Jamaah Berkalung Syal Jerman

Jumat, 09 Juli 2010 – 11:28 WIB
BOLA - Warga kampung Bo-Kaap, kawasan muslim tertua di Cape Town, sedang bermain bola. Foto: Kurniawan Muhammad/Jawa Pos.
Salah satu kawasan tua di Kota Cape Town adalah Bo-KaapDi daerah ini, mayoritas penduduknya adalah muslim keturunan Melayu dan India

BACA JUGA: Mendua antara Jerman dan Spanyol

Mereka juga sering disebut warga Cape Malay
Warga di tempat tersebut juga sangat gandrung dengan olahraga, termasuk sepak bola.

Laporan KURNIAWAN MUHAMMAD, Cape Town

JAWA POS
tahu kawasan Bo-Kaap secara tidak sengaja

BACA JUGA: Penarik Rickshaw Gila Foto

Selasa (6/7) sore itu menjelang pukul 19.00, Jawa Pos berjalan kaki bersama para penonton yang akan menuju ke Stadion Green Point
Malam itu akan ada pertandingan semi final antara Belanda dan Uruguay.

Ketika sedang berjalan kaki itu, tiba-tiba Jawa Pos mendengar suara adzan

BACA JUGA: Bola Raksasa, Hingga The Conqueror

Dari suaranya, agaknya dari tempat yang tak begitu jauhKetika ditanyakan kepada beberapa orang di jalanan, mereka menyebut kata Bo-KaapArtinya, suara adzan itu berasal dari kawasan Bo-KaapOrang yang di jalan yang ditanya Jawa Pos mengatakan, mayoritas warga di Bo-Kaap adalah muslim.

Maka keesokan harinya, Jawa Pos pergi  ke kawasan ituKarena sangat dikenal, mencari alamat kawasan Bo-Kaap tidak terlalu sulitTanya ke sembarang orang yang ditemui di jalan, pasti akan ditunjukkan jalan ke daerah tersebut.

Kawasan Bo-Kaap terletak di dataran tinggi, masih termasuk dalam pusat kota Cape TownKata Bo-Kaap berasal dari bahasa AfricanBo artinya di puncak, dan Kaap berarti kota Cape (Cape Town)Jadi, Bo-Kaap adalah kawasan di puncaknya Cape Town.

Ketika masuk ke kawasan itu, kondisi jalan-jalannya lebih sempitHanya cukup untuk dipakai bersimpangan dua mobil sajaBeberapa jalan di tempat itu bahkan dibuat satu arah, karena di pinggir jalan termakan oleh mobil-mobil yang diparkir secara berderet.

Rumah-rumah di kawasan itu berdempetanUkurannya rata-rata sebesar rumah tipe 45Ada juga beberapa rumah yang terlihat lebih besar dan lebih mewah dari yang lainnya.

Karena saat tiba di tempat itu sedang masuk waktu salat dzuhur, Jawa Pos ikut salat berjamah di salah satu masjid yang ada di sanaNama masjidnya tertulis dalam bahasa arab: Masjid Al Jami"ahDi bagian atas pintu masjid itu tertulis: Dibangun tahun 1837.

Rupanya itu adalah salah satu masjid tua di sanaAda lagi masjid yang lebih tua lagi, yakni Masjid OwalMasjid tersebut dibangun tahun 1794 oleh Tuan Guru asal Tidore, yang menurut cerita adalah pengembang agama Islam di Afrika SelatanTuan Guru asal Indonesia itu masuk ke Afrika Selatan tahun 1780Hingga saat ini, kuburan Tuan Guru dan 20 pengikutnya masih terawat dengan baik di Bo-KaapOrang-orang di sana menyebutnya "karamat", berasal dari bahasa Melayu atau Indonesia "keramat"Artinya, makam yang dikeramatkan.

"Ada sekitar 5.000 muslim di Bo-Kaap," kata Yusuf Ahmad, imam di masjid ituDia mengaku lahir dan tumbuh di Bo-Kaap"Ada 10 masjid di Bo-KaapAnda dari Indonesia, jika ke Cape Town memang harus datang ke sini," kata pria berumur 68 tahun itu.

Keturunan orang Indonesia, kata dia, banyak terdapat di kawasan ituMereka hidup berdampingan bersama warga lain dari  keturunan India, Malaysia dan PakistanYusuf Ahmad sendiri keturunan India.

Sayed Adam, jamaah lain yang ikut mengobrol bersama Jawa Pos menambahkan, penduduk di kawasan Bo-Kaap memang hampir semuanya muslimMereka, kata Adam, rata-rata sangat gandrung dengan olahraga"Salah satu tim rugby yang pernah menjadi juara di kompetisi di Afrika Selatan, berasal dari Bo-Kaap," katanya.

Bagaimana dengan sepak bola? Adam yang berumur 46 tahun ini mengatakan, sepak bola di Bo-Kaap semakin diminati"Anda lihat, saya adalah pendukung Jerman," kata Adam sambil menunjukkan syal dengan logo dan warna bendera Jerman yang dikalungkan di lehernya, seperti mengalungkan sorban.

Dia mengaku tak pernah melewatkan satu kali pun pertandingan selama piala duniaApalagi jika tim Jerman yang sedang bertanding"Rata-rata penduduk di sini suka bolaAnak-anak muda sangat suka dengan bolaSayang, kami tak punya lapangan, sehingga mereka harus bermain bola di jalan-jalan," katanya.

Siang itu, ketika Jawa Pos berkeliling di kawasan Bo-Kaap, di beberapa tempat memang terlihat para anak muda sedang bermain bola di jalan-jalan"Kami suka sepak bola, tapi kami tak punya tempat yang layak untuk bermain," kata Afshal, salah seorang dari pemuda yang bermain bola itu(*/ito/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pesta Bir Dulu, Menang Kemudian


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler