Hasil Analisis LAPAN Terkait Banjir Besar di Kalsel, Mengerikan!

Senin, 18 Januari 2021 – 10:23 WIB
Personel TNI Angkatan Laut mengevakuasi korban banjir dan membantu mendistribusikan bantuan sembako kepada warga terdampak banjir di Kalsel, Minggu (17/1/2021). Foto: Dispenal

jpnn.com, JAKARTA - Hasil analisis Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menunjukkan peningkatan risiko banjir di Kalimantan Selatan disebabkan penyempitan kawasan hutan yang signifikan.

LAPAN menyebut kontribusi penyusutan hutan dalam kurun 10 tahun terakhir terhadap peningkatan risiko banjir di wilayah Kalimantan Selatan.

BACA JUGA: Banjir Makin Tinggi, Pengungsi Serbu Sekolah dan Tempat Ibadah

Data tutupan lahan menunjukkan bahwa dari tahun 2010 sampai 2020 terjadi penyusutan luas hutan secara keeeluruhan mencapai total 322 ribu hektare.

Penyempitan itu terdiri dari hutan primer 13 ribu hektare, hutan sekunder 116 ribu ha, sawah 146 ribu ha, dan semak belukar masing-masing 47 ribu ha.

BACA JUGA: Aktivis Lingkungan Prediksi Kalsel Bakal jadi Langganan Banjir Bandang

Sedangkan area perkebunan di wilayah itu menurut data perubahan tutupan lahan luasnya bertambah hingga 219 ribu ha.

"Perubahan penutup lahan dalam 10 tahun ini dapat memberikan gambaran kemungkinan terjadinya banjir di DAS Barito, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu masukan untuk mendukung upaya mitigasi bencana banjir di kemudian hari," kata Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh LAPAN M Rokhis Khomaruddin.

BACA JUGA: TNI AL Distribusikan Sembako Kepada Warga Terdampak Banjir di Kalsel

Selain itu, hasil analisis curah hujan berdasarkan data satelit Himawari-8 menunjukkan liputan awan penghasil hujan terjadi sejak 12 hingga 13 Januari 2021 dan masih berlangsung hingga 15 Januari 2021 di wilayah Kalimantan Selatan.

"Curah hujan ini menjadi salah satu penyebab banjir yang melanda Provinsi Kalimantan Selatan pada tanggal 13 Januari 2021," kata Rokhis.

LAPAN juga meneliti luas genangan akibat banjir pada 12 Juli 2020 (sebelum banjir) dan 13 Januari 2021 (saat/setelah banjir) dengan menggunakan data satelit Sentinel 1A.

Menurut hasil perhitungan, banjir menimbulkan genangan paling luas di Kabupaten Barito Kuala (sekitar 60 ribu ha) disusul Kabupaten Banjar (sekitar 40 ribu ha), Kabupaten Tanah Laut (sekitar 29 ribu ha), dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (sekitar 12 ribu ha).

Genangan juga muncul di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (sekitar 11 ribu ha), Kabupaten Tapin (sekitar 11 ribu ha), dan Kabupaten Tabalong (sekitar 10 ribu ha).

Sementara itu di Kabupaten Balangan, Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara, Hulu Sungai Utara, Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Murung Raya luas genangannya menurut data LAPAN antara delapan ribu sampai 10 ribu ha.

Tim tanggap darurat bencana LAPAN menganalisis penyebab banjir yang terjadi 12 sampai 13 Januari 2021 di Provinsi Kalimantan Selatan dengan menggunakan data cuaca dan luas tutupan lahan.

LAPAN menganalisis perubahan tutupan lahan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito menggunakan data mosaik Landsat tahun 2010 dan 2020.

Data-data yang digunakan merupakan data satelit penginderaan jauh dengan resolusi menengah. Hasil pengolahan data masih bersifat estimasi, belum dilakukan verifikasi serta validasi untuk mengetahui tingkat akurasinya. (antara/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Rasyid Ridha

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler