Jenderal Sudirman Gerilya Hanya Bawa 10 Prajurit, Mata-mata Belanda Dihajar

Kamis, 17 Agustus 2017 – 00:53 WIB
Mujihariono (kiri) bersama Kasi Pelestarian Sejarah dan Cagar Budaya Disparbud Trenggalek, Agus Prasmono ketika ditemui di rumahnya. Foto: ZAKI JAZAI/ RADAR TRENGGALEK/JPNN.com

jpnn.com - Mudjiharyono, warga Desa/Kecamatan Karangan, Trenggalek, Jatim, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri perjuangan Jenderal Besar Sudirman bergerilya mempertahankan kemerdekaan dari serbuan Belanda, 1949 silam. Rumahnya di Desa/ Kecamatan Suruh dijadikan pos tentara yang mengawal Jenderal Sudirman.

ZAKI JAZAI

BACA JUGA: Jenderal Sudirman Serang Markas Belanda, Lantas Pergi Melanjutkan Gerilya

Suasana perperangan yang mencekam, hingga kerap kali melihat tentara Belanda mondar-mandir dengan persenjataan lengkap. Itu situasi yang pernah dirasakan Mujiharyono, sekitar 68 tahun silam.

Ya, benar kala itu dirinya masih berusia delapan tahun. Mujiharyono harus menyaksikan dan mendengarkan berita peperangan di beberapa daerah.

Sehingga rasa takut pun muncul setiap ada tentara Belanda yang tertangkap dan dihajar.

Kendati demikian, dirinya mampu menghilangkan rasa takut tersebut dan mampu menjaga kerahasiaan Jenderal Besar Sudirman bergerilya dan singgah untuk beristirahat di sekitar rumahnya.

Ketika ditemui Jawa Pos Radar Trenggalek di rumahnya yang terletak di Desa/ Kecamatan Karangan kemarin (16/8), terlihat dirinya sedang bersantai di ruang tamu rumahnya.

Kendati sudah berusia 76 tahun, terlihat dirinya masih cukup sehat, serta seluruh ingatannya mengenai zaman perjuangan yang belum satupun yang terhapus di pikirannya.

“Saat ini tidak seperti dahulu, yang hampir setiap hari selalu ada bunyi tembakan, makanya diharapkan bagi generasi muda agar selalu bersyukur dan isilah kemerdekaan dengan hal positif,” ungkap Mujiharyono.

Teringat betul pada awal 1949 lalu, pada malam hari datang Panglima Besar Jenderal Sudirman yang ditandu, bersama tidak lebih dari 10 pengawal di desa yang disinggahi.

Sebab saat itu sang jenderal ingin beristirahat di kediaman Mukijan, salah satu tokoh di wilayah Suruh, sebelum melanjutkan perjalanan pada besok malam harinya.

“Jika saat ini pukul 21.00 masih ramai, namun kala itu memasuki pukul 19.00 terlihat sepi, sebab masyarakat memilih tidak keluar rumah karena penerangan tak memadai, juga takut jika bertemu Belanda,” katanya.

Kedatangan Jenderal Sudirman tersebut sangat dirahasiakan. Kendati masyarakat mengetahuinya tidak ada satupun yang bercerita. Sebab hal itu dilarang, karena banyak sekali mata-mata Belanda di antara masyarakat setempat.

Hingga pada tengah malam, terdapat sekitar 10 anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) - saat ini menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI)- membawa tiga orang yang dinyakini sebagai mata-mata Belanda ke rumahnya.

Itu karena, kakak kandungnya tergabung dalam prajurit atau tentara yang mengamankan gerilya Jenderal Sudirman.

Sehingga, rumah yang ditinggalinya itu dijadikan posko keamanan untuk kesuksesan gerilya. Saat itu, silih berganti tentara di rumahnya menghajar tiga orang tersebut sambil menginterogasi agar mengaku siapa yang menyuruhnya dan informasi apa saja yang dibocorkan.

Setelah proses interogasi selesai, akhirnya tiga orang tersebut dibawa keluar rumah. “Namanya masih kecil, pastinya ada rasa takut dan kasihan setelah melihat ada orang yang dihajar hingga tak berdaya, ditangkap di mana, serta dibawa ke mana selanjutnya,” tutur pria yang saat peristiwa itu masih kelas I SD ini.

Sedangkan pada pagi harinya terlihat beberapa orang keluar masuk di rumah yang menjadi tempat peristirahatan Jenderal Sudirman.

Kemungkinan itu karena sang jenderal menyusun strategi untuk penyerangan dan berpindah tempat pada malam hari.

Waktu menunjukkan malam, sehingga Jenderal Sudirman beserta pengawalnya pergi dari tempat tersebut, untuk menuju daerah Bodag, Kecamatan Panggul.

Jenderal Sudirman hanya membawa ajudan setianya, juga prajurit yang nanti memikul tandunya. Sehingga sekitar 10 orang yang ikut ambil bagian dalam gerilya tersebut.

Selain itu, sekitar 300 meter terdapat pos-pos keamanan yang menggantikan pasukan sebelumnya dan menghantarkan Jenderal Sudirman ke perjalanan selanjutnya.

“Peristiwa itu selalu terngiang di ingatan saya, sebab kendati seorang jenderal beliau (Sudirman-red) tetap hidup sederhana dan terus berjuang untuk memperoleh kemerdekaan yang bukan untuknya sendiri,” jelas pensiunan Departemen Penerangan tahun 2000 ini. (and)


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler