normal," ucap dokter spesialis bedah tersebut.

Selain itu, nafsu makan dan minum Hafidz sudah mulai membaik, tidak seperti hari-hari sebelumnya. Bahkan, bocah asal Bekasi tersebut sudah dapat berganti posisi sendiri tanpa bantuan orang lain. Tidak hanya telentang di atas tempat tidur, tapi juga sudah dapat duduk dengan bersandar. "Sudah bisa duduk sendiri, tapi tetap kami bantu. Dan tetap masih dibatasi Hafidz beraktivitas walaupun cuma di tempat tidur," ucapnya bersemangat.

Kendati kondisinya sudah mulai stabil, Hafidz masih tetap berada di ruang ICU untuk lebih mendapatkan perawatan intensif. Sebab, dua minggu setelah operasi merupakan masa krusial. Waktunya adaptasi hati sebagai organ baru dengan organ lama dalam tubuh Hafidz.

Sementara itu, kondisi Sugeng sebagai pendonor hati dalam operasi transplantasi tersebut juga menunjukkan perkembangan baik secara medis maupun psikologis. Sejak hari keempat pascaoperasi hingga saat ini, Sugeng sudah mulai beraktivitas sendiri tanpa bantuan orang lain dan kursi roda. "Ada jarak tertentu Pak Sugeng menggunakan kursi roda. Seperti kemarin dari Orchid ke ruang ICU agak jauh, petugas masih pakai kursi roda," jelas Deny.

Tapi, aktivitas dalam ruang perawatan seperti menuju kamar mandi sudah dilakukan tanpa kursi roda. "Dari tempat tidur ke sofa, ke kamar mandi, tidak dibantu, sudah sendiri," ujar Kiki.

Linda Gumelar mengaku terharu melihat pertemuan keluarga Sugeng. Dengan kondisi tersebut, mereka masih dapat menunjukkan ketegaran serta saling mendukung.(ame/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jemaah Umroh Gagal, Dikarantina di Hotel


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler