Inggris Digempur Varian Baru COVID-19, Pidato Boris Johnson Disiarkan ke Seluruh Negeri

Selasa, 05 Januari 2021 – 08:20 WIB
Dokumentasi: Warga mengantre di luar toko swalayan Waitrose and Partners, di tengah penyebaran COVID-19), di Balham, London, Inggris, Selasa (22/12/2020). Foto: ANTARA /REUTERS/Hannah McKay/WSJ/cfo

jpnn.com, LONDON - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Senin (4/1) memerintahkan pemberlakuan kembali lockdown (karantina) nasional demi menahan lonjakan kasus COVID-19.

Perintah itu dikeluarkan hanya beberapa jam setelah pemerintah memuji keberhasilan Inggris sebagai negara pertama yang mulai meluncurkan vaksin COVID-19 hasil pengembangan Universitas Oxford dan AstraZeneca.

BACA JUGA: Ini Syarat untuk Penerima Vaksin Covid-19 di Jateng

Johnson mengatakan varian baru virus corona, yang lebih menular dan pertama kali diidentifikasi di Inggris serta sekarang bermunculan di banyak negara, menyebar sangat cepat dan karena itu tindakan lockdown perlu segera dijalankan guna memperlambat penularan.

"Saat saya berbicara dengan Anda malam ini, rumah-rumah sakit kita mengalami tekanan lebih berat karena COVID, dibandingkan sejak pandemi ini mulai muncul," kata Johnson dalam pidato yang disiarkan televisi ke seluruh negeri.

BACA JUGA: Waduh, Varian Baru COVID-19 Sudah Sampai ke Negara Ini, Makin Dekat Indonesia

"Dengan sebagian besar negeri sudah berada di bawah tindakan ekstrem, jelas bahwa kita (Inggris) perlu berbuat lebih banyak bersama-sama untuk mengendalikan varian baru ini," katanya.

"Karena itu kita (Inggris) harus melakukan karantina nasional, yang cukup sulit untuk menahan varian ini. Itu berarti pemerintah sekali lagi memerintahkan Anda untuk tetap berada di rumah."

BACA JUGA: Penjelasan Terbaru Kepala BKN soal Penghentian Rekrutmen Guru PNS

Toko-toko dan industri layanan yang tidak penting harus tetap ditutup.

Sementara itu, sekolah dasar dan menengah akan tutup mulai Selasa bagi semua siswa, kecuali anak-anak yang rentan dan mereka yang orang tuanya merupakan para petugas kunci.

Johnson mengatakan berbagai pembatasan itu berarti semua ujian tidak mungkin dilanjutkan musim panas ini.

Peniadaan ujian membuat Inggris mengalami tahun akademik kedua berturut-turut saat pandemi COVID-19 merusak program pendidikan siswa dan rencana masa depan.

Johnson mengatakan bahwa jika peluncuran vaksin berjalan sesuai rencana dan jumlah kematian berkurang berkat karantina wilayah, Inggris mungkin akan mulai mencabut pembatasan pada pertengahan Februari.

Ia mendesak semua pihak agar berhati-hati tentang kerangka waktu itu dan meminta mereka untuk mematuhi aturan.

Saat Inggris bergulat dengan jumlah kematian tertinggi keenam di dunia dan kasus kembali mencapai titik tertinggi, kepala penasihat medis negara itu mengatakan penyebaran COVID-19 berisiko membuat sebagian besar sistem kesehatan dalam waktu 21 hari akan kewalahan.

Pemerintah Johnson sebelumnya menggembar-gemborkan "kemenangan" ilmiah karena Inggris menjadi negara pertama di dunia yang mulai memvaksinasi penduduknya dengan suntikan vaksin Oxford/AstraZeneca.

Namun walaupun program vaksinasi sudah diluncurkan, jumlah kasus COVID-19 dan kematian terus meningkat.

Sejak pandemi mulai muncul, sudah lebih dari 75.000 orang di Inggris meninggal akibat COVID-19 --dalam 28 hari sejak mereka dinyatakan positif terpapar virus corona.

Rekor 58.784 kasus baru corona dilaporkan pada Senin.

Ekonomi Inggris mengalami kehancuran bersejarah hampir 20 persen pada periode April-Juni tahun 2020, ketika sebagian besar bisnis ditutup saat lockdown pertama. (Reuters/antara/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler