Ikhtiar Ganjar Memoles Pasar Rakyat: Revitalisasi Bangunan dan Sikat Pungli

Sabtu, 05 November 2022 – 15:51 WIB
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengunjungi pasar tradisional. Foto: Indtagram/ganjarpranowo

jpnn.com, SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo memiliki perhatian besar terhadap pasar rakyat di wilayahnya.

Sejak memimpin Provinsi Jateng pada 2013, Ganjar menggelontorkan anggaran lebih dari Rp 360,6 miliar untuk merevitalisasi puluhan pasar rakyat.

BACA JUGA: Ini yang Dilakukan Ganjar Setelah Tahu Harga Cabai di Purwokerto Masih Tinggi

Langkah itu sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sejak 2015 menargetkan revitalisasi atas 5.000 pasar tradisional.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jateng Mochamad Santoso mengatakan Ganjar sejak menjadi gubernur memang sering mengujungi pasar tradisional.

BACA JUGA: Beruntungnya Sumiyati Hari ini, Tak Sengaja Bertemu Pak Ganjar di Pasar

"Untuk melihat kondisi secara langsung baik itu fisik, pedagang, penataannya sampai dengan permodalannya. Itu disoroti sama beliau terus menerus," ujar Santoso di kantornya, belum lama ini.

Santoso menjelaskan Ganjar menyadari pentingnya pasar bagi pertumbuhan ekonomi, khususnya di daerah. Menurut dia, di pasar pula masyarakat sering bertransaksi.

BACA JUGA: Ganjar Turun Langsung ke Pasar Pastikan Harga dan Stok Bahan Pokok Aman

Data Disperindag dan BPKAD Provinsi Jateng menunjukkan total anggaran dari APBD yang digelontorkan untuk revitalisasi pasar mencapai Rp 360.607.529.478 miliar. Program revitalisasi itu telah menyentuh 79 pasar rakyat.

Sejumlah pasar juga mendapat bantuan beberapa kali. "Ini bentuk kepedulian pak gubernur kepada pasar rakyat yang merupakan sarana perdagangan untuk masyarakat," kata Santoso.

Santoso menjelaskan sebuah pasar bisa mendapat bantuan dari Pemprov Jateng bila memenuhi sejumlah indikator. Pertama, pasar tersebut belum memperoleh bantuan dari Kementerian Perdagangan.

Kedua, revitalisasi itu didasarkan pada urgensinya. "Contohnya, banyak pasar yang memang perlu bantuan sudah diusulkan ke pusat, tetapi belum dapat bantuan," kata Santoso.

Ketiga, perbaikan pasar itu datang dari usulan pemerintah kabupaten/kota.

Santoso mengatakan Ganjar tidak menargetkan revitalisasi pasar itu secara khusus. Menurut dia, program itu sebagai bentuk kontribusi dari Jawa Tengah untuk Indonesia.

"Ya, sebenarnya targetnya (mengikuti) target presiden. Itu yang kita kerjakan bareng-bareng. Kalau bisa, ya, semaksimal mungkin," katanya.

Lebih lanjut Santoso menuturkan Ganjar selalu menemukan berbagai persoalan ketika mengunjungi pasar rakyat di wilayah Jaten. Sebagai contoh ialah ketika Ganjar mengunjungi sebuah pasar di Brebes.

"Waktu ke bagian belakang bangunan ternyata ada yang atapnya berlubang. Itu beliau minta segera diperbaiki dan ternyata bisa langsung diperbaiki, besoknya kami cek," kata Santoso.

Menurut dia, pasar yang baik dengan bangunan fisik terjaga akan membuat pedagang nyaman dalam berusaha. "Dengan itu, harapannya masyarakat beli ke sana," ujar Santoso.

Namun, Santoso juga menegaskan bahwa revitalisasi pasar rakyat merupakan kerja gotong royong. Dia menuturkan masih banyak pasar tradisional, terutama di tingkat desa, yang perlu perbaikan.

Oleh karena itu, Gubernur Ganjar menginstruksi pemerintah kabupaten/kota di Jateng lebih memperhatikan pasar. "Bapak Gubernur juga instruksi ke bupati wali kota untuk melakukan perbaikan," ucap Santoso.

Birokrat senior itu menyebut keberpihakan Ganjar dalam merevitalisasi pasar tradisonal tidak terbatas pada alokasi anggaran. Santoso menyebut Ganjar punya peran penting dalam mengupayakan banyak pasar rakyat di Jateng mendapat bantuan dari pusat.

Santoso mencontohkan perbaikan Pasar Johar di Semarang, Pasar Legi dan Pasar Klewer di Surakarta juga tak lepas dari peran Ganjar. Santoso menegaskan Ganjar berperan mengusulkan perbaikan pasar-pasar besar tersebut ke pemerintah pusat.

Selain itu, Ganjar juga menekankan pentingnya integritas di pasar. Santoso mengatakan Ganjar tak mau pasar menjadi tempat pungli.

Menurut Santoso, pungli sering dialami para pedagang yang akan menempati lagi tempat dagangan mereka di pasar yang telah direvitalisasi. Praktik pungli itu pula yang membuat Ganjar marah.

"Intinya, pasar setelah direnovasi, ya, pedagang lama harus masuk dan tentunya tidak harus membayar," kata Santoso mengutip pernyataan Ganjar.(Mcr5/JPNN.com)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler