Intervensi Distribusi dan Stok Pangan, Kementan Monitor Wilayah Defisit Pasokan dengan SIMONTOK

Selasa, 13 April 2021 – 12:11 WIB
Kementan pantau distribusi dan harga bahan pokok menggunakan SIMONTOK. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan penjagaan stabilitas harga bahan pokok saat puasa dan menjelang Lebaran 2021.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi mengatakan, pemerintah sudah melakukan penjagaan tersebut sejak beberapa bulan sebelumnya.

BACA JUGA: Kementan Pastikan Pasokan Bahan Pokok Selama Ramadan dan Lebaran 2021 Aman

Menurut dia, beberapa hal uang dilakukan yakni dengan melakukan monitoring pada setiap daerah defisit dengan menggunakan Sistem Monitoring Stok (SIMONTOK).

Agung menyebutkan, peta SIMONTOK ini mampu memantau kondisi harga dan kebutuhan bahan pokok di daerah terpencil.

BACA JUGA: Kementan: Harga Cabai Segera Turun

"Kami bisa melakukan intervensi dari daerah surplus ke daerah defisit. Bahkan Simontok ini bisa menjamin pasokan dan distribusi," ujar Agung dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (13/4).

Agung mengatakan, pemantauan sistem intervensi ini dilakukan secara rutin, yakni seminggu sekali.

BACA JUGA: Luhut Dorong Kolaborasi di Food Estate Libatkan Kementan, PUPR dan Peneliti

Oleh karena itu, Kementan melalui Badan Ketahanan Pangan terus mengumpulkan informasi dan laporan dari semua Kepala Dinas Pertanian dan Perdagangan di seluruh Indonesia.

"Tantangan sekarang itu mau tidak mau harus melakukan intervensi, di mana yang surplus harus menyuplai yang defisit," kata dia.

Selain itu, Agung juga melakukan operasi pasar online melalui Pastani.

Program itu, kata dia, bekerja sama dengan berbagai start-up untuk membuka market place online.

"Selanjutnya kita kontrol secara rutin agar tidak ada gejolak," ujar Agung.

Disisi lain, Agung mengatakan pemerintah melalui Kementan sudah melakukan pembinaan terhadap ribuan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar menyediakan produk pasca-panen.

Hal itu dilakukan supaya masyarakat terbiasa dengan makanan olahan sehingga tidak ada makaman sisa yang terbuang percuma.

"Sekarang kan posisinya konsumsi pengolahan produk olahan itu 30 persen, sedangkan sisanya, yakni 70 persen adalah produk fresh. Saya kira ini terbalik dengan negara maju di Eropa atau Amerika. Karena itu kami kembangkan UMKM agar melakukan pengolahan, sehingga tidak ada makanan yang terbuang," beber dia.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) Adhi S Lukman mengaku setuju dengan konsep online dan pembinaan UMKM yang dilakukan Kementan.

Menurut dia, langkah tersebut merupakan langkah tepat dalam menekan angka impor melalui konsumsi makaman yang tidak terbuang secara percuma.

"Oleh sebab itu petani kita harus belajar proses pasca-panennya, supaya makanan kita itu bertahan lebih lama," ujar Adhi.

Di sisi lain, Adhi menyebut upaya itu juga bisa mendidik konsumen bahwa pola konsumsi yang baik itu adalah dengan tidak membuang makanan.

"Misalnya cabai tidak segar itu kan bisa diolah jadi sambal kering," kata dia.

Sementara itu, Adhi mengapresiasi kebijakan BKP Kementan terhadap lapangan pasar melalui online. Dia menyebutkan, saat ini pasar online terus bergairah dan mengalami pertumbuhan yang signifikan.

"Mau tidak mau, pasar online menjadi tren baru. Ke depan saya yakin dengan semakin baiknya infrastruktur internet pasar online ini menjadi bergairah. Hanya saja basisnya masih rendah, tapi pertumbuhanya cukup tinggi dan terus meningkat," ungkap Adhi S. Lukman. (jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler