Jelang Pilpres 2019, Begini Persepsi Masyarakat ke Jokowi-JK

Selasa, 26 Desember 2017 – 14:59 WIB
Presiden Jokowi. Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) merilis hasil survei mengukur respons, sikap dan persepsi masyarakat Indonesia terhadap Joko Widodo-Jusuf Kalla dan jelang Pilpres 2019.

Direktur Eksekutif LKPI Arifin Nur Cahyono mengatakan berdasarkan demografi, sebanyak 89,6 persen responden yang berpenghasilan tidak lebih dari Rp 5 juta per bulan menyatakan keadaan ekonomi keluarga dalam memenuhi biaya kebutuhan hidup sangat sulit.

BACA JUGA: Pilpres 2019, PAN Simpan Teka-teki Nasib Zulkifli

Sebanyak 7,3 persen menyatakan pas-pasan saja, namun harus gali lubang tutup lubang setiap bulannya. Sedangkan 3,1 persen menyatakan cukup-cukup saja tetapi harus ada keperluan keluarga yang tidak dibisa dibeli.

Arifin menambahkan sebanyak 76,6 persen responden berpenghasilan lebih dari Rp 5 juta tapi kurang Rp 10 juta per bulan, menyatakan keadaan ekonomi keluarga menurun karena naiknya harga-harga barang yang selama ini mereka komsumsi.

BACA JUGA: Pimpinan Ponpes Minta Prabowo Usung La Nyalla

Sebanyak 22,8 persen menyatakan ekonomi keluarga mereka pas-pasan saja, tapi tidak bisa menabung jika tak mengurangi komponen-komponen kebutuhan hidup mereka. Sementara 0,6 persen menyatakan meningkat sedikit dan bisa menabung.

Ketika ditanyakan partai politik mana yang akan dipilih jika pemilu digelar hari ini, sebanyak 20,7 persen responden akan memilih Partai Gerindra.

BACA JUGA: Prabowo Subianto Mengaku Baru Sekali Ketemu Moreno Soeprapto

Sedangkan 13,7 persen memilih Partai Golkar, 13,4 persen memilih PDI Perjuangan. Kemudian, memilih PKB 7,6 persen, Partai Demokrat 6,1 persen, PAN 5,8 persen, PPP 5,2 persen, PKS 4,5 persen, Perindo 4,3 persen, Nasdem 3,6 persen, Hanura 1,3 persen.

"Yang tidak memilih sebanyak 13,8 persen," kata Arifin, Selasa (26/12).

Penelitian dilakukan 8-22 Desember 2017 melibatkan 2178 responden dari 456 kabupaten/kota Indonesia. Adapun metode yang digunakan adalah multistage random sampling. Tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error kurang lebih 2,1 persen.

Arifin melanjutkan, dalam pertanyaan tertutup soal parpol yang akan dipilih jika pemilu digelar hari ini, 23,7 persen memilih Partai Gerindra. Yang memilih PDI Perjuangan 14,2 persen, Partai Golkar 14,1 persen, Partai Demokrat 6,8 persen, PAN 6,6 persen, PKB 6,4 persen, PKS 5,7 persen, Perindo 4,8 persen, PPP 3,4 persen, Nasdem 3,1 persen dan Hanura 1,1 persen. "Sedangkan yang tidak menjawab atau tidak memilih sebanyak 10,1 persen," ujarnya.

Arifin menambahkan kecepatan Partai Golkar melakukan deklarasi mendukung Jokowi di Pilpres 2019 bisa menaikkan elektabilitas.

Sedangkan meningkatnya pilihan masyarakat terhadap Gerindra tidak lepas dari figur Prabowo Subianto yang menahkodai partai berlambang burung garuda itu.

Gerindra dianggap konsisten dengan sikap politiknya selama periode pemerintahan Jokowi-JK.

Arifin melanjutkan, menurunnya elektabilitas PDI Perjuangan lebih dikarenakan gagalnya pemerintah Jokowi meningkatkan kesejahteraan ekonomi wong cilik selama berkuasa.

Menurut dia, saat menjadi oposisi PDI Perjuangan sangat gigih menolak setiap kenaikan harga BBM, gas, serta tarif dasar listrik. Namun, saat Jokowi berkuasa, justru PDI Perjuangan menjadi partai pedukung kenaikan harga BBM.

Sisi lain, saat disodorkan pertanyaan spontan siapa yang akan dipilih jika Pilpres digelar hari ini, 26,4 persen memilih Jokowi. Kemudian, 50,7 persen memilih Prabowo Subianto, 10,7 persen menjatuhkan pilihan kepada mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. "Sisanya atau 12,2 persen tidak menjawab," tegasnya.

Sedangkan dalam pertanyaan tertutup ihwal siapa yang dipilih jika Pilpres digelar hari ini, Prabowo Subianto meraih 53,6 persen. Kemudian, Jokowi 19,4 persen, Gatot 4,6 persen, Menteri Keuangan Sri Mulyani 3,1 persen, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan 2,1 persen.

Berikutnya Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani 2,8 persen, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini 5,7 persen, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar 2,1 persen dan dan Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institue Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 0,8 persen. "Yang tidak memilih sebanyak 5,8 persen," ungkap Arifin.

Namun, Arifin berujar, ini baru merupakan potret survei jelang pemilu 2019 yang dikaitkan dengan kinerja Joko Widodo selama memerintah.

"Masih ada waktu satu tahun bagi Joko Widodo untuk bisa mengangkat elektabilitasnya jika berhasil meningkatkan kesejahteraan wong cilik," katanya. (boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tidak Usung La Nyalla, Prabowo Dinilai Blunder


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler