Jeruk Impor Membanjiri Tanah Air, Begini Reaksi Politikus PKS Slamet

Rabu, 14 April 2021 – 22:58 WIB
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) drh Slamet. Foto: FPKS DPR

jpnn.com, SUKABUMI - Legislator PKS asal Sukabumi drh Slamet meminta pemerintah segera menghentikan importasi hortikultura pada komoditas jeruk yang telah memukul petani jeruk di beberapa wilayah termasuk di Kabupaten Bandung Barat.

Slamet mengaku mendapat keluhan dari petani jeruk saat mengawali masa reses ke daerah pemilihannya.

BACA JUGA: Ampuh Turunkan Kolesterol, Ini 6 Manfaat Jeruk Nipis Campur Serai

Menurut Slamet, petani mengeluhkan adanya jeruk impor masuk ke tanah air. Hal ini berdampak telah merusak harga di pasaran hingga tersisa seperlima harga biasanya.

“Keluhan petani jeruk kali ini sangat mengharukan. Kita bisa merasakan bagaimana harga jeruk yang biasa di beli perusahaan minuman seharga 35 ribu rupiah, kini cuma dihargai Rp 7 ribu,” ujar Slamet.

BACA JUGA: 7 Manfaat Ajaib Kulit Jeruk, Kolesterol Langsung Ambyar

Dia menilai rezim impor ini mesti segera sadar akan tujuan awal memimpin negara ini untuk berpihak pada rakyat kecil dan termasuk petani dan meminimalisasi kebijakan impor pangan, termasuk impor produk hortikultura.

Politikus PKS ini mengingatkan kembali akan komitmen pimpinan negara. Dia menyebut, Jokowi harus komitmen dengan ucapannya bahwa dia benci dengan produk asing. Pemerintah mesti segera menyelaraskan antara harapan dan kenyataan.

BACA JUGA: Reaksi Slamet PKS Soal Dana Bantuan Konservasi dan Perubahan Iklim

“Jangan bilang benci impor tetapi perizinan dan segala sesuatu mempermudah impor pangan malah dipermudah. Ini ujungnya yang sengsara rakyat kecil,” ujar Slamet.

Anggota DPR yang bermitra dengan kementerian pertanian ini sudah kerap kali mengingatkan baik dalam forum resmi rapat kenegaraan di DPR maupun pada forum-forum diskusi publik, agar negara ini selalu menyeimbangkan keputusan impor dengan realitas di lapangan.

Dia menyebut para petani jeruk akhirnya membiarkan produknya membusuk di kebun tak terpanen akibat sulit menemukan kenyataan produknya tidak dihargai dengan layak.

“Kalau pemerintah saja sudah tidak mau melindungi petani kita, lantas tugas pemerintah di mana?” tanya Slamet.

Menurut Slamet, para petani jeruk banyak yang resah akibat jeruknya kurang laku di pasar. Selain keresahan anjloknya harga, mereka ini mengeluh hasil panen jeruknya tidak ada yang membeli.

Seorang petani yang biasanya berpendapatan 24 juta dari 4 ton jeruk, kini mereka bukan saja menghadapi kenyataan harga terendah Rp 7 ribu, bahkan menghadapi tidak lakunya jeruk di pasaran.

Slamet mengingatkan pemerintah mesti segera mengubah kebijakan impor hortikultura ini.

“Saya sangat mengkahwatirkan prediksi Bappenas bila kebijakan impor ini terus dibiarkan. Profesi Petani Indonesia akan hilang atau sangat minim dengan jumlah penduduk hampir 300 juta ini. Padahal, potensi sumber daya alam negara ini lebih dari cukup untuk di kelola demi memenihi kebutuhan dalam negeri,” ujar drh Slamet.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler