Insomnia tak Kunjung Sembuh, Cobalah Kemping

Sabtu, 24 Agustus 2013 – 12:59 WIB

jpnn.com - SUSAH tidur di malam hari tapi kerap kecapekan keesokan paginya, adalah gejala paling umum yang dimiliki penderita insomnia. Jangan dibiarkan begitu saja, karena insomnia berisiko memunculkan penyakit tertentu. Kemping, adalah salah satu cara yang diyakini ampuh mengatasi insomnia.

Menurut sebuah studi, paparan cahaya alami dari matahari di pagi atau senja hari dapat membantu mengembalikan sinkronisasi jam biologis tubuh sehingga membuat seseorang tertidur lebih nyenyak dan bangun dalam keadaan segar.

BACA JUGA: Hormon Cinta Bisa Bikin Orang Kian Cemas

Awalnya peneliti mengamati pola tidur dan mengukur jam biologis tubuh 8 orang dewasa yang terpapar cahaya elektrik di rumah maupun tempat kerja. Kemudian partisipan dianalisis kembali setelah diminta kemping selama seminggu di Colorado yang hanya ditemani oleh sinar matahari dan cahaya dari api unggun.

Pada percobaan pertama, partisipan cenderung terjaga hingga tengah malam dan terbangun jam 8 pagi. Menurut peneliti, cahaya buatan mengakibatkan penundaan jam biologis tubuh hingga dua jam. Kadar hormon melatonin yang mengatur siklus tidur seseorang pun, hanya menurun dua jam setelah partisipan bangun tidur dan terpapar cahaya buatan.

BACA JUGA: Bayi Lebih Suka Ayah Chubby Daripada Berotot

Tapi setelah menghabiskan waktu di alam terbuka, jam internal dan pola tidur partisipan kembali ke waktu semula, meski durasi tidur partisipan dalam dua percobaan sama. Mereka juga jadi lebih waspada di pagi hari atau sesaat ketika terbangun.

'Dengan meningkatkan paparan cahaya matahari dan mengurangi penggunaan cahaya elektrik di malam hari, kita dapat mengembalikan jam biologis serta pola tidur kita, membuat kita mudah terbangun dan waspada di pagi hari," kata ketua tim peneliti Kenneth Wright dari University of Colorado, Boulder seperti dilansir laman Daily Mail, Jumat (23/8).

BACA JUGA: Pilihan Waktu Terbaik Untuk Olahraga

"Yang mengejutkan adalah bagaimana ketika kita terpapar sinar matahari, jam biologis kita langsung bisa selaras dengan sempurna hanya dalam waktu kurang dari seminggu," tambahnya.

Peneliti pun menduga di lingkungan yang serba modern, jam biologis seseorang akan memanjang melebihi jam bangun tidurnya. Dan tampaknya itulah yang bisa menjelaskan fenomena banyak orang merasa paling mengantuk sesaat setelah terbangun di pagi hari.

Namun dengan paparan cahaya alami, perubahan kadar melatonin hanya akan terjadi di jam-jam tidur paling akhir. Kondisi ini membantu orang-orang agar lebih waspada di pagi hari.

Di samping kemping, peneliti juga merekomendasikan jalan-jalan di pagi hari, duduk dekat jendela saat bekerja, atau makan siang di luar kantor dengan jalan kaki, akan membantu menambah paparan cahaya alami. Kemudian di malam hari disarankan mengurangi penggunaan lampu di rumah dan mematikan komputer serta televisi. (fny/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Antioksidan Tak Terbukti Tingkatkan Kesuburan Perempuan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler