Jejak Juhanda, dari Lapas Tangerang Hingga Mengebom Gereja di Samarinda

Senin, 14 November 2016 – 05:56 WIB
Juhanda yang diduga menjadi pelaku pengeboman Gereja Oikumene di Samarinda. Foto: SAIPUL ANWAR/KALTIM POST/JPNN.com

jpnn.com - SAMARINDA - Sejam setelah ledakan bom molotov di gereja Oikumene di Samarinda pada Ahad (13/11), polisi mendatangi sebuah bangunan bercat putih, sekitar 200 meter dari TKP.

Juhanda, menurut catatan kartu penduduknya, tinggal di gedung tersebut.

BACA JUGA: Detik-detik Pelaku Bom Gereja Dikepung, Dihajar di Perahu

Berukuran 40 meter persegi, bangunan itu dulu dikenal sebagai masjid.

Rumah itu beratap kerucut dengan sebuah pengeras suara. Tidak ada tanda bulan dan bintang di pucuk atap.

BACA JUGA: Speed Boat Angkut 29 Penumpang Alami Tabrakan Hebat

Kepolisian membawa tiga orang lagi dari lokasi itu. Satu di antaranya diketahui bernama Gofar. Warga mengenalnya sebagai imam masjid.

Adapun Juhanda alias Jo, dikenal sebagai penjaga masjid (marbot).

BACA JUGA: Bacalah, Penjelasan Dokter soal Luka Balita Korban Bom Samarinda

Dia tinggal di kamar belakang. Biliknya berukuran 3x4 meter. Di dekat pintu, berdiri rak penuh dengan buku.

Seluruh pustaka itu, beberapa di antaranya novel religi, telah dibawa polisi.

Selain menjadi marbot, Jo menjaga keramba ikan nila di belakang masjid.

Ikan hasil keramba dijual di dalam akuarium di depan masjid.

Dikenal sebagai masjid, bangunan itu tak memiliki pelang nama. Warga sekitar bahkan jarang yang beribadah di tempat itu.

Jamaah masjid justru datang dari luar Kelurahan Sengkotek.

“Ada beberapa warga di sini yang menjadi jamaah, tetapi itu pun pendatang,” terang seorang warga yang enggan namanya ditulis.

Menurut perempuan berkerudung tersebut, kegiatan di dalam masjid tertutup.

Mereka biasanya jamaah mengadakan pengajian pada Minggu atau Senin malam.

Jamaah biasanya datang ke masjid untuk menunaikan salat Magrib dan Isya. Pengajian dimulai setelahnya.

Ceramah maupun pembacaan ayat suci Alquran hanya terbatas di dalam masjid. Tidak memakai pengeras. Pintu masjid ditutup.

Sumber Kaltim Post (Jawa Pos Group) yang sempat mengikuti kegiatan di dalam masjid bercerita, beberapa hal membuat warga enggan beribadah di tempat itu.

Amalan di situ disebut berbeda dengan majelis pada umumnya. Sebagai contoh, tak ada zikir bersama selepas salat wajib.

Seorang perempuan lain, yang sempat beberapa kali ikut pengajian mengatakan, para ustaz di masjid tersebut berkali-kali menyeru ”Isy kariman au mut syahidan”.

Jika diartikan dalam bahasa Indonesia: hidup mulia atau mati syahid.

Persis seperti kalimat yang tertulis di kaus Juhanda ketika mengebom.

“Sering diserukan dalam beberapa pertemuan. Saya memutuskan keluar,” ujar perempuan dua anak tersebut.  

Kegiatan di situ diduga telah berlangsung dua tahun.

Ketua RT 04 Kelurahan Sengkotek, M Abdul Malik, mengatakan bahwa Jo datang pada 2014.

Dia dibawa seseorang yang biasa akrab disapa Pak Pri, warga Kelurahan Harapan Baru, Loa Janan Ilir.

Abdul hanya tahu, Jo tiba-tiba menjadi marbot di masjid tersebut.

Dia mengaku, menerima informasi warga baru dari Polsekta Samarinda Seberang. “Jadi, tidak lapor langsung ke saya,” ungkapnya.

Namun, warga disebut telah lama menduga kelompok Juhanda adalah barisan radikal. Namun, tak ada bukti yang menguatkan tengara itu.

“Kami tidak bisa apa-apa. Tapi, saya selalu berkoordinasi dengan aparat keamanan,” ujarnya.

Mengenai masjid tanpa nama, Abdul mengatakan, dulu rumah ibadah itu bernama Al Mujahiddin.

“Saat saya pindah ke sini pada 1999, masjid sudah ada,” ungkapnya.

Pada 2010, masjid direnovasi para jamaah hingga kemudian tanpa nama seperti sekarang.

Menurut rencana, kelurahan mengadakan rapat untuk membahas pengambilalihan masjid.

“Mungkin untuk memberantas sel radikal. Ini adalah kali kedua Sengkotek dijadikan markas kaum radikal,” ujarnya.

Siapa Pak Pri yang disebut-sebut membawa Jo ke Sengkotek? Dia memiliki nama Supriyadi.

Seorang ustaz yang tinggal di RT 29, Kelurahan Harapan Baru, Loa Janan Ilir. Menurut warga, Pri sudah diamankan kepolisian.

Di Harapan Baru, dia tinggal di rumah bangsal bersama istri dan anak-anaknya.

Sang istri, ketika Kaltim Post datang, sedang di rumah. Namun, dia menolak menerima media ini.

Supriyadi sebelumnya menggelar pengajian di rumahnya. Setelah mendapat komplain dari warga, pengajian dipindah.

Diduga, pengajian Ustaz Pri itulah yang selama ini berjalan di masjid tempat tinggal Jo di Kelurahan Sengkotek.

Juhanda bukan orang baru di kelompok ekstrem. Pria yang lahir di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, itu pernah dipidana pada 4 Mei 2011 dengan hukuman 3 tahun 6 bulan kurungan.

Dia bebas pada 28 Juli 2014 sebelum datang ke Samarinda. Juhanda diketahui terlibat teror bom Puspitek di Serpong, Tangerang Selatan.

Dia turut menjadi terduga pelaku Bom Buku di Jakarta pada 2011. (*/dq/*/fch/rom/pra/fel/sam/jpnn)

Sekilas tentang Juhanda:

-    Juhanda lahir di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Dia pernah menjalani hukuman pidana pada 4 Mei 2011 dengan hukuman 3 tahun 6 bulan kurungan. Sempat menjadi terduga pelaku yang dinyatakan bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi Idulfitri tanggal 28 Juli 2014.

-    Hukuman yang diberikan pada Juhanda karena teror bom Puspitek di Serpong, Tangerang Selatan, dan terduga pelaku Bom Buku di Jakarta pada 2011.

-    Setelah bebas dari Lapas Klas I Tangerang pada 2014, pelaku pergi ke Parepare, Sulawesi Selatan, dengan menumpang kapal.

-    Namun, karena tak ada keluarga, dia memutuskan pergi ke Samarinda pada tahun yang sama.

-    Juhanda datang ke Samarinda atas ajakan AP, temannya sesama pelaku teror yang menghuni Lapas Tangerang. Dia diminta untuk tinggal bersama ayah AP di Loa Janan Ilir.

-    Selama di Samarinda, Juhanda bergabung bersama Jamaah Anshoru Daulah (JAD) Kaltim.

-    Pelaku pengeboman Gereja Oikumene di Samarinda diduga karena terdapat fatwa ISIS global untuk aksi di daerah masing-masing.

-    Pelaku diduga tak memiliki kemampuan yang mumpuni untuk ke Suriah membela ISIS dan tak memiliki finansial. Mereka hanya memberikan pesan ke ISIS global lewat aksi di Samarinda.

-    Pelaku dipastikan minim pengalaman dan perencanaan matang. Itu terlihat dari cara peledakan yang mudah diketahui serta pelarian ke sungai setelah melempar bom. Pelaku dipukuli oleh warga.

-    Juhanda disebut blunder karena mengebom di gereja dekat tempat tinggalnya. Sangat jarang teroris mengebom di daerah tempat mereka tinggal.

-    Pelaku pengeboman di Gereja Oikumene dipastikan lebih dari satu orang. Namun tidak diorganisasi secara baik.

Sumber: Wawancara dengan Ali Fauzi Manzi dan penelusuran lapangan

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gara-gara Layang-layang, Listrik Terancam Padam Lama


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler