Jelang Pemilu Israel, Netanyahu Genjot Kebijakan Anti-Palestina

Jumat, 21 Februari 2020 – 12:04 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu. Foto: AFP

jpnn.com, YERUSALEM - Jelang pemilu Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengeluarkan kebijakan kontroversial anti-Palestina. Dia berencana mendorong pembangunan 5.200 rumah baru di wilayah Yerusalem Timur yang dirampas dari Palestina.

Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam kunjungannya ke Har Homa, sebuah permukiman Yahudi di Yerusalem. Menurutnya, di lokasi tersebut akan dibangun 2.200 unit rumah baru sementara 3.000 unit lainnya akan dibangun di kompleks Givat Hamatos di Yerusalem.

BACA JUGA: Oposisi Israel Tidak Rela Rezim Korup Netanyahu Kembali Berkuasa

Pemimpin Israel itu juga berjanji akan memperluas Har Homa hingga setara dengan kota berukuran sedang dengan menarik sekitar 12.000 penghuni Yahudi, membuat total populasi di lingkungan tersebut sekitar 50.000 orang.

"Kami menghubungkan seluruh bagian Yerusalem yang bersatu dan Yerusalem yang dibangun kembali," katanya, merujuk kepada wilayah timur kota suci tersebut, yang direbut Israel berikut seluruh wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza dalam perang Timur Tengah 1967.

BACA JUGA: Keceplosan, Netanyahu Ungkap Ambisi Israel Jadi Negara Nuklir

Tak lama setelah perang meletus, Israel menganeksasi Yerusalem Timur dan mengklaimnya sebagai bagian dari ibu kota yang tak terpisahkan. Klaim tersebut sebenarnya tak pernah didukung komunitas internasional, hingga Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017.

Har Homa dan Givat Hamatos terletak di beberapa lahan terakhir yang menghubungkan wilayah Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang dianggap Palestina sebagai ibu kota negara mereka di masa depan.

BACA JUGA: Rencana Perdamaian Trump Bikin Netanyahu Makin Bernafsu Mencaplok Wilayah Palestina

Sebelumnya, perluasan permukiman Yahudi di Tepi Barat mengundang kecaman internasional, yang sebagian menentang pembangunan Israel di sana. Meski demikian, belum lama ini langkah tersebut dipercepat, khususnya setelah Trump mengumumkan rencana perdamaian Timur Tengah yang diajukannya.

Pada 2 Maret nanti, Israel akan melaksanakan pemilihan umum ketiganya dalam waktu setahun. Netanyahu, perdana menteri yang paling lama menjabat sepanjang sejarah Israel, ingin mengamankan posisinya meskipun dalam jajak pendapat sedikit tertinggal di belakang pesaing utamanya Benny Gantz. (Xinhua/ant/dil/jpnn)
Megawati Pernah Ditinggal Jagonya:


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler