Itong: Nasib Honorer K2 Tenggelam karena Corona

Jumat, 27 Maret 2020 – 16:48 WIB
Massa Honorer K2 menggelar aksi damai di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (30/10). Mereka menuntut agar diangkat menjadi PNS. Foto : Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Pengurus Pusat Forum Honorer K2 Persatuan Guru Republik Indonesia (FHK2 PGRI) Riyanto Subekti alias Itong mengungkapkan, wabah corona sudah menenggelamkan nasib honorer K2.

Lihat saja, nasib 51 ribuan honorer K2 yang sudah lulus PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja) 2019, sampai saat ini belum juga mendapatkan NIP dan SK.

BACA JUGA: Social Distancing, Satpol PP Honorer K2 Malah Makin Sibuk

Sangat berbeda dengan 8 ribuan honorer K2 yang lolos CPNS 2018 sudah adem ayem, sisanya 379 ribuan tidak jelas nasibnya.

"Perjuangan honorer K2 menginjak tahun ke-7 pascarekrutmen CPNS 2013. Justru yang tersisa adalah para pejuang-pejuang yang solid. Ini adalah benar-benar ujian bagi mereka," kata Itong kepada JPNN.com, Jumat (27/3).

BACA JUGA: Lulus PPPK, Nasib Honorer K2 Makin Merana

Walaupun jumlah honorer K2 yang diangkat aparatur sipil negara (ASN) sudah berkurang, tetapi angka 379 ribuan menurut Itong masih tinggi. Sebab, 379 ribuan itu adalah orang-orang yang sudah mengabdi belasan hingga puluhan tahun.

"Sedih hati saya melihat para pejuang honorer K2 justru tidak bisa jadi ASN. Mereka mengabdi terus-menerus, bahkan di antaranya ada meninggal dunia dengan status honorer," ucapnya.

BACA JUGA: Guru Honorer Non-K2 Pontang-panting Cari Dukungan

Menurut Itong, kalau pemerintah ada niat baik tentunya masalah honorer K2 ini sudah terselesaikan sebelum masa kampanye Pilpres 2019.

Sebab, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB), Badan Kepegawaian Negara (BKN) bersama Komisi II DPR RI sudah sepakat untuk menyelesaikan masalah honorer K2 sejak 2016 sampai akhir 2019 secara bertahap.

"Namun apa yang terjadi, kini sisa honorer K2 khususnya dari tenaga administrasi nasibnya sudah tertelan dengan virus Corona," pungkas Itong.(esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler