Intel Inggris Sadap Komunikasi SBY

Australia Diuntungkan Penyadapan Atas Delegasi RI

Senin, 29 Juli 2013 – 18:01 WIB
Berita di laman The Age tentang penyadapan atas komunikasi rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada KTT G20 di London, Inggris pada April 2009.

jpnn.com - JAKARTA - Lagi-lagi media di Australia membuat heboh dengan pemberitaan tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Setelah pada Maret 2011 lalu media Australia memberitakan tentang "dosa-dosa" SBY berdasar kawat diplomatik Amerika Serikat (AS) yang bocor melalui Wikileaks, kali ini harian The Age mewartakan tentang penyadapan terhadap delegasi Presiden SBY saat menghadiri pertemuan G-20 di London, Inggris pada April 2009 lalu.

Laman The Age edisi 26 Juli lalu menurunkan sebuah berita berjudul "Rudd Given G20 Indon Spy Report " yang berisi manfaat bagi Perdana Menteri Australia kala itu, Kevin Rudd dalam KTT G20 di London setelah mendapat pasokan informasi intelijen dari Inggris. Berita dengan sumber dari intelijen dan kementerian luar negeri Australia itu mengungkapkan bahwa dalam sesi pertemuan para kepala negara G20 di London itu, delegasi negeri Kanguru itu mendapat pasokan informasi yang sangat baik, bahkan berlimpah dari intelijen Inggris dan Amerika Serikat.

BACA JUGA: SBY Sampaikan Rasa Prihatin Untuk Mesir

"Rudd (PM Australie, red) sangat semangat dengan informasi intelijen, terutama dari para pemimpin Asia-Pacific seperti Yudhoyono, Manmohan Singh (PM India, red) dan Hu Jianto (mantan Presiden Tiongkok, red)," kata sumber yang minta namanya dirahasiakan itu.

Sumber itu juga telah membocorkan informasi kepada Fairfax Media tentang pentingnya informasi dari Inggris dan AS untuk mendukung tujuan diplomasi Australia, termasuk kampanye untuk memenangi kursi di Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).  "Tanpa dukungan intelijen yang luar biasa yang disediakan AS, kita tidak mungkin memenangi kursi," kata sumber yang juga pejabat di Departemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Australia itu.

BACA JUGA: Pelayan Prancis Berhasil Rakit Simulator Boeing 737

Dokumen penyadapan yang dirilis ke Fairfax Media berdasar undang-undang kebebasan informasi itu juga mengungkapkan bahwa mantan PM Australia, Julia Gillard, pada bulan lalu sudah diberitahu tentang pengungkapan dokumen intelijen AS oleh Edward Snowden bahwa intel negeri Paman Sam dan Inggris menyasar para pemimpin luar negeri dan pejabat tinggi yang menghadiri KTT G20 di London.

Kepala Divisi Intelijen dan Penyebaran Informasi, Richard Sadleir, pada 17 Juni lalu memberi tahu Gillard soal informasi itu, tak berselang lama setelah harian The Guardian melaporkan bahwa dokumen  yang dibocorkan Snowden telah mengungkap agensi intelijen Inggris,  Government Communications Headquarters (GCHQ),  mempekerjakan para intel khusus untuk menyadap komunikasi para kepala negara dan pejabat tinggi yang menghadiri KTT G20 di London.
 
Intel yang dipekerjakan GCHQ itu mampu menyadap kata sandi di BlackBerry para delegasi untuk memonitor email, layanan pesan maupun panggilan telepon. GCHQ juga menyediakan warung internet yang dilengkapi program khusus pengunci password untuk memata-matai penggunaan komputer oleh para delegasi.

BACA JUGA: Rayakan Perang Korea dengan Buka Museum

Kemampuan agen-agen GCHQ tak hanya meretas password email ataupun BlackBerry.  Dokumen yang diungkap Snowden juga mengungkapkan bahwa analis di GSHQ mampu menciptakan gambar hidup tentang seseorang yang berbicara pada orang lainnya dan ter-up date secara otomatis. Terungkap pula bahwa pejabat tinggi Inggris telah diberitahu tentang penyadapan itu sehingga intelijen bisa dimanfaatkan untuk mempengaruhi keputusan di lapangan yang diambil kepala negara peserta G20 hanya dalam hitungan jam bahkan menit.

Hanya saja, fokus dokumen intelijen yang dibocorkan itu memang pada Turki dan Afrika Selatan. Meski demikian, sumber di Australia menempatkan Indonesia sebagai negara tetangga yang berada dalam daftar teratas untuk dimata-matai.

Dalam laporan itu disebutkan, intelijen Australia sudah meminta agar Gillard tidak membantah laporan The Guardian. Namun demikian, dokumen yang dibocorkan di Australia itu telah disunting agar tidak merusak hubungan di antara negara-negara Persemakmuran. (ara/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Karena Rp 334 Ribu, 11 Terpanggang


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler