Investasi Bodong Rugikan Nasabah Hingga Rp7 Triliun

Korban Mulai Pensiunan Hingga Pejabat Polisi

Kamis, 26 Juli 2012 – 07:28 WIB

Ilir Barat I – Kecemasan ribuan investor yang menanamkan investasinya di PT Fattriyal Member (FM), semakin bertambah. Jangankan mau mengembalikan uang para investor, Direktur Utama (Dirut) PT FM Faisol Muslim SE MM sendiri dikabarkan sudah kabur dari Kota Palembang.

Para korbannya sendiri selain warga, pensiunan, PNS, karyawan PT Pusri, anggota dewan, pejabat, ternyata banyak sekali anggota polisi maupun keluarganya yang tertipu. Investor ini menanamkan modalnya mulai dari Rp 10 juta hingga miliaran rupiah.

Diduga karena putus asa dan menganggap tak akan ada penyelesaian dari Faisol Muslim, sejak Selasa (24/07) malam, puluhan karyawan PT FM menjarah kantor PT FM, yang terletak di Jalan Parameswara, Perumahan Parameswara Regency, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat (IB) I.

Garis polisi yang dibuat penyidik Polsekta IB I tak lagi dihiraukan investor, yang langsung mendobrak dan mengacak-acak kantor PT FM dan kediaman Faisol Muslim. Ternyata di Perumahan itu, sudah lima dari belasan rumah menjadi milik Faisol. Begitu berhasil masuk, puluhan investor langsung menjarah seluruh isi kantor dan rumah.

Mulai dari meja, kursi, tempat tidur, Tv, kulkas hingga AC diangkut investor, baik menggunakan truk, L300 sampai mobil pribadi. ‘’Kepalang tanggung pak, kami habiske jugo barang di rumah ni, dak ke bakal cukup nilainyo dengan duet kami yang dibawa lari Faisol. Duet kami ni duet saro. Contohnyo nak cak aku, duet yang ku investasi ke ni duet dari hasil aku di PHK setahun silam,” ujar salah satu investor pria yang ikut menjarah.

Ditambahkan pria ini, kalau dirinya awalnya bekerja di salah satu perusahaan bumbu dapur yang ada di depan Jalan Talang Buruk (Jalan Kolonel Sulaiman Amin, Kecamatan Alang Alang Lebar,red). ‘’Di PHK aku dapat 50 juta. Duet itu aku investasike galo, dengan harapan untuk menopang idup. Selain itu, aku begawe serabutan, sekedar cari rokok. Ternyato hasilnyo mak ini, bukannyo biso ngidupi keluargo, malah saro,” tambahnya.

Sementara Sundari (47), warga Jalan Demang Lebar Daun ini, terlihat hanya duduk termangu di tengah investor lain yang sibuk menjarah. PNS yang mengajar di salah satu sekolah negeri di Palembang ini, mengaku sangat shok. ‘’Aku dak biso ngomong banyak pak. Duet aku 700 juta hasil jerih payah aku samo suami lima tahun itu, ilang dak bebekas. Bingung aku pak, lemas galo kaki-kaki ni. Duet tu duet keringat kami nian, ibarat kato tuh duet sakit,” jelasnya dengan wajah sedikit pucat.

Lain halnya dengan seorang ibu berjilbab yang datang mengendarai sepeda motor dan membonceng anak perempuannya berumur sekitar 7 tahun. ‘’Aku ni investor jugo, kami nanamke 300 juta disini. Cuma atas namo laki aku. Duet itu boleh ngutang dek, kareno nak nyari tambahan. Aku tekejut setelah baco korban, ruponyo uwong la siru. Kami idak pulo betuntut, kareno dijanjike oleh PT FM bungo dan duet kami bulan Agustus 2012 ini,” ungkapnya.

Sementara seorang pria lagi memakai baju hitam dan bertopi, malah mengaku rugi sekitar Rp 3 miliar. ‘’Aku inves Rp 3 miliar dek, ngapo dak pening palak. Kalau pacak betemu, lemak nian jingok rai Faisol itu. Tapi iyo dek, jangan ke kito, ado polisi pangkat melati tigo (Kombes Pol) bae idak telawan, saking hebatnyo Faisol ini sekarang. Sekarang kami idak lagi ngarap dapat bungo, duet dibalekke bae la untung,” jelas pria yang kemarin datang mengendarai mobil Toyota Harrier ini.

Penjarahan serupa juga dilakukan oleh orang yang mengaku investor di aset milik bos FM, di Perumahan Garuda Jalan Taman Kenten, Kecamatan IT II. Mereka mengambil sejumlah barang barang yang ada di dalam rumah mewah tersebut. Bahkan mulai siang rumah ini sudah menjadi incaran seseorang yang diduga sebagai investor untuk mengambil apa saja yang bisa dimanfaatkan.

Terpisah, siang kemarin, beberapa perwakilan investor langsung berinisiatif mengkoordinir dan mendata siapa saja korban PT FM. Bahkan, dari beberapa korban yang ada disana, langsung membuka posko yang didirikan di sekitar kantor PT FM. Tujuannya, agar para investor tak lagi bertindak sendiri-sendiri, melainkan secara bersama-sama.

‘’Kito bukak posko disini dek, supayo biso tahu berapo jumlah korbannyo nian. Sebab, kato uwong korbannyo sampe 7.000 dan kerugian mencapai Rp 6-7 triliun. Tapi ini baru puluhan atau paling seratus korban yang datang ke kantor. Kasihan, bahkan saat melapor ke polisi, Cuma ado belasan uwong bae,” jelas salah satu investor pria yang mengaku beralamat di Jalan Kasnariansyah, Kecamatan IT I ini.

Setelah sempat dibuka sejak pukul 14.00 WIB, baru puluhan investor yang terdata identitasnya di posko tersebut. ‘’Inilah dek, ngapo uwong cak nak begerak dewek-dewek ini. Kabarnyo korbannyo banyak polisi bahkan pangkat besak atau perwira, tapi dak katek reaksi disini. Jangan-jangan mereka begerak dan nak ngejoke nasib mereka dewek. kami beharap, mereka biso satu dan kito berjuang samo-samo,” tambah pria ini.
 
Catut Mantan Wakapolda

Berbagai cara dilakukan Faisol Muslim dan karyawannya untuk menggaet investor di PT FM. Selain memberikan iming-iming hadiah dari 6-10 persen, mereka juga sering mencatut nama Mantan Wakapolda Sumsel Brigjend Pol (Purn) Ahmad Ismail, setiap mencari atau menggaet member atau investor.

Hal itu terungkap setelah salah satu dari belasan investor PT FM saat melapor ke Polda Sumsel, kemarin (25/07), sekitar pukul 11.00 WIB. Pelapor dimaksud, Lingga (45), PNS di lingkungan Pemkab OI. Menurut Lingga, Faisol dan karyawannya itu selalu menjual nama-nama orang terkenal ketika memperkenalkan diri kepada korbannya.

‘’Saya tertariknya, lantaran Direktur Utama PT FM Faisol Muslim, mengiming-imingi bagi hasil. Tak hanya itu, Faisol juga mengaku bekerjasama dengan Pejabat dan Kiyai, terutama Mantan Wakapolda Sumsel waktu itu sebagai Komisaris di PT FM. Jadi saya percaya dan mau menginvestasikan uang di FM. Kerugian mencapai 6 triliun dari ribuan nasabah,” kata Lingga.

Bagaimana ia tak tergiur, sambung Lingga, setelah melihat nasabah lain yang menginvestasikan uangnya, langsung membeli mobil baru. Bayangkan setelah uang diinvestasikan, nasabah atau investor langsung mendapat fee 30 persen dari uang investasi dan uang investasi tidak berkurang serta setiap bulannya investor mendapat fee yang dijanjikan PT FM sebesar 6 persen. Itu terbukti, karena ada yang sudah dapat sampai kurun waktu satu tahun.

‘’Uang saya 170 juta dan uang tersebut saya pinjam dari bank langsung. Tapi saya investasikan secara bertahap. Awal Rp 10 juta dan saya langsung dapat fee Rp 3 juta setelah masukkan uang itu. Kemudian saya suntik lagi Rp 25 juta, sampai seterusnya hingga Rp 170 juta. Saya sudah dapat tiga kali,” ungkap Lingga.

Sebenarnya, jelas Lingga, kemungkinan Rp 1,3 triliun itu hanya untuk investor di Palembang saja. Sementara investor PT FM itu ada dari daerah lain seperti kami dari Ogan Ilir dan Kabupaten/Kota lain, terus Provinsi lain, termasuk dari Tangerang, Bekasi, Jambi dan Lampung. ‘’Banyak pak, dari luar kota jugo ado. Kalo seluruhnyo Rp 6 triliun untuk sementara yang saya tahu. Saya yang inves Rp 170 juta saja stres bukan kepalang, apalagi mereka yang menginvestasi sampai miliaran,” jelasnya.

Laporan sendiri dibuat atas nama Novika Handayani (21), warga Jalan Tanah Merah VI, RT 39/11, Kelurahan Demang Lebar Daun, Kecamatan IB I. Laporannya diterima dengan nomor polisi: LP/499/VII/2012/Sumsel. Pantauan koran ini, belasan nasabah PT FM yang datang ke Mapolda, mengumpulkan fotokopi KTP dan mencatat nomor telepon masing-masing sebagai data pelengkap untuk laporan itu.

Dari belasan nasabah itu, satu orangnya menginvestasi antara Rp 50-700 juta. Ada diantara mereka sudah mendapat fee perbulan, namun ada juga yang sama sekali belum mendapat fee awal maupun fee yang dijanjikan PT FM sebesar 6 persen perbulan.

Terkait laporan dan dugaan PT FM mencatut mantan pejabat Polda Sumsel" Kabidhumas AKBP R Djarod Padakova mengatakan untuk pengakuan dari nasabah atau investor tersebut, kemungkinan adalah modus yang dilakukan pihak PT FM dalam menggaet investor. ‘’Untuk itu kita masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Terkait adanya pengakuan itu, kita masih selidiki kebenarannya dan juga laporan belasan nasabah yang melapor hari ini (kemarin,red),” terangnya.

Djarod mengimbau agar masyarakat Sumsel, khususnya Palembang, ke depan harus berhati-hati dalam memilih tawaran dari pihak manapun, apalagi dengan mengikut sertakan nama-nama pejabat pemerintah maupun Polri. ‘’Selalu berhati-hati, jangan mudah tertarik atau tertipu oleh orang-orang yang menawarkan jasa dalam bentuk apapun,” tambahnya.

Sementara Mantan Wakapolda Sumsel Brigjend Pol (Purn) Ahmad Ismail sendiri, belum bisa dihubungi wartawan. Nomor ponselnya 0812788XXXX tak pernah aktif dari Selasa (24/07). Sedangkan Hp nya dengan nomor 08134663XXXX diketahui aktif, namun tak pernah diangkat. Bahkan, Palembang Pos berulang kali menghubungi nomor itu, tetap tak diangkat. (cr06/sam/day/ety)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Prostitusi di Eks Lokalisasi Masih Marak


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler