Hizbut Tahrir Tuding ISIS Bentukan Negara Barack Obama

Kamis, 07 Agustus 2014 – 09:08 WIB

jpnn.com - BEKASI SELATAN - Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menilai ada yang janggal dalam pergerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Menurut Ketua DPD HTI Bekasi Raya, Abu Umar, meski HTI juga memiliki pandangan tentang khilafah atau pemerintahan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, akan tetapi pandangan yang dimiliki HTI berbeda dengan pandangan ISIS. Bahkan ISIS dinilai merupakan pergerakan yang sengaja direkayasa oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) dan sekutunya untuk memecah belah umat Islam di seluruh dunia.

BACA JUGA: Kapal RS Siaga di Sail Raja Ampat

"Sekarang ini umat muslim sedang berpikir bagaimana caranya menyelamatkan Gaza dari serangan Israel, tetapi kenapa ISIS tidak membalas serangan Israel, tapi malah justru sibuk memerangi sesama mujahidin," ujar Ketua DPD HTI Bekasi Raya, Abu Umar.

Menurutnya, dengan adanya sikap seperti itu dari ISIS maka justru akan membuat perjuangan khilafah yang sebenarnya menjadi kacau. Dia juga menilai pemerintahan khilafah yang diajarkan oleh rasulullah dapat mempengaruhi kebijakan politik di seluruh dunia. Jika melihat peran tersebut ada dalam ISIS maka sudah barang tentu Amerika akan bertindak untuk menghancurkan mematahkan perjuangan ISIS.

BACA JUGA: Kapal RS Siaga di Sail Raja Ampat

"Pada kenyataanya seperti ada pembiaran oleh Amerika," imbuhnya.

Kepada Radar Bekasi (Grup JPNN), dia menegaskan, dalam kekhilafahan yang diajarkan oleh Rasulullah ada empat pilar yang harus dipenuhi dalam berdirinya negara khilafah. Empat pilar tersebut adalah yang pertama memiliki wilayah kekuasaan yang jelas, kedua melaksanakan hukum secara totalitas menurut syariat Islam, ketiga adanya jaminan keamanan dan kenyamanan bagi penduduk dari apapun yang menyebabkan kekacauan, dan keempat harus ada seorang pemimpin.

BACA JUGA: Bintatar Hutabarat jadi Tersangka Korupsi PLTA Asahan III

Umar membeberkan bagaimana kekhilafahan yang dipahami oleh ISIS tidak sesuai dengan empat pilar tersebut. Dia menjelaskan negara khilafah yang diajarkan oleh rasulullah mempunyai wilayah kekuasaan yang berdaulat dan tidak berdiri di atas pemerintahan yang berbeda. Tetapi pada kenyataannya ISIS mengklaim dirinya mempunyai wilayah di Negara Iraq dan Negara Syria.

"Bahkan di Iraq sendiri hanya ada tiga provinsi yang dikuasai oleh ISIS, tetapi khilafah yang diajarkan nabi seharusnya mendunia," paparnya.

Dalam menjalankan pemerintahan khilafah sesuai syariat Islam, tidak ada paksaan bagi penduduk untuk memeluk Agama Islam. Akan tetapi keamanan dan kedamaian untuk pemeluk agama selain Islam tetap terjamin dalam khilafah Islam. Namun hal itu berbeda dengan pandangan ISIS yang memaksa setiap orang untuk masuk islam atau jika tidak harus melakukan perjanjian damai dan membayarkan sejumlah pajak. Jika persyaratan itu tidak dipenuhi maka negara yang menolak melakukannya akan diperangi.

"Khilafah itu tidak menimbulkan ketakutan akan tetapi justru membawa rasa damai," tukasnya.

Perbedaan selanjutnya yang dinilai keliru pemahaman khilafah ISIS dengan yang diajarkan Rasulullah adalah dengan adanya seorang pemimpin. Dalam hal ini pemimpin tidak boleh bersembunyi karena telah memiliki sebuah wilayah yang berdaulat tanpa takut dengan adanya kekuasaan negara yang lain. Dia mencontohkan, Nabi Muhammad SAW ketika hijrah dari Mekah memang sempat bersembunyi dari serangan musuh dengan cara bersembunyi di Gua Tsur. Namun setelah sampai ke Madinah dan mendirikan kekhilafahan maka tidak perlu lagi bersembunyi.

"Seharusnya, jika memang ISIS telah mendeklarasikan sebuah pemerintahan khilafah, maka Abu Bakar Al Baghdadi (pimpinan ISIS) seharusnya tidak bersembunyi," ujarnya.

Perbedaan pandangan HTI dengan ISIS juga berada pada metode perjuangan yang digunakan. Dimana HTI berjuangan tanpa menggunakan senjata, sementara ISIS menggunakan senjata.

"HTI sudah tegas-tegas menyatakan tidak sejalan dengan khilafah yang dianut ISIS dan tidak mendukung ISIS," tandas Umar.(mas)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dipaksa Adegan Ciuman, Siswi SMP Polisikan Teman Sekolah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler