Jokowi Harus Bentuk Konsensus Baru jika Terpilih

Minggu, 20 April 2014 – 19:59 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Ekonom Indonesia, Faisal Basri mendukung pencalonan Joko Widodo sebagai presiden Indonesia. Menurutnya, pria yang karib disapa Jokowi itu memiliki figur yang tidak mudah tergoda untuk pragmatis atau bagi-bagi kue kekuasaan.

"Karena dia (Jokowi) belajar dari pemerintahan sebelumnya. Kurang Indonesia Raya apa lagi pemerintahan SBY, didukung 6 parpol dan mayoritas di parlemen, tapi tetap tak efektif juga. Karena apa? Karena dasarnya dagang sapi," kata Faisal dalam diskusi "Sarasehan Menilai Jokowi, Jokowi di Mata Intelektual", yang dilaksanakan Komunitas Bulaksumur untuk Kemenangan (Blusukan) Jokowi, di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (20/4).

BACA JUGA: Tiga Nama Siap Gantikan Ical

Faisal lantas mendorong adanya norma perubahan dalam koalisi, bukan hanya bagi-bagi kursi pada pemerintahan baru yang akan menggantikan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kata dia, koalisi yang terbentuk harus memiliki agenda jelas.

Indonesia kata dia butuh konsensus-konsensus baru. Dengan langkah itu, Jokowi mendorong sistem presidensial berjalan dengan konsekuen, tak dikaburkan dengan praktik parlementer yang dilakukan selama ini.

BACA JUGA: Rapimnas Bisa Mengarah ke Pencopotan Ical

"Kalau DPR mbalelo saat Jokowi jadi presiden, rakyat nanti yang akan marah kalau DPR membelokkan agenda rakyat. Makanya saya harap rakyat tak hanya memilih saat pilpres, tapi kawal terus presidennya," jelas Faisal.

Dalam pandangan Faisal, Jokowi adalah seorang yang berlatar belakang pengusaha dari bawah sehingga paham betul apa yang harus dilakukan untuk menggerakkan UKM. "Kenapa? Karena dia datang dari kelas bawah, bukan konglomerasi atau penguasaan kelompok-kelompok kuat. Kalau kita biarkan Jokowi sendiri, dia hanya akan dikelilingi bandit-bandit besar lagi. Makanya kita harus tetap jaga dia, bahkan mendukung dengan dana. Karena dia milik kita bukan milik konglomerasi," tandasnya.

BACA JUGA: Komitmen Jokowi Berantas Korupsi Dinilai Cuma Retorika

Ditempat yang sama, Sosiolog Thamrin Amal Tomagola juga memuji Jokowi. Ia bercerita bahwa Jokowi adalah seorang calon pemimpin yang datang dari kelompok “Pondok Derita”, untuk membedakannya dari kelompok “Pondok Indah”. Dia lahir dan dibesarkan di lingkungan bantaran kali di Solo, dan rumah orang tuanya beberapa kali digusur.

Karena itu bisa dipahami ketika memimpin, Jokowi benar-benar turun ke rakyat, dan rakyat pun bisa melihat ketulusan di matanya secara langsung. "Saya yakin Jokowi akan memimpin dengan hati. Dia ke Papua dan mengatakan, 'Wahai kawanku Orang Papua, kita harus selesaikan masalah Papua dengan hati'," kata Thamrin.

Thamrin menilai Jokowi-lah figur yang akan membawa Indonesia membangun, tanpa perlu membuat perencanaan-perencanaan yang proyeknya hanya dibagi ke birokrat-birokrat korup. "Jokowi tak seperti itu, dia mengerjakan segala sesuatunya dengan hati," tegasnya. (jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Komitmen Jokowi Berantas Korupsi Dinilai Cuma Retorika


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler