Ini Resiko Kurang Tidur Pada Ibu Hamil

Selasa, 23 Juli 2013 – 13:56 WIB

jpnn.com - SELAMA masa kehamilan, pola makan harus diatur dengan baik termasuk berolahraga secara teratur. Tapi tak hanya itu, pola tidur pun harus dijaga karena kualitas dan kuantitas tidur yang buruk selama kehamilan, bisa berbahaya bagi si ibu dan menyebabkan komplikasi pada bayi saat dilahirkan.

Studi di University of Pittsburgh School of Medicine menunjukkan kualitas dan kuantitas tidur yang buruk bisa mengganggu proses kekebalan tubuh ibu hamil. Hal itu itu juga bisa berakibat bayi lahir dengan bobot rendah, serta beberapa komplikasi lain.

BACA JUGA: Tak Buru-buru Telanjang Bikin Perempuan Makin Menikmati Seks

Wanita yang mengalami depresi akan lebih besar menderita gangguan tidur, mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh serta masalah kehamilan lainnya yang merugikan.

"Hasil kami menyoroti pentingnya mengidentifikasi masalah tidur pada awal kehamilan, terutama wanita yang depresi," kata asisten profesor psikiatri di Pitt School of Medicine sekaligus penulis utama studi, Michele Okun, Ph.D, seperti yang dilansir laman Parentherald, Senin (22/7)

BACA JUGA: Kepribadian Bisa Diketahui dari Es Krim Favorit

Kehamilan memang sering dikaitkan dengan perubahan pola tidur. Misalnya waktu tidur yang singkat, gejala insomnia, dan kualitas tidur yang buruk. Gangguan tersebut bisa memperburuk respon inflamasi tubuh dan menyebabkan kelebihan produksi sitokin, yang berperan sebagai molekul yang berhubungan dengan sel-sel kekebalan.

"Ada hubungan yang dinamis antara tidur dan kekebalan. Ini adalah studi pertama yang menguji hubungan tidur dan kekebalan selama masa kehamilan," tambah Dr Okun.

BACA JUGA: 6 Cara Mendapatkan Tidur Berkualitas

Meskipun sitokin penting bagi kehamilan, tetapi kelebihan sitokin juga bisa menyerang dan menghancurkan sel-sel sehat, dan menyebabkan kerusakan jaringan pada ibu hamil, sehingga kemampuan tubuh menangkal penyakit pun terhambat.

Selain itu, kelebihan sitokin juga bisa menganggu arteri tulang belakang yang mengarah ke plasenta, menyebabkan penyakit pembuluh darah, depresi, dan kelahiran bayi prematur. Penelitian sebelumnya yang dilakukan pada wanita pasca melahirkan menunjukkan bahwa konsentrasi sitokin yang berlebih berefek buruk pada bayi seperti preeklamsia dan kelahiran prematur.

170 wanita dilibatkan dalam penelitian ini dan dianalisis pola tidur serta tingkat produksi sitokin selama 10 minggu. Hasilnya menunjukkan ibu hamil yang depresi dan kurang tidur, berisiko besar mengalami komplikasi saat melahirkan. Sitokin bisa jadi faktor utama yang berhubungan dengan bayi lahir prematur.

Setiap berkurangnya sistem kekebalan tubuh akibat kurang tidur atau depresi, meningkatkan risiko komplikasi saat melahirkan.(fny/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 5 Cara Komunikasi Seks dengan Pasangan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler