Hasil Reshuffle Ternyata Begitu, Sukarelawan Pendukung Jokowi Menggerutu

Rabu, 23 Desember 2020 – 21:22 WIB
Pilpres 2019: Joko Widodo saat menghadiri kampanye akbar bertema Konser Putih Bersatu di SUGBK, Jakarta, Sabtu (13/4). Foto: Fathra N Islam/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Sukarelawan pendukung Joko Widodo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 dan 2019 merasa kecewa dengan hasil reshuffle Kabinet Indonesia Maju.

Salah satu pendiri Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) Yayong Waryono menyebut reshuffle kabinet itu mengabaikan para volunter.

BACA JUGA: Menteri Kena Reshuffle Tak Usah Berkecil Hati, Masih Ada Posisi

Menurut Yayong, memang reshuffle kabinet merupakan hak prerogatif presiden. Namun, katanya, alangkah baiknya jika presiden menyerap aspirasi dari berbagai pihak, termasuk sukarelawan.

“Kami merasa ada pengabaian terhadap peran sukarelawan yang seolah hanya sebagai pemadam kebakaran dan corong penyampai pesan ke masyarakat," ujar Yayong dalam keterangannya kepada media, Rabu (23/12).

BACA JUGA: Sebelum Diumumkan Jadi Menteri, Sandiaga Uno Dihubungi Budi Gunawan

Lebih lanjut Yayong mengatakan bahwa hasil reshuffle itu justru jadi olok-olok. Sebab, Sandi yang notabene menjadi pendamping Prabowo sebagai rival Jokowi di Pilpres 2019 juga masuk ke Kabinet Indonesia Maju.

"Reshuffle ini menjadi tertawaan masyarakat yang berpikir itu adalah komedi politik, bahkan sampai muncul meme yang sangat viral di sosial media, coblos Jokowi-Maruf Amin bonus Prabowo-Sandi,”  sambung Yayong.

BACA JUGA: Reshuffle Kabinet Sebagai Kado Terbaik Buat Masyarakat di Awal Tahun 2021

Pendukung Jokowi sejak Pilkada DKI 2012 tersebut menegaskan, sukarelawan tentu akan memberikan masukan terbaik andai diajak berbicara oleh Presiden Ketujuh RI itu.

Namun, yang terjadi justru ada kesan sejumlah pihak berusaha menjauhkan Jokowi dari sukarelawan yang berjuang pada Pilpres 2014 dan 2019.

Yayong menegaskan, Presiden Jokowi butuh orang-orang yang tidak hanya memiliki kualitas dan kapabilitas, tetapi juga integritas dan loyalitas tinggi. Menurutnya, hal itu hanya dimiliki oleh sukarelawan yang memiliki kecintaan terhadap Presiden Jokowi.

Ketua umum Inti Demokrasi Kebangsaan (InDeKs) itu menambahkan, ada banyak sukarelawan pendukung Jokowi yang memiliki kualitas dan sangat mumpuni dalam bidangnya, serta tidak kalah dibanding kalangan teknokrat. Yayong menduga informasi-informasi seperti itu ini kemungkinan tidak sampai ke telinga Presiden Jokowi.

“Kerja keras kami sama sekali tidak terkait urusan jabatan, tetapi kecintaan terhadap negara ini, yang sangat percaya Presiden Jokowi dapat membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Jika dipercaya masuk pemerintahan, kami siap dan jangan ragukan kualitas, kapabilitas dan integritas kami. Semuanya akan kami berikan untuk negara, untuk Presiden Jokowi,” katanya.

Yayong juga menyatakan, tidak sedikit sukarelawan telah menghabiskan waktu, tenaga hingga materi untuk memenangkan Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019. Tak hanya itu, beberapa sukarelawan pendukung Jokowi di Pilpres 2019 bahkan ada yang menjadi korban penganiayaan oknum tertentu.

“Misalnya saat kampanye Pilpres 2019, publik tentu tahu gerak sukarelawan dari pintu ke pintu, melalui media sosial, bahkan sampai ada yang dianiaya pendukung kubu lawan. Kami tak gentar, tetap menjaga soliditas, demi memenangkan Pak Jokowi,” katanya.

Meski demikian, Yayong menegaskan sukarelawan tidak akan meninggalkan idealisme dan integritas.

“Sejumlah kementerian masih perlu mendapat perhatian dan dukungan dari sektor jabatan wakil menteri. Kami tetap setia hingga akhir masa pemerintahan,” pungkas Yayong.(gir/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler