Ini Beda, Jokowi dan SBY Saat Dicela Anak Buah

Rabu, 01 Juli 2015 – 05:52 WIB
Presiden Joko Widodo. FOTO: dok/jpnn.com

jpnn.com - JAKARTA - Setiap kepala negara memiliki karakter yang berbeda-beda saat menghadapi masalah di dalam kabinetnya. Begitu pula yang antara Presiden Joko Widodo dan presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono. Kedua presiden ini sama-sama pernah "dijelek-jelekkan" oleh anak buahnya sendiri. Tapi sikap yang ditunjukkan keduanya jauh berbeda berbeda.

Presiden Joko Widodo, misalnya. Pekan ini, publik di luar Istana Negara ramai membicarakan namanya yang dihina oleh salah satu menterinya. Tak tanggung-tanggung, menteri yang disebut telah mencelanya adalah Menteri BUMN Rini Soemarno, salah satu orang dekatnya. 

BACA JUGA: Sandy, Pilot Hercules Nahas Itu Putra Bangka Belitung dan Cerdas, Ini Kata Sahabat Karibnya

Alih-alih marah ataupun mengecam celaan itu. Menurut Mensesneg Pratikno, Jokowi justru lebih khawatir isu-isu demikian menurunkan semangat kerja para menteri di kabinet. 

"Beliau sampaikan tolong pada para menteri untuk tetap kerja ngebut pokoknya tetep kerja ngebut. Ini kinerja ditunggu rakyat," ujar Pratikno di kompleks Istana Negara, Jakarta, Selasa (30/6).

BACA JUGA: Inilah Kronologi Jatuhnya Hercules A1310 dan Spesifikasi Pesawat

Jokowi, kata Pratikno, juga tidak risau dengan menteri pembelot yang mencelanya. Bahkan, mantan Wali Kota Solo itu tetap rapat teratur dengan menteri yang dimaksud.

"Beliau sama sekali enggak risau. Beliau kan selalu konsisten bahwa kami harus meningkatkan kerja dan kapasitas delivery  ke rakyat, selalu pertimbangan nya itu. Presiden juga selalu tidak mudah terpengaruh dengan hal seperti itu," imbuhnya.

BACA JUGA: Keluarga Kapten Sandy Gelisah Menanti Kabar Pasti

Hingga saat ini, Jokowi juga belum memberikan pernyataan apapun terkait masalah itu. Dalam rapat terbatas dengan para menteri, ayah tiga anak itu juga tidak menyinggung soal penghinaan terhadapnya. ‎

Nah, bagaimana dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono? Pria yang kerap disapa SBY itu terang-terangan menunjukkan kecamannya ketika anak buahnya membicarakannya di luar. Itu terjadi ketika Pilpres lalu, saat SBY mendengar kabar ada yang menyebutnya sebagai 'kapal karam'.

SBY menunjukkan kemarahannya itu di hadapan 200 perwira tinggi TNI/Polri dalam pertemuan di Kementerian Pertahanan, Juni 2014 lalu. Ia menyebut, ada jenderal aktif yang tidak netral menghadapi Pemilihan Presiden 2014. SBY berkali-kali menggelengkan kepalanya saat mengungkapkan informasi itu. Seperti biasa, presiden yang satu ini memang cukup ekspresif.

"Dari informasi yang telah dikonfirmasikan, tentu bukan konfirmasi yang tidak ada nilainya, mengatakan, ada pihak-pihak yang menarik-narik sejumlah perwira tinggi untuk menarik yang didukungnya," ucap SBY kala itu.

Selain itu, SBY juga menyindir adanya jenderal aktif yang tidak lagi loyal kepadanya sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata.

"Bahkan ditambahkan, tidak perlu mendengar Presiden kalian. Kan itu Presiden 'kapal karam', lebih baik cari presiden baru yang bersinar. Dalam negeri yang kita cintai, kata-kata ajakan seperti itu hanyalah sebuah godaan," ujarnya.

Di tengah kemarahannya SBY mengingatkan prinsip seorang perwira di dalam Sapta Marga dan Sumpah Prajurit yang telah diikrarkan. Dari sumpah itu, lanjutnya, diajarkan nilai dan etika yang harus dipegang kuat seorang prajurit.

"Kalau dilihat jernih, itu benih subordinasi. Karenanya, berhati-hatilah! Jangan tergoda! Tidak baik bagi para perwira yang diajak seperti itu, tidak baik bagi lembaga TNI Polri, dan tidak baik bagi negara," tegasnya.

Tidak diketahui pasti siapa pihak-pihak yang dimaksud SBY saat itu. Namun, setelah sikap tegas ditunjukkan sang jenderal, seantero kabinet langsung tak berkutik. Bisa dibilang, makin banyak yang takut berkomentar. Khawatir, SBY akan marah lagi.

Begitulah karakter para kepala negara tersebut. Ada yang bersikap tenang, ada juga yang reaktif dalam menanggapi masalah. (flo/jpnn).

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Miliki Narkoba 5,5 Gram Joko Divonis 5 Tahun Penjara


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler