Imbauan Salat Id Disoal, Arteria PDIP: Iman Kami Mendahulukan yang Manfaat daripada Mudarat

Sabtu, 23 Mei 2020 – 20:49 WIB
Politikus PDI Perjuangan Arteria Dahlan. Foto: dokumen JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Arteria Dahlan meminta umat tidak berprasangka negatif kepada pemerintah soal imbauan salat Idulfitri tidak dilaksanakan di masjid dan lapangan, dengan massa banyak.

Pemerintah, kata dia, tidak mendiskriminasi muslim ketika mengeluarkan kebijakan tersebut. Kebijakan itu, semata-mata demi mencegah penularan coronavirus disease 2019 (COVID-19).

BACA JUGA: DPR: Jangan Ada Pembubaran Salat Idulfitri

"Upaya-upaya imbauan yang seperti itu, bukan berarti menegasikan, tingkat keimanan atau tidak menghormati agama tertentu, tetapi ini demi kepentingan yang lebih besar," kata Arteria saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Sabtu (23/5).

Arteria mengatakan, umat seharusnya bisa mematuhi imbauan pemerintah tidak menggelar salat Id di masjid dengan massa banyak. Terlebih lagi, ajaran Islam menyatakan bahwa perlunya umat menghindarkan diri terhadap kemudaratan.

BACA JUGA: Lebaran 2020: Dude Harlino Salat Idulfitri di Rumah

"Kebetulan saya seorang muslim dan di iman kami mendahulukan yang manfaat daripada yang mudarat. Sejauh ini apa yang dilakukan negara di bawah Pak Joko Widodo, apa yang disampaikan MUI, tentunya untuk kemaslahatan umat," ucap dia.

Di sisi lain, dia meminta, aparat penegak hukum tidak berlaku represif di lapangan demi mengajak umat mematuhi imbauan pemerintah tidak menggelar salat Id di masjid.

BACA JUGA: Salat Idulfitri di Rumah Boleh Tanpa Khotbah, Ada Syaratnya

Aparat penegak hukum, bisa melakukan tindakan persuasi sehingga kesadaran masyarakat bisa tumbuh untuk mencegah penularan COVID-19.

"Makanya saya meminta betul, aparat penegak hukum di lapangan harus lebih bijak lagi, tidak hanya dalam menerapkan hukum, tetapi bagaimana melakukan upaya-upaya persuasi kepada masyarakat," ungkap dia.

"Jadi, yang tadinya aturan yang terkesan mengekang dapat diterjemahkan dengan cara yang lebih arif, bijaksana dan sederhana. Jadi, dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat, orang tidak merasa diatur tetapi merasa, ya, inilah suatu kewajiban kebersamaan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan," timpal dia. (mg10/jpnn)


Redaktur & Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler