Jujur soal COVID-19, Kiai Said Dinilai Tunjukkan Sikap Negarawan

Senin, 30 November 2020 – 16:53 WIB
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Foto: arsip jpnn.com/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengakui positif terinfeksi virus corona (Covid-19). Said Aqil juga memohon doa dari segenap masyarakat, warga Nahdliyin, khususnya para kiai untuk kesembuhannya.

Demikian keterangan yang disampaikan langsung sekretaris pribadi Said Aqil, M Sofwan Erce, melalui video yang diunggah di akun Youtube Kang Said Official, Minggu (29/11).

BACA JUGA: Setelah Terkonfirmasi Positif COVID-19, Said Aqil Menyarankan Mahfud Menjalani Swab

Pengamat Politik, Hukum dan Keamanan Dr Dewinta Pringgodani SH MH memuji sikap jujur Said Aqil yang terbuka positif Covid-19.

"Said Aqil telah memperlihatkan sikap sportif dan negarawan serta ulama yang berani menyampaikan kebenaran," kata Dewinta  melalui keterangan tertulis, Senin (30/11).

BACA JUGA: Kiai Said Aqil Positif COVID-19, Begini Kondisinya saat Ini

Menurut Dewinta, keterbukaan Said Aqil soal penyakitnya akan membantu Satgas Covid-19 melakukan penelusuran kontak atau tracing.

"Pasien juga akan dirawat secara benar, sehingga tidak membahayakan orang lain," kata Dewinta.

BACA JUGA: Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj Kena Covid-19, Mari Berdoa untuk Kesembuhannya

Disisi lain, Dewinta menyesalkan sikap Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab atau HRS yang menyurati Walikota Bogor Bima Arya agar tak membuka hasil tes swabnya ke publik.

"Sangat disesalkan sikap HRS yang menolak untuk dilakukan penelusuran kontak, mengingat yang bersangkutan pernah melakukan kontak erat dengan pasien Covid-19," kata Dewinta melanjutkan.

Dewinta menekankan seluruh masyarakat, siapapun itu, harus kooperatif dalam penanganan Covid-19. Termasuk bersedia mengikuti tahapan testing, tracing dan treatment (3T).

Menurut Dewinta, mengutip penegasan Satgas Covid-19 Kota Bogor bahwa mereka  tidak bermasksud mengusik privasi Habib Rizieq Shihab, terkait hasil tes swab Covid-19. Petugas hanya ingin hasil tes swab itu disampaikan untuk dilakukan pendataan.

"Hasil pelaksanaan 3T dipakai oleh petugas kesehatan untuk mengakses informasi, data dan kontak erat pasien jika terkonfirmasi positif. Makin disembunyikan makin membahayakan orang lain," kata Dewinta.

Dari kasus ini, Dewinta mengungkapkan, ada perbedaan mencolok dua tokoh ulama dalam menghadapi Covid-19.

"Kalau memang HRS negatif mengapa harus disembunyikan?  Kalau pun positif,  makin disembunyikan  makin dapat membahayakan orang lain. Apalagi dengan menyembunyikan dirinya yang entah ada dimana, setelah  keluar dengan keinginan sendiri dari RS Ummi. Disini kita bisa menilai mana yang benar," tutup Dewinta.

Seperti dikutip dari NU Online, Said Aqil sempat menyatakan bahwa terinfeksi Covid-19 bukanlah aib ataupun hal buruk. 

Virus tersebut, kata dia, bisa mengenai siapa saja, dari latar belakang apa saja. Oleh karena itu, ia mengajak untuk menjaga pesannya, yakni dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, jangan lupa cuci tangan, pakai masker, dan jaga jarak. (dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler