Jenderal Idham Azis Dinilai Kurang Sensitif Atas Insiden Teror di Sigi

Selasa, 01 Desember 2020 – 05:45 WIB
Kapolri Jenderal Idham Azis. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Untuk menyikapi aksi teror Sigi, Sulawesi Tengah, Menteri Koordinator bidang Politk Hukum dan Keamanan Mahfud MD menggelar konferensi pers bersama Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (30/11/2020).

Konferensi pers tersebut tidak dihadiri Kapolri Jenderal (Pol) Idham Aziz tetapi diwakili oleh Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Prabowo Argo Yuwono. Tidak disebutkan alasan ketidakhadiran orang nomor satu di kepolisian tersebut.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Marah Besar terkait Teror di Sigi, Ada Pesan Khusus untuk Kapolri

Direktur Indonesia Government and Parliament Watch (IGPW), M. Huda Prayoga menyesalkan hal tersebut. Huda menilai, Idham tidak menunjukkan sensitivitas memadai atas teror yang terjadi pekan lalu tersebut.

BACA JUGA: Tokoh Jayawijaya Papua: Jangan Biarkan, Mereka Jual, TNI dan Polri Beli

Direktur Indonesia Government and Parliament Watch (IGPW), M. Huda Prayoga. Foto: Dokpri for JPNN.com

“Konferensi pers yang dihadiri Menko Polhukam dan Panglima TNI tersebut tentu menjadi hambar, karena tiang utama pemberantasan terorisme adalah kepolisian. Keterlibatan TNI hanya untuk mendukung kepolisian,” ujar Huda dalam keterangan tertulis, Senin (30/11/2020) malam.

BACA JUGA: Pemuda Katolik Mengutuk Keras Kejahatan Sadis di Sigi

Huda kemudian membandingkan dengan Kapolri terdahulu Tito Karnavian yang selalu terdepan dalam menjelaskan dan menenangkan publik dalam setiap isu terorisme yang ditangani kepolisian.

“Ketidakhadiran Kapolri Jenderal Idham Azis menunjukkan kurang sensitifnya atas isu teror yang menyita perhatian publik. Padahal beliau sebenarnya juga berasal dari Densus 88 yang concern menangani terorisme," papar Huda yang juga Ketum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) DKI Jakarta 2017-2019.

Lebih lanjut, Huda mengharapkan hal ini bukanlah cerminan kurang seriusnya institusi kepolisian. Pasalnya, tindakan teror merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus ditangani dengan cara-cara luar biasa.

“Sebenarnya terasa janggal, penjelasan Menko Mahfud soal langkah pemerintah menangani kelompok teror Ali Kalora dan komitmen Panglima TNI mengirimkan pasukan khusus guna membantu Polri, namun tak dihadiri pimpinan tertinggi di institusi kepolisian,” pungkas Mahasiswa Magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.(fri/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler