Jangan Tertutup Isu Corona, DBD Lebih Berbahaya, Nih Buktinya

Kamis, 12 Maret 2020 – 09:32 WIB
Ilustrasi penderita DBD mendapat penanganan medis. Foto: Radar Bogor

jpnn.com, BOGOR - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Jawa Barat, mencatat sudah ada empat orang yang meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue (DBD).

Sekretaris Dinkes Kota Bogor Sri Nowo Retno mengatakan, sejak awal 2020 hingga 10 Maret, tak kurang dari 120 warga Kota Bogor terserang DBD. Kasus ini dinilainya lebih berbahaya dari kasus virus corona.

BACA JUGA: DBD Renggut Nyawa Empat Anak di Kota Bogor

“Mulai sekarang kami jangan tertutup oleh isu corona, karena DBD lebih berbahaya. Sehingga peningkatan untuk pemberantasan sarang nyamuk (PSN) harus kembali digalakkan lagi. Kemarin sudah dimulai dari tingkat kecamatan dan puskesmas,” kata Sri Nowo dilansir Metropolitan, kemarin.

Walau penyebaran virus yang menyebabkan demam tidak berkesudahan ini meningkat setiap bulannya, ia mengklaim angka terjangkitnya warga Kota Bogor akibat DBD masih lebih rendah jika dibandingkan tahun lalu.

BACA JUGA: Di Jabar, DBD Merenggut 15 Nyawa, Dinas Kesehatan Tetapkan KLB

Berdasarkan catatan Dinkes, pada 2019 tercatat 155 kasus pada Januari, 162 kasus pada Februari dan 92 kasus pada Maret. Total angka kematian dari awal tahun sampai Maret 2019 sekitar 10 orang.

Retno mengaku tidak menetapkan kasus DBD sebagai Kasus Luar Biasa (KLB). Ia hanya mengingatkan kepada masyarakat agar tetap menjalankan program PSN.

Berdasarkan catatan yang dilihat dari tahun lalu, Kecamatan Bogor Barat dan Bogor Selatan menjadi penyumbang jumlah pasien DBD paling banyak.

Sedangkan untuk tahun ini, ia sendiri masih melakukan pemetaan wilayah mana saja yang menjadi tempat bersarangnya virus DBD. “Kita memang menjadi daerah yang selalu diserang DBD ya, setiap tahun ada. Penyebarannya masih mengamati di wilayah mana saja,” akunya.

Yang memprihatinkan dari kasus DBD di Kota Bogor kali ini, dua dari empat korban meninggal merupakan anak di bawah umur. Dua anak tersebut berusia 4 dan 6 tahun.

Salah satu rumah sakit yang menangani pasien terdampak virus DBD yaitu RSUD Kota Bogor. Mereka mencatat ada sekitar 100 pasien yang dirawat sejak Januari 2010.

Kasi Pelayanan Medik RSUD Kota Bogor, Andy Aprianto mengaku saat ini terdapat 9 pasien yang sedang dirawat dan 8 di antaranya merupakan anak-anak. “Memang anak-anak itu kan daya tahan tubuhnya masih lemah, jadi sangat rentan terkena virus DBD,” jelas Andy.

Meski berada di Kota Bogor, ternyata RSUD Kota Bogor juga banyak menangani pasien DBD yang berasal dari Kabupaten Bogor. Perbandingannya, 40 persen pasien dari Kabupaten dan 60 persen dari Kota Bogor.

“Tetapi ini bukan menjadi halangan bagi kami dalam memberikan pelayanan, karena saat ini kami memiliki 300 kamar yang siap menerima pasien dari mana saja,” tegasnya.

Salah satu pasien yang ditemui Metropolitan di RSUD Kota Bogor adalah Yempi (46). Ia merupakan warga Desa Bantarsari, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor yang sudah dirawat di sejak Minggu (8/3) lalu.

Ia dilarikan ke RSUD karena kondisinya yang semakin memburuk. Sang istri, Andari (43), mengaku suaminya pertama kali mengalami gejala DBD pada Rabu (4/3) lalu. Diagnosa awal di Puskesmas, suaminya tidak diberitahu kalau mengidap DBD.

Ia pun membawa pulang suaminya ke rumah dan melakukan rawat jalan. Namun pada Sabtu (7/3), kondisi suaminya itu semakin memburuk. Sehingga ia mendapatkan rujukan dari Puskesmas untuk membawanya ke RSUD Kota Bogor.

“Saat ini kondisi trombosit suami saya berada di 6,9. Setiap hari turun terus, saya harap tidak kenapa-napa,” tandasnya. (dil/b/fin/metropolitan)

 


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler