Heboh Fenomena Great Resignation di Berbagai Negara, Indonesia Bagaimana?

Rabu, 26 Oktober 2022 – 17:52 WIB
Grant Thornton Indonesia memberikan tips menghindari fenomena great resignation. Foto: Dok Grant Thornton Indonesia

jpnn.com, JAKARTA - Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menyebut ada 11,5 juta pekerja yang berhenti dari pekerjaannya selama periode April, Mei, dan Juni 2021. Di Inggris, pada Agustus 2021 lalu, jumlah lowongan kerja melampaui satu juta pekerjaan.

Hal sama yang terjadi di lanskap global, survei firma konsultasi SDM Mercer, terhadap 30 ribu orang dari 31 negara, tahun ini ada 41 persen karyawan berniat mengundurkan diri.

BACA JUGA: Great Edu & BP2MI Gelar Pelatihan Bagi Calon Pekerja Migran Indonesia

Efek pandemi menyebabkan banyak hal terjadi pada diri mereka, sehingga membuat banyak orang memikirkan kembali karier, kondisi kerja, dan tujuan jangka panjang mereka.

Fenomena gelombang pekerja yang berhenti dari pekerjaannya secara besar-besaran atau dikenal dengan istilah great resignation.

BACA JUGA: Great Edu Targetkan Pendapatan Rp 68 Miliar

Human Capital Director Grant Thornton Indonesia Emme Tarigan mengatakan di Indonesia sebanyak 77 persen tenaga kerja profesional masih dalam fase mempertimbangkan untuk mengundurkan diri.

Di sisi lain, sebanyak 45 persen lainnya belum ingin melakukannya. Alasannya, belum adanya pekerjaan yang cocok (56 persen), kurangnya peluang pekerjaan di bidang yang mereka tekuni 23 persen, dan kekhawatiran akan keamanan status pekerjaan di perusahaan baru 21 persen.

BACA JUGA: Akselerasi Kemajuan Teknologi, Sucofindo Bersinergi dengan APN dan Great Wall China

Menurut Emme, kunci Indonesia aman dari fenomena great resignation adalah menginisiasi strategi program retensi layanan.

Menurutnya, dalam hal ini human capital sebagai salah satu pilar dalam perusahaan harus menginisiasi strategi program retensi layanan tersebut, sehingga walaupun fenomena tersebut terjadi di Indonesia, perusahaan dapat bertahan dan karyawan sudah memiliki engagement yang tinggi.

“Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi digital juga mengalami perubahan. Perusahaan dituntut untuk bisa mengimplementasikan hybrid working dengan bijak guna mempertahankan kualitas kerja karyawan serta mengedepankan hal-hal yang penting di mata karyawan, namun tetap seimbang dengan kelangsungan bisnis”, ungkap Emme.

Survei terbaru Grant Thornton LLP mengungkapkan beberapa faktor utama yang menjadi pertimbangan karyawan untuk meninggalkan perusahaan kenaikan gaji pokok yang tidak memenuhi ekspektasi sebesar 37 persen.

Kemudian, tidak adanya perkembangan karier yang jelas di perusahaan 27 persen, benefit perusahaan, di luar asuransi kesehatan dan pensiun, yang tidak memenuhi ekspektasi 18 persen, dan perusahaan yang mulai menerapkan kebijakan Work From Office (WFO) setelah pandemi 16 persen.

Adapun survei yang melibatkan 5.000 responden pekerja profesional di Amerika Serikat dari berbagai industri dan demografi.

Kendati demikian, di Indonesia fenomena itu belum akan terjadi.

"Maka, penting bagi perusahaan untuk tetap meningkatkan employee engagement guna mempertahankan karyawan," katanya.

Emme memberikan saran agar perusahaan bisa mempertahankan talenta - talenta terbaik di perusahaan, antara lain mempertimbangkan implementasi kebijakan tempat kerja hybrid jika hal tersebut diinginkan oleh karyawan.

Menyusun benefit baru yang dapat memotivasi karyawan terutama dari sisi emosional, finansial, fisik, profesional dan kesejahteraan sosial.

Mengenali potensi gejala penyebab stres pada karyawan seperti work-life balance maupun kesehatan mental serta mampu menawarkan solusi bagi karyawan.

“Salah satu bentuk kebijakan yang dapat dilakukan agar perusahaan tetap beradaptasi dengan perkembangan zaman, membentuk alur kerja yang efektif dengan dukungan alat dan sistem kerja yang relevan sehingga kualitas atau output kerja dapat lebih maksimal dengan usaha kerja yang efisien," pungkas Emme.(mcr10/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler