Inilah Pernyataan Lengkap Anas Usai Digarap KPK

Jumat, 15 Maret 2013 – 16:27 WIB
Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum memberikan keterangan kepada wartawan sambil duduk di teras gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (15/3). Foto: Ade Sinuhaji/JPNN
JAKARTA - Mantan Ketua Umum Partai Demokrat  Anas Urbaningrum, usai digarap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (15/3), duduk di lantai teras gedung KPK. Anas yang mengenakan batik cokelat itu memberikan keterangan kepada pers. Ia pun mengaku bingung kenapa dijadikan saksi kasus Simulator SIM.

Anas mengaku dirinya tidak dikonfrontir dalam pemeriksaan hari ini.  "Saya sendiri ya, saya sendiri, sampai sekarang  tidak punya jawaban mengapa saya menjadi saksi kasus Simulator SIM ini. Saya masih bingung, dan itu tadi saya tidak tahu apa relevansinya," kata Anas, kepada wartawan, di kantor KPK.

Berikut penjelasan lengkap Anas:

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Saya menyampaikan terima kasih, teman-teman sekalian sabar untuk menunggu. Tentu saya ingin menyampaikan beberapa hal yang terkait dengan kehadiran saya hari ini di KPK. 

Seperti yang tadi pagi saya sampaikan, saya hadir memenuhi panggilan KPK sebagai saksi atas kasus pengadaan simulator SIM di korlantas Polri, atas tersangka Pak DS. Seperti juga tadi saya sampaikan sesungguhnya saya tidak tahu, tidak pernah melihat, tidak pernah mendengar apalagi mengalami bagaimana proses pengadaan Simulator itu.

Tetapi karena saya dalam posisi menghormati KPK, patuh sebagai warga negara atas upaya penegakan hukum, saya tidak ingin dinilai menghalang-halangi proses hukum, maka saya hadir untuk memberikan keterangan.

Tentu keterangan atau kesaksian yang tidak saya bayangkan. Itu yang pertama. Meskipun saya ingin ceritakan, ada juga lawyer saya itu menyampaikan sebaiknya tidak perlu datang karena tidak ada relevansinya. Apa relevansinya?

Tetapi sekali lagi, saya dengan kesadaran penuh, saya ingin membantu proses penegakan hukum ini jika ada keterangan saya yang diangggap perlu. Itulah mengapa saya hadir. Yang kedua, karena saya tidak tahu urusan pengadaan Simulator SIM tentu pertanyaan-pertanyaan banyak saya jawab tidak tahu. Yang tahu, tentu saya jawab tahu.

Banyak pertanyaan-pertanyaan teknis. Memulai pemberian keterangan dengan sumpah. Saya bersumpah Bismillahiiramanirrahim, Ashaduallailaahaillahh waashaduannamuhammadarrasullullah. Saya bersumpah untuk memberikan keterangan yang benar yang sebenar-benarnya. Itu kesungguhan saya di situ.

Pertanyaannya banyak saduara sekalian, tetapi tentu kalau saya jawab semua nanti bisa dua jam.

Sebagian ingin saya sampaikan. Saya ditanya misalnya tugas saya dulu di DPR sebagai Anggota Komisi X, sebagai Ketua Fraksi misalnya. Saya juga ditanya apakah saya kenal Pak Saan Mustopa, apakah saya kenal Pak Benny Harman, apakah saya kenal Pak Nazaruddin, apakah saya kenal Pak Sutjipto dan lain-lain. Tentu saya jawab kenal. Bukan hanya kenal, tapi kami berinteraksi.

Saya juga ditanya apakah kenal Pak Djoko Susilo, dan Pak Teddy, saya  jawab saya tidak kenal. Yang saya kenal saya Pak Djoko Suyanto, Djoko Ujianto, pak Djoko Widodo itu saya kenal. Kalau Djoko Susilo saya tidak kenal, saya tahu. Pak Teddy saya juga tidak kenal.

Saya juga ditanya apakah pernah ketemu pad Djoko Susilo di restoran King Crab? Apakah pernah ketemu di Nippon Kan? Apakah pernah bertemu di apalagi gitu, saya jawab tidak pernah ketemu pak Djosko Susilo. Apakah saya pernah ikut pembahasan anggaran Polri, tidak pernah.

Apakah saya pernah berkomunikasi dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani menyangkut Pendapatan Negara Bukan Pajak, saya jawab tidak pernah, tidak pernah komunikasi, tidak pernah kontak, tidak pernah bicara soal itu, dan banyak lagi yang lain.

Intinya adalah saudara-saudara sekalian, saya datang untuk memberikan keterangan yang saya tahu, yang saya tidak tahu apalagi soal Simulator SIM itu, tentu saya  jawab sebenar-sebenarnya tidak tahu.

Saya sendiri ya, saya sendiri sampai sekarang  tidak punya jawaban mengapa saya menjadi saksi kasus Simulator SIM ini. Saya masih bingung, dan itu tadi saya tidak tahu apa relevanisnya. Tapi sekali lagi saya bersedia hadir memberikan keterangan dan penjelasan apa yang saya tahu meskipun saya tidak tahu peristiwanya.

Tidak ada. Pasti tidak ada, tidak ada (tidak dikonforntir dengan Djoko Susilo dan Teddy Rusnawan, red). Yang ada adalah tadi setelah Jumat, Alhamdulillah saya ketemu ustad Luthfi Hasan Ishaaq, saya tanya bagaimana kabarnya ustad, beliau jawab alhamdulillah baik.

Saya  juga bertemu pak Tamsil Linrung di dalam, saya bertemu beberapa teman, tapi tidak ada konfrontir, karena memang tidak ada relevansinya. Tidak ada.

Tentu saya tanya, ya dijelaskan nanti berdasarkan perkembangan pertanyaan. Pertemuan dengan pak Djoko Susilo tidak pernah terjadi, tidak pernah ada. Seperti ini ya. (Anas lantas memerlihatkan sebuah koran harian, yang di halaman depannya memasang karikatur Anas, Djoko, Nazar dan Saan tengah menggelar pertemuan, red).

Ini ada berita, ada berita pertemuan, ada sketsa, ada Anas, Nazaruddin, Djoko Susilo dan Saan Mustopa. 100 persen ini pertemuan tidak ada. Ini saya tidak tahu sketsa dari mana ini.

Ini berita itu mestinya diklarifikasi, diinvestigasi dulu, dipastikan dulu baru naik. Saya bisa mengatakan, gambar ini adalah sadisme opini, sadisme opini, kejahatan opini, ini kejahatan opini saudara-saudara sekalian. Tapi tidak apa-apa.

Saya hanya ingin mengatakan, mestinya nulis berita apalagi bikin sketsa itu pastikan betul berita itu ada, biar tidak jadi fitnah, biar tidak jadi manipulasi opini, biar tidak jadi kejahatan opini. Pertanyaan ini tadi ada, tapi dijawab tidak pernah ada pertemuan seperti ini. Apalagi ada kepitingnya. Terima kasih ya, cukup.

Terima kasih ya assalamualaikum warahmatullahwabarakatuh.
(boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dalami Peran Anas, KPK Garap Tiga Saksi

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler