Inilah Seabrek Penyakit Akibat Rokok

Kamis, 31 Mei 2012 – 09:40 WIB

JAKARTA - Indonesia saat ini mempunyai prestasi yang cukup menyedihkan seputar rokok. Praktisi Kesehatan Dr.Ari Fahrial Syam membeberkan, dilihat dari jumlah rokok yang dikonsumsi, Indonesia merupakan konsumen rokok terbesar di dunia setelah China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang  di tahun 2007.

Amerika saat ini sudah berhasil menekan penduduknya untuk tidak merokok sehingga hanya tinggal 19,3 persen pada tahun 2010. "Keberhasilan Amerika untuk dapat menekan jumlah perokok pada masyarakatnya adalah karena kampanye media secara massal yang terus menerus dan konsisten akan dampak buruk merokok, harga rokok yang selalu meningkat dan memperluas daerah bebas rokok," ujar Ari dalam keterangan persnya, Kamis (31/5).

Pernyataan Ari berkaitan dengan peringatan Dunia Tanpa Tembakau yang jatuh pada hari ini, 31 Mei 2012.

Lebih lanjut dijelaskan, di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2010 menunjukkan bahwa satu dari tiga orang Indonesia merokok. Prevalensi kelompok umur diatas 15 tahun yang merokok tiap hari secara nasional sebesar 28,2 persen.

Sedang penduduk Indonesia yang kadang-kadang merokok sebanyak 6,5 persen. Paling tinggi perokok Indonesia  pada kelompok umur 25-64 tahun. Sebagian besar orang yang merokok di Indonesia adalah penduduk pedesaan, tingkat pendidikan rendah, umumnya mereka  pekerja informal dengan status ekonomi rendah.

"Kondisi ini sungguh menarik dan menjadi renungan kita bersama," ujar Ketua Bidang Advokasi PB.PAPDI itu.

Orang-orang yang berpendidikan tinggi cenderung menghindari rokok. Hanya 19,6 persen perokok setiap hari yang bertitel sarjana, 28,1 persen tamat SMA, 26 persen tamat SMP, 30,4 persen tamat SD, 31,9 persen tidak tamat SD dan 26,7 persen tidak sekolah. 

Dikatakan, orang-orang dengan penghasilan tetap dan status ekonomi baik juga berkurang yang merokok. Salah satu hal yang membuat mereka mengurangi mengkonsumsi merokok karena mereka bekerja di ruang-ruang tertutup dan ber AC yang membuat mereka tidak dapat merokok setiap saat di ruangan tertutup. 

"Disisi lain yang perlu kita simak profil para perokok Indonesia dari RISKESDAS tersebut adalah lebih dari 60 persen usia pertama kali orang merokok di Indonesia kurang dari 20 tahun. Kelompok umur 15-19 tahun merupakan kelompok yang terbesar merokok dengan angka 43,3 persen. Usia ini adalah usia mereka kelas 3 SMP, SMA dan awal kuliah. Umumnya kelompok ini adalah anak ABG yang memulai merokok untuk menunjukkan bahwa mereka sudah dewasa," urainya.

Tetapi, lanjutnya, ada hal yang sangat menyedihkan bahwa ada sekitar 2,2 persen orang yang mulai merokok pada masa anak-anak yaitu pada umur 5-9 tahun.  "Bahkan kita juga semua tahu bahwa beberapa anak Balita kita sudah menjadi pencandu rokok," urainya.

Dokter yang dekat kalangan wartawan itu mengatakan, sebenarnya kita semua sudah tahu bahwa rokok berdampak buruk bagi kesehatan. Hanya masalahnya bagi perokok karena sudah menjadi candu, tidak mudah bagi mereka untuk meyakinkan diri  untuk tidak merokok.

"Bagi perokok kadang-kadang yang menjadi patokan dampak merokok buat mereka adalah gangguan pernafasan. Sehingga jika mereka tidak batuk dan tidak sesak mereka masih tetap merokok. Padahal efek samping dari merokok tidak melulu berdampak pada saluran pernafasan," paparnya. 

Pasien yang mengalami kanker antara lain kanker lidah, kanker kerongkongan, kanker usus besar, kanker paru atau kanker pankreas akan menyesali kenapa mereka merokok, setelah menderita kanker. 

"Rasanya cerita dampak buruk rokok pada seseorang akan selalu kita alami terjadi pada keluarga kita. Apalagi saya yang sehari-sehari bertemu dengan pasien, melihat langsung dampak rokok pada kesehatan seseorang. Kalau penyakit akibat rokok tidak terlalu berat biasanya pasien hanya mengurangi sedikit rokoknya dan kembali lagi untuk merokok setelah sehat. Tetapi jika dampak sakit pada perokok tersebut cukup berat biasanya mereka berhenti merokok total," kata Ari.

Serangan stroke ringan atau TIA juga kadang kala membuat kapok seorang perokok untuk tidak merokok lagi. "Ini terjadi pada ayah sendiri dimana beliau seorang perokok kuat dan berhenti total setelah jatuh di kamar mandi dan mengalami serangan stroke ringan," sambungnya.

Para perokok yang mengalami hipersensitifitas pada saluran pernafasannya dimana jika mulai merokok maka akan merasakan sesak, pasti tidak akan pernah untuk mencoba rokok. Serangan jantung juga bisanya membuat kapok seseorang untuk tidak merokok kembali.

Dampak lain yang sebenarnya tidak diketahui oleh para perokok, papar Ari, bahwa rokok akan menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan atas seseorang. Mereka yang merokok sering merasa begah, cepat kenyang dan kembung. Rokok juga menyebakan asam lambung naik kembali ke kerongkongan atau refluks yang mencetuskan penyakit GERD.

Belum lagi rokok juga dapat merusak gusi serta gigi geligi. Mereka umumnya tidak nafsu makan karena lambungnya sudah terasa penuh dengan gas akibat hirupan asap rokok. Kondisi hipoksia kronis pada seseorang perokok juga dapat mencetuskan penurunan nafsu makan. "Oleh karena itu kita sering mendengar seseorang perokok yang berhenti merokok berat badannya akan naik karena nafsu makannya bertambah atau menjadi meningkat setelah berhenti merokok," kata Ari. (sam/jpnn)



BACA ARTIKEL LAINNYA... Menkes Diminta Evaluasi Klaim Jampersal


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler