Ketika penyedia jasa pindah rumah, John Siaki, menyaksikan seorang pria memukuli istrinya, dia sangat terkejut sehingga merasa perlu melakukan sesuatu.

"Saya merasa tidak berdaya ... seakan-akan saya yang dipukuli," kata John Siaki.

BACA JUGA: Belum Ada Aborigin Tertulari Virus Corona di Kawasan Australia Utara

"Saya keluar dari rumah itu sambil merasa bukan seperti Superman atau Batman atau pahlawan super lainnya."

Kejadian itu berlangsung beberapa tahun yang lalu, ketika John Siaki masih bekerja sebagai kontraktor pengiriman barang-barang dari rumah.

BACA JUGA: Warga Australia Harus Angkat Bicara soal Rasisme

"Tumbuh di komunitas Kepulauan Pasifik kami harus menghormati semua perempuan, terlepas dari berapa usia mereka, tetapi ada hal yang disebut rasa hormat dalam budaya kami," katanya.

Saat pulang ke rumah hari itu, ia bertanya kepada istrinya apa yang harus dia lakukan.

BACA JUGA: Virus Corona: Australia Undang PM Selandia Baru Untuk Bahas Aturan Pelonggaran

"Istri saya kemudian berkata, 'Kamu punya truk, jadi pakailah itu [untuk membantu]'."

Sekarang, truknya dan timnya digunakan untuk membantu korban kekerasan dalam rumah tangga untuk keluar dari kekerasan yang dialami mereka.

Dia mengatakan perusahaan penyedia jasa pindahan miliknya, Siaki and Sons, yang berbasis di Ipswich, Queensland, Australia sebelumnya melayani permintaan rata-rata empat kali seminggu.

Tetapi selama dua bulan terakhir, terjadi kenaikan permintaan jasanya sampai sepuluh kali dalam satu minggu. Photo: Eto Saursoo dan Nathan Siaki membantu korban KDRT pindah rumah. (Baz Ruddick)

 

"Jadi kenaikannya mungkin hingga 60 persen dan ini buruk, buruk sekali," katanya.

John mengatakan dia percaya tekanan keuangan dan isolasi yang disebabkan oleh pandemi COVID-19 mempersulit masalah kekerasan dalam rumah tangga.

Pakar dan akademisi kekerasan dalam rumah tangga dari Central Queensland University, Brian Sullivan mengatakan dia khawatir COVID-19 telah memberi pelaku "taktik" lain untuk mengendalikan pasangan mereka.

"Kami tahu perempuan yang hidup di bawah kendali laki-laki yang kejam sudah terkurung dan kehidupan mereka sudah diatur sampai hal kecil," kata Dr Sullivan.

"Mereka sudah dikendalikan, diintai, dan hidup di bawah pengawasan orang-orang ini.

Dr Sullivan mengatakan pekerjaan yang berhubungan dengan pencegahan kekerasan dalam rumah tangga perlu digandakan pada masa pandemi virus corona. Meminta bantuan dapat memperburuk keadaan

Sebuah survei yang dilakukan baru-baru ini oleh Centre for Women mengindikasikan peningkatan insiden kekerasan di seluruh Queensland.

CEO Center Stacey Ross mengatakan, survei yang dikirim ke pekerja yang menangani kasus kekerasan rumah tangga menemukan peningkatan 20 persen dalam insiden kekerasan keluarga terkait tekanan keuangan akibat COVID-19. Photo: CEO Centre for Women, Stacey Ross, mengatakan penggunaan telepon untuk meminta bantuan membahayakan perempuan yang terjebak dalam situasi KDRT. (Baz Ruddick)

 

"Data juga menunjukkan, tingkat kekerasan dan keparahan naik hampir 40 persen," kata Stacey.

"Kami saat ini sedang merencanakan strategi secara internal bagaimana kami bisa memenuhi permintaan setelah sejumlah aturan pembatasan dilonggarkan."

Bulan lalu, Pemerintah Federal Australia menyuntikkan A$150 juta ke layanan kekerasan dalam rumah tangga, setelah data pencarian di internet seputar bantuan KDRT menunjukkan kenaikan tertinggi dalam lima tahun terakhir.

"Pelaku mungkin melacak ke mana mereka pergi, apa yang mereka lakukan, jadi jika seseorang terjebak di rumah dan mereka tidak dapat menelepon dengan aman, mereka tidak dapat terjangkau [oleh layanan bantuan]," kata Stacey. Waktunya pergi bergegas

John Siaki mengatakan, bentuk pemindahan korban KDRT yang dilakukan timnya berbeda-beda.

Kadang-kadang pindahan dilakukan secara rahasia dan dengan waktu yang terbatas ketika pasangan korban sedang pergi atau di tempat kerja. Photo: John Siaki mengatakan, sebagian dari barang-barang yang diangkutnya tidak lagi diinginkan korban KDRT karena menyimpan kenangan buruk. Barang-barang tersebut kemudian disumbangkan ke badan amal. (Baz Ruddick)

 

Di lain waktu, pelakunya malah sudah berada di dalam tahanan.

"Mereka selalu menceritakan kisah lengkapnya, kita tidak memintanya, tetapi mereka menyampaikannya," katanya.

"Anda dapat mendengar dari nada suaranya mereka benar-benar serius dan mereka membutuhkan bantuan, kami harus mengambil langkah untuk mengeluarkan orang itu.

"Kami mengangkut apa pun yang dia inginkan tetapi apa pun yang kami pikir akan bermanfaat."

"Beberapa barang yang kami ambil tidak diinginkan klien karena mungkin ada beberapa kenangan buruk yang melekat padanya."

John Siaki mengatakan barang-barang yang tidak diinginkan itu sering disumbangkan ke badan amal.

Artikel ini diterjemahkan dari versi Bahasa Inggris yang dapat dibaca di sini.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Harga Rumah di Australia Anjlok 15 Persen Akibat COVID-19

Berita Terkait