Indonesia Bisa Berhenti Gunakan Bahan Bakar Fosil pada 2045

Kamis, 17 Agustus 2023 – 04:37 WIB
Calon Anggota DPD RI dari Provinsi Lampung Petrus Tjandra menjadi narasumber dalam kegiatan Pengenalan Sistem Akademik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Indonesia (UI) dengan tema "Peran dan Kontribusi FMIPA UI dalam Pengembangan Riset dan Peningkatan Nilai Sawit Indonesia" di Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/08/2023). Foto: Dokumentasi pribadi

jpnn.com, JAKARTA - Berbagai negara tengah mencari pengganti bahan bakar fosil yang jumlahnya terbatas dan berdampak buruk terhadap lingkungan.

Menurut Petrus Tjandra, Indonesia punya pengganti bahan bakar fosil dan bisa berhenti menggunakan bahan bakar fosil pada 2045 mendatang dengan memanfaatkan biodiesel.

BACA JUGA: Dukung Energi Hijau, 146 Kapal PIS Gunakan Biodiesel

Petrus Tjandra dalam pemaparannya di acara "Peran dan Kontribusi FMIPA UI Dalam Pengembangan Riset dan Peningkatan Nilai Sawit Indonesia,” di kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Rabu (16/8/2023), menjelaskan bahwa Indonesia punya industri kelapa sawit yang hasilnya bisa dimanfaatkan untuk biodiesel.

Namun, kapasitas produksi minyak sawit di Indonesia belum maksimal.

BACA JUGA: Begini Cara EMLI Hadapi Tantangan Penggunaan Biodiesel di Industri Pertambangan

Menurut dia, mendorong kapasitas produksi hingga mencapai 100 juta ton pada 2045 bukanlah hal yang mustahil.

“Artinya di dua ribu empat lima akan ada produksi seratus juta ton minyak sawit sehingga kita punya renewable energy," ujar Petrus Tjandra.

BACA JUGA: Biodiesel B35 Diterapkan, Gaikindo: Giliran Jepang Belajar ke Indonesia

Di hadapan mahasiswa UI, Petrus Tjandra menyebut saat ini kapasitas produksi satu hektare lahan sawit hanya sekitar sembilan ton tandan buah segar. Padahal jika dikelola dengan maksimal, menurut CEO Agro Investama Group itu satu hektare lahan sawit bisa menghasilkan hingga 25 ton tandan buah segar.

Petrus menilai kurang maksimalnya kapasitas produksi tersebut dikarenakan perawatan dan panen yang tidak baik.

Menurut Petrus, petani sawit masih banyak yang menyepelekan kualitas bibit dan masih banyak yang salah memilih waktu panen.

“Kerap kali saat terdesak kebutuhan maka buah yang masih mentah dipotong. Padahal kadar minyaknya baru empat belas persen. Malah takut memetik saat matang karena petani khawatir busuk,” tuturnya.

Selain itu, menurut Petrus, penting juga dibangun fasilitas pengolahan yang jaraknya tidak jauh dari lokasi panen. Hal tersebut dapat mengurangi terjadinya kebusukan pada sawit, saat dikirim ke lokasi pengolahan.

"Lantas bagaimana agar sawit yang dipetik benar-benar matang dan tidak ada kekhawatiran menjadi busuk ketika dikirim dari petani ke pabrik? pabrik harus lebih dekat dengan kebun sehingga memangkas jarak dan efisiensi waktu," kata Petrus.

Petrus Tjandra yang telah mendaftar sebagai calon anggota DPD RI Lampung itu lebih lanjut menerangkan bahwa penggantian bahan bakar fosil menjadi biodiesel adalah untuk kepentingan lingkungan.

Oleh karena itu, pengolahan sawit tidak boleh justru berdampak pada pemanasan global.

Menurut dia, metode metode dry heated atau pengeringan dengan udara panas dapat digunakan. Metode tersebut bisa tidak menambah emisi gas rumah kaca.

Saat ini di Indonesia terdapat sekitar enam belas juta hektare lahan sawit. Jika semua lahan sawit tersebut dikelola dengan baik sehingga per hektare dapat menghasilkan 25 ton tandan buah segar, bukan tidak mungkin target produksi sawit 100 juta ton dapat tercapai.

“Misalnya enam juta hektare lahan sawit saat ini, dikali dua puluh lima ton tandan buah segar, dikali kadar minyak dua puluh lima persen maka tercapai seratus juta ton minyak sawit.

Selain untuk kepentingan bahan bakar, kata dia minyak sawit juga dapat dimanfaatkan untuk menambah ketahanan pangan.

Minyak sawit juga bisa digunakan untuk menggantikan kapas, membantu industri tekstil dalam negeri yang masih bergantung pada kapas impor.

Dalam kesempatan tersebut, dia menyinggung bahwa gagasan produksi 100 juta ton sawit sudah dipaparkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Merves) Luhut Binsar Pandjaitan dalam sebuah pertemuan internasional di Swiss pada Januari lalu.

Namun, gagasan tersebut malah dikecam karena dikaitkan isu pemanasan global dan deforestasi. Padahal gagasan tersebut seharusnya disambut baik.

“Namun, kalau saya meyakini para peneliti muda dari Indonesia termasuk dari Universitas Indonesia ini dapat mendukung target produksi seratus juta ton minyak sawit di tahun Indonesia Emas dua ribu empat lima, tanpa deforestasi dan tambahan emisi gas rumah kaca,” ujar Petrus Tjandra.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler