Ingat, Dua Kali Pilpres Pemenangnya Tokoh yang Muncul Tiba-tiba

Selasa, 30 Mei 2017 – 15:34 WIB
Massa. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Masyarakat Indonesia pada umumnya memiliki kecenderungan memilih figur calon presiden (capres) yang merakyat.

Menurut Dosen Sosiologi Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sudjito, hal tersebut sangat jelas terlihat pada pemilu sebelumnya.

BACA JUGA: Kalau Kuat, Jokowi Bakal Cari Pasangan dari Pulau Jawa

Namun apakah hal tersebut masih berlaku di Pemilihan Presiden 2019 mendatang? Arie meragukannya. Karena beberapa waktu belakangan, muncul politik identitas. Seperti yang terlihat pada Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu.

"Saya kira (memilih figur merakyat,red) terlihat sebelum ada ketegangan politik dengan munculnya politik identitas. Nanti akan bercecer lagi, tergantung cuaca politik. Tapi pola-pola lama masih tampak," ujar Arie pada JPNN, Selasa (30/5).

BACA JUGA: Komposisi Jawa - Luar Jawa Terulang Lagi di Pilpres 2019

Menurut Arie, menguatnya politik identitas akhir-akhir ini menjadi bukti sulitnya membaca arah politik untuk mengukur keterpilihan pemimpin pada Pilpres 2019 mendatang.

Apalagi ada kecenderungan sosok yang terpilih merupakan figur yang muncul tiba-tiba. Seperti yang terlihat pada Pilpres 2004 dan 2014 lalu.

BACA JUGA: Jika Muncul Figur Baru, Prabowo tak Sekuat Dulu

"Kemunculan Susilo Bambang Yudhoyono dulu (Pilpres 2004,red) kan tiba-tiba. Demikian juga dengan kemunculan Jokowi. Sementara Prabowo, sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari, tapi tetap kalah," pungkas Arie. (gir/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gerindra: Isu Jawa dan Non-Jawa Sudah Tidak Penting Lagi di Pilpres


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Pilpres 2019   Capres   Prabowo   SBY   Jokowi  

Terpopuler