Irwan Demokrat: Kasus Covid-19 Naik Dua Kali Lipat Gegara Blunder Pemerintah

Jumat, 10 Juli 2020 – 23:40 WIB
Anggota Fraksi Demokrat DPR Irwan Fecho. Foto: M Fathra Nazrul Islam/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat (PD) Irwan Fecho mengatakan pemerintah telah salah mengambil kebijakan penanganan pandemi Covid-19, yang berakibat terus bertambahnya kasus positif.

Anggota Komisi V DPR itu menyebut pada 26 Mei 2020 ia sudah mengingatkan pemerintah agar tidak memberlakukan kebijakan kenormalan baru atau new normal secara terburu-buru.

BACA JUGA: Kritik Tapera, Irwan Fecho Minta Pemerintah Berhenti Bebani Rakyat

"Bahkan saya katakan waktu itu, new normal bentuk kekalahan perang pemerintah lawan Covid-19," kata Irwan dalam keterangan tertulisnya, Jumat (10/7).

Menurut Irwan, seharusnya new normal diterapkan ketika pemerintah sudah berhasil menurunkan angka penularan Covid-19 di berbagai daerah dan melewati puncak kasus.

BACA JUGA: Irwan Fecho: Konektivitas Transportasi di IKN Dapat Prioritas Kemenhub

"Apa yang terjadi pada hari ini, di mana angka positif naik dua kali lipat dari bulan-bulan sebelumnya, telah menunjukkan langkah new normal yang diambil pemerintah adalah blunder bagi rakyat dan negara," ungkapnya.

Legislator asal Kalimantan Timur itu mengatakan penanganan pandemi Covid-19 yang tidak tepat, bukan hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga menekan perekonomian nasional terus merosot.

BACA JUGA: Demokrat Terusik, Irwan Fecho Polisikan Subur Sembiring

"Ini tentu menjadi warning bagi pemerintah agar jangan keliru dan lalai dalam melindungi segenap tumpah darah Indonesia, baik dari sisi kesehatan dan ekonomi masyarakat," ujar Irwan.

Dia menegaskan pemerintah tidak boleh berlindung di balik alasan agar rakyat mengikuti protokol kesehatan semata. "Harus ada tindakan yang konkret dan tegas memutus penyebaran Covid-19 di tanah air," ungkapnya.

Seperti diketahui, Kamis (9/7), jumlah pasien positif Covid-19 bertambah sebanyak 2.657, sehingga total kasus mencapai 70.367 orang.

Sebanyak delapan provinsi dengan penambahan kasus terbanyak yakni Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Utara. (boy/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler