Jumlah WNI yang Pernah Jadi Petempur Asing Sangat Banyak, Sebegini yang Sudah Terdata

Selasa, 28 Desember 2021 – 18:29 WIB
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang pernah menjadi petempur asing (FTF) di luar negeri, cukup banyak.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Boy Rafli Amar, verifikasi terhadap identitas mereka terhambat sejak pandemi COVID-19 merebak.

BACA JUGA: Pelaku Diduga Terinfeksi HIV AIDS, Semoga 12 Anak Laki-laki yang Jadi Korban Tak Apa-apa

Terutama WNI yang pernah menjadi petempur asing di berbagai negara kawasan Asia Barat, seperti Irak dan Suriah.

Meski demikian, pemerintah telah memverifikasi identitas 529 WNI yang tersebar di berbagai negara, terutama kamp-kamp pengungsi di perbatasan Irak dan Suriah, sepanjang 2021.

BACA JUGA: Peringatan dari BMKG Bagi Masyarakat Sulut, Penting

Verifikasi dilakukan melalui Satuan Tugas (Satgas) Penanganan FTF (petempur asing).

"Selama 2021 kami melakukan validasi (verifikasi identitas) bersama Ditjen Imigrasi, Bea Cukai dan Densus 88 terhadap WNI di zona konflik di Suriah," ujar Kepala BNPT saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (28/12).

BACA JUGA: Keren Banget 5 Alutsista Terbaru TNI, dari Kapal Cepat Rudal Hingga Helikopter

Boy saat ini juga bertugas sebagai Ketua Satgas Penanganan FTF.

Dia mengatakan ada 2.217 WNI yang terkait dengan FTF di Irak dan Suriah, 35 WNI di Filipina, dan 23 WNI di Afghanistan.

Dari jumlah itu, tidak semua WNI merupakan eks kombatan atau petempur, beberapa di antaranya merupakan anak-anak dan istri mereka.

"Anak-anak yang berusia di bawah 10 tahun ada 80-an, (kemungkinan) 82 orang. Anak-anak yang usianya lebih dari 10 tahun sebanyak 300-an orang," kata Boy Rafli.

BNPT bersama lembaga lainnya yang tergabung dalam Satgas Penanganan FTF terus berupaya memverifikasi identitas WNI sebelum membuat kebijakan selanjutnya kepada mereka.

"Jadi, sangat penting sebelum ada keputusan lebih lanjut melakukan verifikasi dan asesmen terhadap mereka."

"Proses ini secara kondisi mengalami kendala karena masalah kepergian ke daerah-daerah tersebut membutuhkan suasana yang memungkinkan ini terus diperjuangkan," kata Kepala BNPT.

Menurut Boy, Indonesia bukan satu-satunya negara yang menghadapi masalah FTF di luar negeri.

Indonesia mengupayakan ada kerja sama dengan lembaga internasional dan badan-badan intelijen untuk saling bertukar informasi.

"Kami sharing (berbagi) informasi dengan mereka termasuk dari negara-negara kawasan Arab, termasuk Irak. Kami update data-datanya," katanya.

Boy berharap pandemi segera terkendali sehingga verifikasi dapat cepat rampung.

"Kami berharap dengan kondisi pandemi lebih bagus sehingga membuat kami lebih leluasa perjalanan ke luar negeri dan melakukan aktivitas verifikasi data karena memang perlu meyakinkan status (kewarganegaraan)," pungkas Boy.(Antara/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler