Ini Alasan Perlu Dibangun Banyak SPBG di Jakarta

Selasa, 21 Oktober 2014 – 09:42 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Minimnya jumlah stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) dituding membuat bus TransJakarta terlambat datang.

Pramudi TransJakarta Suryadi mengakui, saat ini hanya ada beberapa lokasi SPBG yang digunakan untuk pengisian gas. Lokasinya pun menurutnya tidak begitu strategis, terkadang membuat mobilitas bus jadi sulit.

BACA JUGA: Tak Ada Aksi Demonstrasi di Hari Pelantikan Jokowi

“Kebanyakan bus TransJakarta ngisinya di Pesing, Jakbar atau di Grogol. Jarak misalnya jarak dari shelter bus yang di Harmoni ke Grogol atau Pesing jaraknya lumayan menghabiskan waktu, ditambah antre mengisi BBG, kawasan tersebut juga macet. Paling tidak butuh waktu satu hingga dua jam, baru bisa angkut penumpang lagi,” ujarnya.

Keterlambatan kedatangan bus akan semakin parah jika salah satu SPBG mengalami kerusakan. Seperti yang terjadi beberapa bulan lalu, SPBG Pesing rusak. Waktu itu aktivitas pengisian Bahan Bakar Gas (BBG) untuk bus TransJakarta, khususnya di koridor 1 jurusan Blok M-Kota dan koridor 8 jurusan Lebak Bulus-Harmoni dihentikan.

BACA JUGA: Rakyat Berpesta Sambut Jokowi, Jakarta Tetap Aman Terkendali

“Pelayanan terganggu, akhirnya banyak penumpang yang keteteran karena terlalu lama me­nunggu kedatangan bus. Gimana lagi? Abis deh kita diomel-omelin penum­pang yang protes, tapi ya memang rusak SPBG-nya!” curhatnya.

Terkait hal ini, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta, Saefullah mengatakan, pembangunan SPBG ini dilakukan karena saat ini jumlah SPBG yang melayani bus Transjakarta masih sangat minim. Jumlahnya tidak sebanding dengan bus Transjakarta yang mencapai 400 unit.

BACA JUGA: Ahok Langsung Salami Prabowo di DPR

“Volume gas baru digunakan sekitar 20 persennya saja, karena jumlah SPBG sangat minim. Volume gas di Jakarta yang terpakai baru sedikit, sedangkan sisanya masih banyak. Jadi dengan penambahan SPBG ini akan dapat membantu layanan bus TransJakarta, serta mendorong masyarakat juga untuk beralih menggunakan bahan bakar gas,” katanya.

Bila rencana penambahan sekitar 20 SPBG  bisa direalisasikan, maka pihaknya akan menyewa kendaraan berbahan bakar gas (BBG) untuk kebutuhan dinas atau layanan publik. Langkah ini juga untuk memberikan contoh kepada masyarakat, agar mau beralih menggunakan BBG.

“Sekarang, kan harga premium akan naik. Tapi harga BBG lebih murah dibanding premium. Kalau harga BBG lebih murah, bukan tidak mungkin masyarakat akan beralih ke BBG. Makanya kita beri contoh tidak membeli mobil, tapi menyewa mobil dengan BBG,” jelas bekas Wali Kota Jakarta Pusat ini.

Menyangkut hal ini, Dirut PT Jakarta Propertindo (Jakpro), Budi Karya Sumadi mengaku siap membangun 20 SPBG yang terdiri dari 10 SPBG statis dan 10 SPBG mobile. Saat ini, pihaknya bersama PT TransJakarta tengah bekerja sama mencari lokasi SPBG yang tepat, seperti depo TransJakarta.

“TransJakarta adalah pemakai utama. Makanya kita bekerja sama dengan PT TransJakarta,” timpalnya.

Adapun anggaran pembangunan 20 SPBG itu, kata Budi, di­dapat dari Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) sebesar Rp 300 miliar yang dikucurkan tahun ini. Sedangkan total lahan yang akan digunakan mencapai 3.000 meter persegi.

“Kita melihat lahan tidak hanya karena lahan itu milik PT Transjakarta saja, tetapi juga harus dilihat jaringan pipanya,” jelas bekas Dirut Ancol ini.

Sebelumnya Badan Layanan Umum Transjakarta meminta pemerintah menambah SPBG. Ini untuk menjamin pasokan armada baru yang ditargetkan mencapai 2.000 bus hingga akhir 2014.

Kepala Seksi Pengendalian Badan Layanan Umum (BLU) TransJakarta Susilo Dewanto mengatakan, minimal 20 SPBU baru dengan perhitungan satu SPBG cukup untuk 100 bus. Sehingga untuk memasok 3.000 armada perlu ada minimal 30 SPBG di Jakarta.

Tak hanya itu, pihaknya juga meminta SPBG baru didirikan di lokasi dekat koridor atau di sepanjang jalur TransJakarta.

“Proyek TransJakarta berbeda dengan taksi dan bajaj. Transja­karta nggak bisa belok ke mana-mana, harus sesuai jalur. Jadi kalau SPBG dibangun di dekat koridor, TransJakarta nggak perlu berlama-lama menghabiskan waktu pergi ke tempat pengisian dan lebih hemat,” ucapnya.

Bahkan dia juga meminta ditambahnya kecepatan SPBG mengisi gas ke tabung Transja­karta. Soalnya, tabung TransJakarta berbeda dengan taksi dan kendaraan lain.(rmol/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sambut Jokowi, Massa Sudah Menyemut di Bundaran HI


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler