Jokowi Ditantang Berani Naikkan Harga Karet Bengkulu

Jumat, 21 November 2014 – 18:30 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Kenaikan harga BBM mestinya juga berimbas secara positif terhadap harga jual produk petani di Provinsi Bengkulu. Dari harga BBM per liternya Rp 4.500, hingga Rp 8.500, yang namanya harga karet tetap saja Rp 5.000 per kilonya.

Hal itu dikatakan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), asal Provinsi Bengkulu, Ahmad Kanedi, dalam diskusi "BBM Naik, Siapa Untung/Rugi?", di press room DPD, Senayan Jakarta, Jumat (21/11).

BACA JUGA: Rini Bahas Kelanjutan Proyek Tol Trans Sumatera

"Dari harga BBM Rp 4.500 dan kini sudah Rp 8.500, harga karet di Bengkulu masih saja Rp 5.000 per kilo. Katanya Presiden Jokowi berpihak kepada petani. Buktikan dengan cara menaikkan harga jual karet di level petani menjadi minimal Rp 8.000 perkilonya. Kalau itu terjadi, wah, petani pasti senang," kata Ahmad Kanedi.

Menurut mantan Walikota Bengkulu itu, sejak 30 tahun lalu, Provinsi Bengkulu oleh pemerintah pusat didorong terus menjadi sentra penghasil karet di Indonesia. "Ini pemerintah kita 30 tahun belakangan ini aneh. Bibit dikasih terus, masyarakat disuruh bertani tapi hasilnya tidak pernah diproteksi yang kira-kira menguntungkan petani," tegasnya.

BACA JUGA: Mendag Minta Menhub Prioritaskan Pengiriman Bahan Pangan

Saat ini lanjutnya, Bengkulu tidak lagi butuh bibit karet. "Sebagai provinsi yang sudah memenangkan Jokowi di pilpres lalu, Bengkulu butuh pembelaan konkret dari Presiden Jokowi," ujarnya.

Dia katakan, meski Presiden Jokowi sudah menaikkan harga BBM, sampai saat ini elektabilitas Jokowi di Bengkulu masih bagus. "Sampai kini elektabilitas Jokowi masih bagus. Tapi kalau terlambat membela petani, bisa-bisa warga Bengkulu beralih ke lain hati," ungkapnya. (fas/jpnn)

BACA JUGA: Dua Menteri Bersamaan Kunjungi Pasar Klender

BACA ARTIKEL LAINNYA... Harga Sayur Mayur Naik 100 Persen


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler