Indonesia Kekurangan Tenaga di Sektor Maritim

Senin, 15 April 2019 – 16:49 WIB
Dirjen Sumber Daya Iptek Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti. Foto: Humas Kemenristekdikti for JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Ali Ghufron Mukti mengungkapkan, saat ini kebutuhan SDM prodi Ilmu Kelautan baik sarjana maupun pascasarjana masih terbuka luas, seiring dengan rencana pemerintah Indonesia dalam memenuhi target luasan konservasi laut sebesar 30 juta Ha.

Namun, perlu dibekali dengan kompetensi masa depan, khususnya penguasaan aplikasi bioteknologi dalam restorasi ekosistem pesisir, habitat ikan dan biota yang sudah punah, sehingga upaya rehabilitasi juga tercapai.

BACA JUGA: Darurat SDM Pertanian, Kemenristekdikti Dorong Perguruan Tinggi Regenerasi Petani

"Kemungkinan kebutuhan lulusan SDM Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan dalam konservasi laut juga perlu dikaji, khususnya kurikulum yang berlaku secara nasional," kata Ali Ghufron saat membuka Seminar Internasional “Relevansi Pengembangan SDM Iptek dan Dikti Terhadap Pembangunan Sektor Kemaritiman di Jakarta, Senin (15/4).

BACA JUGA: Datangkan 200 Dosen Asing, Gaji Hingga Rp 65 Juta

BACA JUGA: Menko Puan Berharap Seskoal Ikut Susun Cetak Biru Pembangunan SDM Maritim

Pada transportasi laut, lanjutnya, diperlukan pembentukan pendidikan vokasi baru di bidang kepelabuhanan dan bidang logistik maritim. Tidak hanya itu, diperlukan juga penguatan pendidikan vokasi kedinasan di sektor pelayaran.

Sementara program afirmasi pendidikan untuk penguatan sektor transportasi laut di 8 wilayah propinsi kepulauan juga dibutuhkan guna percepatan pembangunan konektivitas untuk wilayah kepulauan dalam dan antar propinsi kepulauan tersebut.

BACA JUGA: Telkomsat Gandeng THISS Seriusi Segmen Komunikasi Maritim

"Kami menyadari saat ini memang antara pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri masih belum selaras. Kami berharap hasil diskusi hari ini bisa menjadi masukan bagi kami selaku pemerintah dalam menyusun program dan kebijakan, serta semakin membuka wawasan publik terhadap kondisi SDM Iptek Dikti di Tanah Air," bebernya.

Dia menyebutkan, bila Indonesia ingin jadi pusat maritim dunia semua harus dipersiapkan. Mulai dari pelabuhan, kemudian ke laut, laut ke pelabuhan. Semua itu butuh SDM yang luar biasa.

BACA JUGA: Menristekdikti Sebut Jumlah Startup Indonesia Terbanyak di ASEAN

SDM ini bisa bagus setidaknya tiga hal. Satu dari sisi jenisnya. Jenis SDM seperti apa. Lalu jenis ini kualifikasinya seperti apa.

"Kita yang D3 dari jenis ini berapa jumlahnya. Katakan dari sisi yang menguasai logistik pelabuhan, itu tingkatnya kualifikasinya apa saja, D3, D4, S1, bahkan S3," terangnya.

"Lalu kompetensinya apa yang dibutuhkan untuk ahli manajemen logistik pelabuhan. Ini yang harus dipikirkan. Demikian juga kita bicara kira-kira ikan tangkap, itu asumsinya berapa, butuh tenaga berapa sampai 2030. Jadi 2030 lalu kita program studi apa saja yang harus dibangun untuk memenuhi SDM untuk jenis yang tadi kita sebutkan. Kualifikasi seperti apa sampai 2030," sambungnya.

Tidak hanya dosen, umumnya yang bergerak di pendidikan termasuk ahli pendidikan, konsentrasinya pada pedagogik, proses bagaimana student center learning, proses pendidikan, tapi kurang fokus pada outcome-nya.

Setelah SDM jadi dia bekerja tidak. Itu sebabnya untuk perguruan tinggi dimasukkan unsur treasurer study terutama setelah enam bulan, lulus itu apakah bekerja di bidangnya tidak.

"Dulu itu kan tidak diperhatikan, sekarang penting sekali," tandasnya. (esy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ini Bukti Jokowi Sukses Mengelola Maritim


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler