Job Fair Bukan Solusi Atasi Pengangguran

Minggu, 23 Juli 2017 – 00:42 WIB
Ilustrasi job fair. Foto: Jawa Pos/JPNN

jpnn.com, TANGERANG - Pengamat Kebijakan Publik, Universitas Indonesia, Agus Pambagyo mengingatkan Pemkot Tangerang, Banteng, untuk tidak bangga menggelar kegiatan bursa kesempatan kerja alias Job Fair.

Pasalnya, program tersebut tidak dapat menyelesaikan masalah pengangguran yang terus meningkat.

BACA JUGA: Istri Pulang, Intip dari Jendela, Langsung Teriak Lihat Suaminya…Ya Ampun

Apalagi, para pencari kerja tersebut tak memiliki keahlian yang ditetapkan perusahaan sebagai syarat utama untuk masuk sebagai pekerja.

Agus Pambagyo menegaskan, pelaksanaan kegaiatan job fair oleh Pemkot Tangerang ini dianggap hanya untuk menutupi kelemahan kerja dari Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) yang tak mampu mengatasi masalah pengangguran.

BACA JUGA: Ribuan Pencari Kerja Serbu Jobfair STIE Perbanas

Mengingat persoalan pengangguran di kota tersebut terus meningkat setiap tahun. Dan untuk menghindari keluhan masyarakat maka bursa kerja dengan melibatkan puluhan perusahaan dilaksanakan.

”Memang ada cara pemerintah daerah ini menutupi kelemahan kerja sebuah instansi. Jadi jangan bangga jika bursa kerjanya di datangi banyak pencari kerja, karena hal itu tidak akan mengurangi angka pengangguran. Harusnya itu yang diperbaiki selain mengeluarkan program job fair,” kata Agus seperti diberitakan INDOPOS (Jawa Pos Group).

BACA JUGA: Wouw! Pengangguran Terbanyak Lulusan SMK dan Sarjana

Menurutnya, kesalahan telak yang dilakukan oleh Dinasker Kota Tangerang dalam mengurangi pengangguran itu adalah tidak memberdayakan balai latihan kerja (BLK) bagi pengganguran terbuka.

Sebab, dengan adanya keahlian yang dimiliki pencari kerja itu akan dapat menjadi nilai penting agar dapat diterima di perusahaan yang membutuhkan pegawai.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangerang, angka pengangguran tiap tahun meningkat. Pada tahun 2014 jumlah penangguran terbuka sebanyak 79.368 orang. Kemudian pada 2015 jumlah pengangguran itu naik menjadi 88.000 orang.

Tahun 2016 menjadi 90.001 orang. Pengangguran ini di dominasi dari kelulusan SMP, SMA/SMK, hingga Sarjana.

Sementara, jumlah lowongan yang dibutuhkan perusahaan setiap tahun hanya mencapai 4.000 lowongan. Akibatnya pengurangan angka pengangguran itu tak dapat dituntaskan.

Menyikapi itu, Kepala Dinasker Kota Tangerang, Rahmansyah mengklaim, jika jumlah pengganguran dengan program bursa kerja itu sangat efektif.

Karena animo masyarakat untuk bersaing masuk sebagai pekerja ke sejumlah perusahaan sangat besar. Dan perusahaan yang ikut program tersebut pun terus bertambah.

“Kami kira bursa kerja ini sangat efektif, ya memang pengurangan tidak besar tetapi tetap menurun angkanya. Kalau masalah punya keahlian atau tida, para pengangguran ini tinggal mendaftar ke BLK. Mungkin jika APBD sebesar APBN mungkin penuntasan pengangguran dapat diatasi dengan membuka lapangan kerja baru,” tuturnya.

Ditambahkan Ramansyah, penyelesaian masalah pengangguran tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah daerah maupun pusat.

Sebab, jumlah pertumbuhan penduduk dan lapangan kerja baru tidak sebanding. Dan untuk menyelesaikan ini pemerintah pusat harus mengeluarkan program pengendalian penduduk.

”Pemerintah pusat saja menyerah dengan pengentasan masalah pengangguran, apalagi pemerintah daerah. Masalah ini karena minimnya lapangan pekerjaan baru, dan tidak bangkitnya sektor UKM,” pungasnya. (cok)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pekerja Paling Banyak Tamatan SD


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler