Ini Dampak Kemunculan Saipul Jamil di Televisi terhadap Psikologi Korban

Senin, 06 September 2021 – 17:36 WIB
Saipul Jamil. Foto: Firda Junita

jpnn.com, JAKARTA - Psikolog Klinis Oryza Zativa menyebut kemunculan pedangdut Saipul Jamil di televisi melukai perasaan korban yang telah menerima pelecehan seksual.

Oryza menjelaskan sebagian besar korban pelecehan seksual di masa pubertas atau sekitar usia 13 tahun hingga dewasa awal 25 tahun sedang mencari jati diri dan mengindentifikasi dirinya dengan berbagai fase krisis perkembangan psikologinya.

BACA JUGA: KPI Minta TV Setop Glorifikasi Saipul Jamil, Begini Respons Ernest Prakasa

Dengan begitu, pelecehan seksual terhadap korban dalam rentang usia tersebut bisa merusak atau menghambat proses perkembangan psikologi tersebut.

"Belum lagi dampak gangguan kejiwaan yang muncul akibat perilaku pelecehan seksual," kata Oryza saat dihubungi JPNN, Senin (6/9).

BACA JUGA: Penyambutan Bebasnya Saipul Jamil Menyakiti Rasa Kemanusiaan

Oryza memerinci gangguan yang bisa ditimbulkan ialah kecemasan, depresi, dan trauma (PTSD), gangguan tidur, hingga kehilangan konsep diri.

"Korban sendiri sebelumnya akan mengalami syok, malu, marah, sedih, kecewa, kemudian menarik diri, dan negative thinking," jelas Oryza.

BACA JUGA: Reaksi Saipul Jamil Usai Kemunculannya di TV Dikecam Publik

Dengan kondisi psikologi yang berpotensi dirasakan korban saat ini, Oryza menentang kemunculan Saipul Jamil di televisi usai bebas dari penjara.

"Munculnya kembali SJ sebagai tontonan jelas akan melukai perasaan para korban pelecehan seksual pada umumnya dan korban SJ pada khususnya. Memori lama akan peristiwa yang menyakitkan akan teringat lagi," paparnya.

Dia menilai perlakuan media yang mengekspos Saipul Jamil memberikan sajian konten yang tidak mendidik.

"Media seharusnya berfungsi di masyarakat dengan lebih baik dan produktif untuk menciptakan mental yang sehat di kalangan generasi muda," ujar Oryza.

Oryza berharap media bisa menaikkan rating tontonan dengan cara yang lebih elegan, bermutu, dan menarik tanpa harus menimbulkan dampak psikologis bagi masyarakat yang menontonnya.

"Semoga ke depannya, media televisi di Indonesia makin berbenah diri untuk menciptakan value yang positif bagi para penontonnya. Bukan malah mempertontonkan figur buruk yang bisa menjadi contoh buruk bagi generasi milenial," tuturnya. (mcr9/jpnn)


Redaktur : Djainab Natalia Saroh
Reporter : Dea Hardianingsih

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler