Inflasi Mei Rendah, Pengamat: Ini Bukan Kabar Baik

Selasa, 05 Juni 2018 – 13:22 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani di Istana Negara. Foto: Natalia Fatimah Laurens/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah selalu mewaspadai tingkat inflasi di bulan ramadan, lebaran, dan natal. Pada umumnya, di bulan-bulan tersebut, angka inflasi menjadi tinggi akibat melonjaknya harga bahan-bahan pangan. Namun, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, besaran inflasi pada bulan Ramadan tahun ini justru rendah, yakni di angka 0,21 persen pada Mei ini.

Dengan rendahnya tingkat inflasi di bulan Mei 2018, pemerintah menilai hal tersebut merupakan bukti bahwa pemerintah bersama-sama Bank Indonesia (BI) berhasil mengendalikan harga-harga pangan selama bulan Ramadan.

BACA JUGA: Menkeu Harus Disayang-sayang Demi Honorer K2

"Untuk inflasi, kita sambut gembira karena mendekati lebaran hanya 0,21 persen. Tahun lalu biasanya menjelang lebaran bisa mencapai hampir setengah persen ini. Ini pencapaian year on year (yoy) bahkan masih 3,2 persen," jelas Menkeu Sri Mulyani di Gedung Kemenkeu, Senin (4/6).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu pun menekankan bahwa pemerintah akan berupaya menjaga daya beli masyarakat agat tidak tergerus oleh kenaikan harga, akibat adanya tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

BACA JUGA: Sri Mulyani Pastikan THR PNS tak Bebani Keuangan Daerah

"Karena gejolak dolar Amerika ini akan berpotensi meningkatkan inflasi. Tapi ini (inflasi Mei) membuktikan stabilitas dari harga pangan dan pasokan memberikan tingkat kepastian dan stabilitas baik. Kita terus jaga kondisi ini, "imbuhnya.

Senada dengan Sri Mulyani, Gubernur BI Perry Warjiyo juga menganggap bahwa rendahnya inflasi bulan Mei ini, lebih disebabkan oleh terkendalinya harga-harga pangan dan pasokan yang cukup. Dia juga menekankan bahwa hal tersebut merupakan bukti bahwa dampak pelemahan kurs rupiah terhadap inflasi, kecil.

BACA JUGA: Zulhas Tanyakan Sumber THR & Gaji ke-13, SMI Bilang Begini

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menuturkan, besaran inflasi bulan puasa kali ini memang lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Begitu juga secara yoy, tingkat inflasi juga menurun. Dia menguraikan, pada 2017, inflasi pada bulan Ramadhan mencapai 0,39 persen dan inflasi Ramadhan pada tahun 2016 mencapai 0,66 persen.

"Kita lihat posisi 0,21 persen dibanding inflasi Lebaran pada tahun lalu, ini jauh lebih rendah. Dibanding inflasi puasa 2016, ini masih jauh lebih baik. Secara yoy, angka 3,23 persen jauh lebih rendah karena 2017 itu 4,33 persen dan pada 2016 3,33 persen, "jelas Kecuk di Gedung BPS, Senin.

Pengamat ekonomi INDEF Bhima Yudhistira menuturkan bahwa rendahnya inflasi inti harus menjadi perhatian pemerintah. Dia menguraikan, besaran inflasi inti terus menunjukkan penurunan sejak Januari. Per Januari 2018 angka nya 0,31 persen tapi di bulam Mei bahkan ketika terdapat momen ramadhan hanya 0,21 persen.

"Itu menunjukkan dorongan dari sisi permintaan masih lemah. Inflasi rendah belum tentu karena pasokan pangan cukup, tapi karena masyarakat menahan belanja," jelasnya pada Jawa Pos.

Selain itu, lanjut Bhima, lebaran tahun ini berdekatan dengan tahun ajaran baru sekolah dan THR ternyata tidak semua dibelanjakan oleh PNS dan pensiunan. Dampak dari teror bom juga membuat masyatarakat menahan diri ke pusat perbelanjaan.

"Itu juga pengaruh ke demand. Indikator lain dari melemahnya permintaan adalah DPK perbankan masih tumbuh dikisaran 7-8 persen. Penjualan mobil pribadi di kuartal I 2018 anjlok di angka 2,3 persen secara yoy. Jadi inflasi rendah ini bukan kabar baik," imbuhnya. (ken)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pertumbuhan Ekonomi 2018 Hanya 5,3 Persen


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler